Hallo Sport

Indonesia Tuan Rumah Kejuaraan Lari Trail Asia Tenggara 2026, 130 Atlet Elite ASEAN Berlaga di Gunung Gede Pangrango

41
×

Indonesia Tuan Rumah Kejuaraan Lari Trail Asia Tenggara 2026, 130 Atlet Elite ASEAN Berlaga di Gunung Gede Pangrango

Sebarkan artikel ini

Hallonusantara.com || CIANJUR — Indonesia kembali dipercaya menjadi tuan rumah ajang olahraga internasional. Sebanyak 130 atlet elite dari sembilan negara Asia Tenggara mengikuti Southeast Asian Trail Running Championship (SEATRC) II 2026 yang digelar di kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP), Jawa Barat, pada 24–25 Juli 2026.

Kejuaraan lari trail tingkat Asia Tenggara tersebut secara resmi dibuka oleh Bupati Cianjur dr. M. Wahyu Ferdian. Dalam sambutannya, Bupati menyatakan penyelenggaraan SEATRC II menjadi kebanggaan bagi Indonesia sekaligus Kabupaten Cianjur karena dipercaya menjadi lokasi kompetisi internasional yang mempertemukan atlet-atlet terbaik kawasan ASEAN.

Menurutnya, kepercayaan tersebut menunjukkan pengakuan terhadap kualitas jalur lari Gunung Gede Pangrango yang dikenal memiliki karakter teknis, sekaligus membuka peluang promosi pariwisata, olahraga, dan perekonomian daerah melalui sport tourism.

SEATRC II merupakan edisi kedua setelah kejuaraan perdana berlangsung di Filipina pada 2024. Indonesia ditetapkan sebagai tuan rumah berdasarkan keputusan federasi lari trail negara-negara Asia Tenggara.

Sekretaris Umum Pengurus Pusat Asosiasi Lari Trail Indonesia (PP ALTI), Doni Gardal Adian, mengatakan seluruh peserta merupakan atlet nasional terbaik yang telah lolos proses seleksi sesuai standar International Trail Running Association (ITRA).

“Kejuaraan ini merupakan Southeast Asian Trail Running Championship yang kedua. Setelah penyelenggaraan pertama di Filipina, Indonesia dipercaya menjadi tuan rumah dengan lokasi perlombaan di kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango,” kata Doni, Jumat (24/7/2026).

Ia menjelaskan para peserta bukan pelari umum, melainkan atlet yang mewakili negaranya setelah memenuhi persyaratan indeks performa, pengalaman bertanding, serta hasil seleksi nasional.

“Seluruh atlet yang tampil telah melalui proses seleksi sesuai standar ITRA sehingga kejuaraan ini merupakan kompetisi resmi antarnegara,” ujarnya.

Kejuaraan diikuti kontingen dari Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, Filipina, Myanmar, Kamboja, Brunei Darussalam, serta satu negara ASEAN lainnya sesuai daftar resmi panitia.

Panitia mempertandingkan empat nomor, yakni Vertical Race 7 kilometer, Mountain Classic 10 kilometer, Trail Short 42 kilometer, dan Trail Long 75 kilometer.

Seluruh lintasan memanfaatkan jalur alami Taman Nasional Gunung Gede Pangrango yang melintasi kawasan Cibodas, Air Terjun Cibeureum, Kandang Badak, Surya Kencana, Gunung Gede, Gunung Putri, Selabintana, Tanah Merah, Mandalawangi hingga kawasan hutan pegunungan. Jalur tersebut dikenal memiliki tanjakan curam, perubahan elevasi yang tinggi, serta medan teknis yang menjadi tantangan utama para atlet.

Untuk mendukung keselamatan perlombaan, panitia menempatkan personel pengamanan dan marshal di sedikitnya 19 titik strategis sepanjang lintasan. Pos pengamanan tersebar mulai dari Panyancangan, Cibeureum, Kandang Badak, Tanjakan Rantai, Surya Kencana Tengah, Resort Selabintana, Shelter Cigeber, Pos 3 Buntut Lutung hingga Tanah Merah.

Panitia juga menyiapkan pusat koordinasi yang terdiri atas ruang technical meeting, komite perlombaan, logistik, akreditasi, ruang atlet, ruang VIP, pusat informasi, hingga tim medis untuk memastikan seluruh rangkaian kompetisi berjalan sesuai standar internasional.

Seluruh atlet diwajibkan menjalani pemeriksaan perlengkapan keselamatan sebelum dan sesudah lomba. Perlengkapan wajib meliputi jaket antiair, telepon seluler aktif, cadangan air minum, makanan darurat, peluit, perlengkapan pertolongan pertama, selimut darurat, perban elastis, dan lampu kepala. Khusus peserta nomor Trail Long 75 kilometer, panitia mewajibkan penggunaan GPS Tracker, baterai cadangan, pakaian lengan panjang, dan celana panjang sebagai bagian dari standar keselamatan.

Panitia menegaskan peserta yang tidak memenuhi ketentuan perlengkapan keselamatan dapat dikenai sanksi hingga diskualifikasi sesuai regulasi kejuaraan.

Selain menjadi ajang perebutan gelar juara Asia Tenggara, penyelenggaraan SEATRC II 2026 diharapkan memperkuat pembinaan atlet lari trail nasional sekaligus meningkatkan promosi destinasi wisata alam Indonesia di tingkat internasional.

“Kami berharap seluruh atlet menjunjung tinggi sportivitas, saling membantu di lintasan, dan mengutamakan keselamatan selama bertanding. Medan Gunung Gede Pangrango memiliki tingkat kesulitan teknis yang tinggi sehingga kesiapan fisik dan kepatuhan terhadap prosedur keselamatan menjadi hal yang sangat penting,” kata Doni.

(Bet)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses