Peristiwa

Ahli Geologi ITB: Kebakaran Kawah Wadon Perlu Diwaspadai karena Bisa Picu Erosi dan Longsor

34
×

Ahli Geologi ITB: Kebakaran Kawah Wadon Perlu Diwaspadai karena Bisa Picu Erosi dan Longsor

Sebarkan artikel ini

Hallonusantara.com || CIANJUR — Kebakaran di kawasan Kawah Wadon, Gunung Gede, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, dinilai terutama berdampak terhadap kondisi permukaan. Meski tidak menunjukkan pengaruh langsung terhadap sistem geologi bawah permukaan, kondisi pascakebakaran tetap perlu dipantau untuk mengantisipasi perubahan tanah, kestabilan lereng, hingga sistem aliran air.

Dosen Program Studi Teknik Geologi, Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB), Institut Teknologi Bandung (ITB), Ir. Niniek Rina Herdianita, M.Sc., Ph.D., mengatakan kebakaran merupakan proses eksogen, yakni proses yang berlangsung dan memengaruhi permukaan bumi.

Hal itu disampaikan Niniek dalam wawancara khusus dengan Hallonusantara.com, Sabtu (15/8/2026).

Menurut Niniek, dalam ilmu geologi terdapat dua proses utama yang membentuk dan mengubah permukaan bumi, yakni proses endogen yang berasal dari dalam bumi dan proses eksogen yang berlangsung di permukaan.

Kebakaran di kawasan Kawah Wadon termasuk proses eksogen yang dapat mengubah karakteristik tanah dan batuan permukaan serta memengaruhi kestabilan lereng dan sistem aliran air.

“Secara tidak langsung, kondisi bawah permukaan dapat saja terpengaruh, misalnya saat kebakaran membuat perubahan karakteristik tanah dan hutan, kemungkinan akan membuat lereng menjadi tidak stabil dan longsor,” ujar Niniek.

Karena itu, pemantauan pascakebakaran diperlukan secara berkala. Pemantauan dapat mencakup perubahan permukaan tanah, kemungkinan pergeseran, kestabilan lereng, serta perkembangan luasan area terdampak.

Analisis citra satelit secara berkala juga dapat dimanfaatkan untuk mengetahui perubahan kawasan yang terbakar sekaligus memantau perkembangan kondisi permukaan.

Selain kondisi tanah dan lereng, kualitas serta kuantitas air di sekitar kawasan terdampak perlu diperhatikan. Pemeriksaan dapat mencakup tingkat kekeruhan, pH, unsur terlarut, hingga perubahan debit aliran sungai atau mata air.

Perubahan Pascakebakaran Perlu Dibedakan dari Aktivitas Vulkanik

Niniek mengatakan setiap perubahan yang ditemukan setelah kebakaran perlu dianalisis untuk memastikan apakah berkaitan dengan kebakaran atau merupakan bagian dari proses alami Gunung Gede.

Menurut dia, proses eksogen dan endogen memiliki karakteristik berbeda. Proses di permukaan berlangsung dalam lingkungan oksidasi yang dapat menghasilkan mineral hasil oksidasi, sedangkan proses di bawah permukaan berlangsung dalam kondisi yang berbeda.

“Bagaimana ahli geologi membedakan perubahan yang disebabkan oleh kebakaran dengan perubahan yang berasal dari aktivitas alami Gunung Gede? Prosesnya berbeda, proses di permukaan berbeda di lingkungan oksidasi, karena itu akan membentuk mineral-mineral hasil oksidasi,” katanya.

Selain perubahan mineral, kualitas air dapat menjadi salah satu parameter untuk memantau perubahan lingkungan setelah kebakaran.

Niniek menambahkan, perubahan yang dipicu proses eksogen pada umumnya dapat berlangsung lebih cepat dibandingkan perubahan yang berkaitan dengan proses endogen.

Berbeda dengan Kebakaran Lapisan Batubara

Niniek juga menjelaskan bahwa karakter kebakaran di Gunung Gede berbeda dengan kebakaran pada kawasan yang memiliki lapisan batubara.

Pada wilayah yang memiliki lapisan batubara, api dapat menjalar hingga bawah permukaan karena material organik tersebut mudah terbakar. Kondisi itu memungkinkan kebakaran tetap berlangsung di bawah tanah meskipun api di permukaan telah dipadamkan.

“Jika di lingkungan batubara, kasus kebakaran ini lebih bahaya, karena kita punya lapisan batubara yang mudah terbakar menerus hingga di bawah permukaan. Jadi meskipun di permukaan api sudah padam, kemungkinan besar api masih ada di lapisan batubara di bawah permukaan,” ujar Niniek.

Namun, kondisi tersebut berbeda dengan kawasan Gunung Gede. Menurut dia, tidak terdapat lapisan organik seperti batubara yang dapat menjadi sumber kebakaran bawah permukaan.

“Untuk kasus Gunung Gede, dampaknya hanya di permukaan, kita tidak punya batuan organik seperti batubara di bawah,” katanya.

Rehabilitasi Kawasan Perlu Dilakukan

Penanganan kebakaran tidak berhenti setelah api berhasil dikendalikan. Kondisi kawasan perlu dipulihkan untuk mengurangi kemungkinan munculnya dampak lanjutan, terutama erosi dan ketidakstabilan lereng.

Niniek mengatakan rehabilitasi tanah dan penanaman kembali vegetasi dapat menjadi bagian dari upaya pemulihan kawasan.

“Langkah penanggulangan untuk mencegah kerusakan di permukaan yang dapat menimbulkan bahaya longsor dan erosi tentu saja dengan mengembalikan kondisinya secepat mungkin,” katanya.

Kestabilan lereng juga perlu menjadi perhatian, termasuk potensi longsor dan jatuhan batu pada lokasi yang mengalami perubahan tutupan vegetasi akibat kebakaran.

Dengan demikian, pemantauan Kawah Wadon pascakebakaran tidak hanya diperlukan untuk memastikan tidak ada bara api yang kembali muncul. Kondisi tanah, lereng, kualitas air, serta sistem aliran air juga perlu diamati untuk mengetahui kemungkinan perubahan lingkungan akibat kebakaran.

Pemantauan tersebut menjadi penting terutama menjelang periode dengan curah hujan tinggi, ketika kawasan yang kehilangan tutupan vegetasi lebih rentan mengalami erosi dan gangguan kestabilan lereng.

(Bet)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses