HukumKesehatanKriminal

Pabrik Pil Ilegal Bandung Dibongkar, Kapasitas Produksi Tembus 8 Juta Butir Sehari

35
×

Pabrik Pil Ilegal Bandung Dibongkar, Kapasitas Produksi Tembus 8 Juta Butir Sehari

Sebarkan artikel ini

HALLO NUSANTARA || BANDUNG — Polda Jawa Barat membongkar fasilitas produksi obat keras ilegal di kawasan pergudangan Bizpark, Kopo, Kota Bandung. Dalam pengungkapan kasus ini, polisi menyita 600 ribu butir pil Hexymer yang diduga siap diedarkan, peralatan produksi, serta bahan baku yang diperkirakan mampu menghasilkan ratusan juta butir obat.

Kasus tersebut terungkap setelah polisi menangkap seorang tersangka di Rest Area KM 125 Tol Purbaleunyi, Jumat (16/10/2026), sekitar pukul 18.00 WIB. Tersangka diduga membawa ratusan ribu butir pil untuk dikirim ke Jakarta.

Penangkapan itu menjadi pintu masuk bagi penyidik untuk menelusuri lokasi produksi. Polisi kemudian menggerebek tiga lokasi di kompleks pergudangan Bizpark dan mengamankan empat orang lainnya. Total lima tersangka diamankan dalam perkara tersebut.

Kapolda Jawa Barat Inspektur Jenderal Hengki menyampaikan pengungkapan kasus itu pada Minggu (18/10/2026). Menurut dia, para tersangka diduga memiliki peran berbeda, mulai dari pemesanan dan peracikan bahan hingga pengantaran serta koordinasi pengiriman obat.

Di lokasi penggerebekan, petugas menemukan pil Hexymer dan Tramadol, bahan baku kimia, mesin pencetak, serta peralatan pemanas dan pengering. Polisi juga menyita telepon seluler, laptop yang memuat data penjualan, dan buku rekening yang diduga berkaitan dengan kegiatan tersebut.

Kapasitas produksi delapan juta butir per hari

Berdasarkan pemeriksaan awal, mesin yang ditemukan di lokasi diperkirakan mampu memproduksi hingga delapan juta butir pil per hari. Sementara itu, bahan baku yang tersedia disebut berpotensi menghasilkan sekitar 250 juta hingga 256 juta butir obat.

Besarnya kapasitas produksi tersebut belum menggambarkan jumlah obat yang benar-benar telah diproduksi atau beredar di masyarakat. Polisi masih perlu memastikan berapa lama fasilitas itu beroperasi, volume produksi aktual, dan jumlah obat yang telah dikirim kepada pembeli.

Penyidik juga menelusuri asal-usul bahan baku, sumber pendanaan, serta jalur distribusi yang diduga digunakan para tersangka. Data penjualan dalam perangkat elektronik dan catatan transaksi keuangan menjadi bagian penting untuk mengurai kemungkinan keterlibatan pihak lain.

Jaringan pemasok dan pembeli masih ditelusuri

Meski lima orang telah diamankan, struktur jaringan di balik fasilitas produksi tersebut belum sepenuhnya terungkap. Identitas pemasok utama, pemodal, pemesan, dan pihak yang diduga mengendalikan distribusi masih memerlukan pendalaman penyidik.

Polisi perlu memastikan apakah kegiatan produksi itu hanya melayani pesanan tertentu atau terhubung dengan jaringan peredaran obat keras ilegal yang lebih luas. Dugaan keterlibatan pihak lain juga harus dibuktikan melalui pemeriksaan saksi, penelusuran transaksi, dan analisis barang bukti digital.

Pengungkapan ini tidak hanya menyangkut penyitaan ratusan ribu butir pil, tetapi juga penelusuran rantai pasokan yang memungkinkan fasilitas tersebut memperoleh bahan baku, menjalankan produksi, dan mengirimkan produk kepada pembeli.

Hingga pengungkapan kasus tersebut diumumkan, penyidikan masih berlanjut untuk mengidentifikasi peran setiap tersangka serta menelusuri asal dan tujuan distribusi obat. Polisi belum mengungkap secara lengkap jangkauan peredaran maupun jumlah produk yang telah masuk ke pasar.

(Bet)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses