Peristiwa

Asap Masih Muncul di Kawah Wadon, Tim Temukan Bara Tersembunyi di Akar Cantigi

33
×

Asap Masih Muncul di Kawah Wadon, Tim Temukan Bara Tersembunyi di Akar Cantigi

Sebarkan artikel ini

Hallonusantara.com || CIANJUR — Penanganan kebakaran di kawasan Kawah Wadon, Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP), Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, masih berlanjut. Tim gabungan menemukan sejumlah titik asap dan bara yang tersimpan di bawah permukaan, terutama pada bagian akar pohon cantigi di kawasan terdampak.

Temuan tersebut menjadi perhatian dalam proses pemantauan karena titik bara tidak selalu terlihat sebagai kobaran api terbuka. Kondisi ini membuat penyisiran dan pemantauan secara berkala tetap dilakukan untuk mencegah munculnya kembali api dan meluasnya area terdampak.

Balai Besar TNGGP pada Jumat (14/8/2026) menambah 26 personel untuk memperkuat penanganan di lapangan. Personel tambahan berasal dari Balai Besar TNGGP, Manggala Agni, Brimob, Masyarakat Peduli Api (MPA), dan relawan.

Penambahan personel dilakukan untuk memperkuat penyisiran, pemantauan serta penanganan titik asap dan bara berdasarkan kondisi aktual di lapangan.

Dalam penyisiran di bagian atas tebing Kawah Wadon, tim pertama menemukan tiga titik asap. Setelah diperiksa, asap diketahui berasal dari akar pohon cantigi yang masih menyimpan bara di dalam tanah.

Pada titik tersebut, petugas tidak menemukan kobaran api terbuka. Namun, keberadaan bara di dalam material vegetasi dan tanah tetap ditangani untuk mengantisipasi kemungkinan munculnya api kembali.

Tim kedua yang melakukan penyisiran di lokasi berbeda menemukan tujuh titik asap lainnya. Seluruh titik tersebut kemudian ditangani oleh petugas.

Penyisiran dan pemantauan dilakukan hingga sekitar pukul 16.00 WIB. Setelah kegiatan lapangan selesai, personel kembali ke Pos Kandang Badak untuk beristirahat sebelum melanjutkan kegiatan penanganan berikutnya.

Penanganan kebakaran di Kawah Wadon tidak berlangsung mudah karena lokasi terdampak berada pada ketinggian sekitar 2.500-2.600 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Topografi kawasan didominasi medan curam hingga sangat curam. Akses menuju lokasi ditempuh melalui jalur pendakian Gunung Gede Pangrango hingga Shelter Kandang Badak dengan jarak sekitar 7 kilometer.

Dari Shelter Kandang Badak, petugas masih harus berjalan sekitar 1,5 kilometer melalui jalur darurat dengan kondisi medan curam hingga sangat curam untuk mencapai kawasan terdampak.

Kondisi geografis tersebut turut memengaruhi mobilisasi personel, peralatan, serta kebutuhan air untuk penanganan titik bara.

Sumber air terdekat yang dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan pemadaman berada di sekitar Shelter Kandang Badak, dengan jarak sekitar 1,5 kilometer dari lokasi terdampak.

Karena itu, penanganan dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan efektivitas penanganan sekaligus keselamatan personel.

Selain penyisiran langsung, Balai Besar TNGGP melakukan pemantauan udara menggunakan drone thermal bersama Wanadri dan Asosiasi Pilot Drone Indonesia (APDI).

Penerbangan pertama dilakukan sekitar pukul 08.00 WIB, kemudian penerbangan kedua sekitar pukul 14.00 WIB. Teknologi thermal digunakan untuk membantu mengidentifikasi indikasi panas yang masih berada di sekitar kawasan terdampak.

Hasil pemantauan udara menunjukkan masih terdapat sejumlah titik panas di kawasan tersebut. Data hasil pemantauan kemudian ditinjau secara langsung oleh Direktur Kawasan Konservasi, Sapto Aji Prabowo, S.Hut., M.Si.

Informasi dari drone thermal selanjutnya dipadukan dengan hasil pemeriksaan dan penyisiran langsung di lapangan. Data tersebut menjadi bagian dari bahan evaluasi untuk menentukan langkah penanganan berikutnya.

Penggunaan teknologi pemantauan udara juga memungkinkan petugas memperoleh gambaran mengenai kondisi kawasan yang sulit dijangkau secara langsung, terutama pada medan dengan kemiringan tinggi.

Balai Besar TNGGP menyatakan pemantauan lapangan dan penggunaan drone thermal akan terus dilakukan sesuai perkembangan kondisi kawasan. Langkah tersebut diarahkan untuk memastikan titik asap maupun bara yang masih ditemukan dapat dipantau dan ditangani secara tepat.

Di sisi lain, dukungan terhadap penanganan kebakaran terus datang dari berbagai unsur, mulai dari warga, relawan, komunitas, organisasi, petugas lintas instansi, TNI, Polri, RSUD Cimacan, pemerintah daerah, pemerintah desa, hingga berbagai pihak lainnya.

Dukungan tersebut meliputi kebutuhan personel dan operasional di lapangan, sarana komunikasi, pemantauan kawasan, serta bantuan logistik bagi petugas dan relawan yang terlibat dalam penanganan kebakaran.

Hingga Sabtu (15/8/2026), pemantauan terhadap kawasan Kawah Wadon masih dilakukan untuk memastikan tidak terdapat perkembangan titik api baru maupun bara yang berpotensi kembali memicu kebakaran.

(Bet)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses