Hallonusantara.com || GARUT – Setelah sempat anjlok karena dampak dari pandemi Covid-19 di tahun-tahun kemarin. Sekarang untuk harga buah kopi diketahui melambung tinggi.
“Dulu, waktu zaman Corona harga buah kopi sangat murah. Akibat dari banyak warung-warung kopi atau kafe yang tutup karena aturan PPKM, terus tidak adanya ekspor,” kata Haji Ubun Petani kopi di lereng Gunung Papandayan, saat diwawancarai awak media Hallonusantara, Selasa (28-03-2023).
“Harganya sempat anjlok, Rp 4000,- . Padahal harga normal saat itu di kisaran Rp.6000,- sampai Rp. 8000 per kilogramnya. Sekarang alhamdulillah, setelah wabah Corona hampir sirna, ekspor kembali dibuka. Para petani kopi seperti saya, bisa bernapas lega,” imbuh Ubun.
“Harga sekarang mencapai di kisaran 13 ribu sampai 15 ribu rupiah per kilogramnya,” timpalnya.
Perlu diketahui, selain tiadanya lagi Corona, faktor cuaca musim hujan seperti sekarang ini yang mempengaruhi kualitas hingga berakibat kelangkaan buah kopi hingga harga jual menjadi tinggi. Dimana, tak sedikit Petani yang gagal panen akibat bunga bakal buah kopi yang membusuk. Dan persoalan lain seperti hasil panen yang tidak kering ketika dijemur.
“Curah hujan yang tinggi, bahkan sekarang hampir tiap hari turun hujan. Mengakibatkan kopi dengan kualitas bagus sulit didapat,” tutur Dede Hadiana Perosting (pengolah) kopi sakaligus pemilik kedai “Buruan Khoffe” yang ada di jalan Cagak, arah Kawah Papandayan Garut.
“Langkanya barang di pasaran, otomatis harga semakin naik. Harga kopi semakin tidak terkendali. Diduga setelah banyak pengepul ‘pemain’ baru, suruhan perusahaan asing. Yang bermain dalam pengendalian harga dan bahan baku Cherry Kopi. Sementara dari Asosiasi Petani Kopi Indonesia belum ada tindakan sama sekali,” sambung Dede. (Yanto)













