Hallonusantara.com || Cianjur – Video yang memperlihatkan banyak ikan mati di kawasan Jangari, Waduk Cirata, Kabupaten Cianjur, viral di media sosial. Peristiwa tersebut memicu perhatian masyarakat dan kekhawatiran para pembudidaya ikan, terutama di tengah kondisi cuaca panas yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir.
Menanggapi kondisi tersebut, Dinas Peternakan, Kesehatan Hewan, dan Perikanan (DPKHP) Kabupaten Cianjur menjelaskan bahwa kematian ikan di keramba jaring apung diduga berkaitan dengan fenomena upwelling, yakni naiknya massa air beserta endapan dari dasar perairan ke permukaan yang umumnya terjadi saat pergantian musim.
Kepala DPKHP Kabupaten Cianjur, Iwan Setiawan, mengatakan fenomena tersebut hampir terjadi setiap tahun, baik saat peralihan musim hujan ke kemarau maupun sebaliknya.
“Fenomena ini memang terjadi hampir setiap tahun saat pergantian musim. Sedimentasi yang berada di dasar naik ke permukaan sehingga menjadi racun bagi ikan. Kondisi ini seharusnya sudah dipahami para pembudidaya ikan agar dapat melakukan antisipasi,” ujarnya. Minggu. 19/7/2026.
Menurut Iwan, perubahan kualitas air akibat upwelling dapat menyebabkan kadar oksigen terlarut menurun serta memunculkan zat-zat yang berbahaya bagi ikan budidaya. Akibatnya, ikan di dalam keramba yang tidak dapat berpindah tempat menjadi lebih rentan mengalami stres, mabuk, hingga mati.
Ia menambahkan, pembudidaya yang menunda masa panen menjadi kelompok yang paling berisiko mengalami kerugian ketika fenomena tersebut terjadi. Karena itu, DPKHP terus melakukan sosialisasi kepada para petani ikan agar mempercepat panen apabila terdapat indikasi perubahan cuaca yang berpotensi memicu upwelling.
“Kami terus melakukan sosialisasi agar para petani dapat mengantisipasi lebih awal sehingga kerugian akibat kematian ikan dapat ditekan,” katanya.
Sebagai bentuk dukungan kepada masyarakat, DPKHP juga menyediakan bantuan benih ikan yang diproduksi melalui Balai Benih Ikan milik Pemerintah Kabupaten Cianjur. Bantuan tersebut dapat diajukan oleh masyarakat sesuai dengan kapasitas produksi yang tersedia.
“Kalau untuk bantuan benih kami siap. Masyarakat bisa mengajukan permohonan kepada pemerintah daerah dan akan disesuaikan dengan kapasitas produksi Balai Benih Ikan. Namun untuk penggantian kerugian akibat kematian ikan saat ini belum ada programnya,” jelas Iwan.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa ikan liar umumnya memiliki kemampuan bertahan hidup yang lebih baik dibandingkan ikan budidaya di keramba karena dapat berpindah ke lokasi perairan dengan kualitas air yang lebih baik.
“Ikan liar seperti gabus biasanya lebih tahan karena secara naluri dapat berpindah mencari perairan yang lebih baik. Sementara ikan yang dipelihara di keramba tidak memiliki ruang untuk berpindah sehingga lebih rentan terdampak,” ujarnya.
Terkait keberadaan ikan sapu-sapu di perairan umum, Iwan menyebut populasinya di wilayah Kabupaten Cianjur masih relatif terkendali. Namun apabila di masa mendatang dinilai mengganggu keseimbangan ekosistem, DPKHP akan berkoordinasi dengan instansi terkait untuk menentukan langkah penanganan.
“Kalau nantinya ikan sapu-sapu sudah menjadi hama, tentu akan kami koordinasikan dengan Dinas Lingkungan Hidup. Namun sejauh ini kondisinya masih relatif aman,” pungkasnya.
Peristiwa ikan mati di kawasan Jangari yang ramai diperbincangkan di media sosial menjadi pengingat bagi para pembudidaya untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap perubahan cuaca dan kualitas air. DPKHP mengimbau masyarakat agar tidak langsung menyimpulkan penyebab kematian ikan hanya dari kondisi cuaca panas, melainkan memperhatikan faktor perubahan kualitas perairan, termasuk fenomena upwelling yang memang kerap terjadi pada masa pergantian musim.
(Bet)














