Pendidikan

Literasi Digital Diperkuat, Siswa SMAN 1 Sukaresmi Diingatkan Waspadai Hoaks dan Konten AI

67
×

Literasi Digital Diperkuat, Siswa SMAN 1 Sukaresmi Diingatkan Waspadai Hoaks dan Konten AI

Sebarkan artikel ini

Hallonusantara.com || Cianjur — Pelajar SMAN 1 Sukaresmi, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, mendapatkan edukasi literasi digital dari Kepolisian Resor (Polres) Cianjur. Edukasi tersebut membahas penggunaan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), penyaringan informasi digital, serta kewaspadaan terhadap penyalahgunaan teknologi.

Kegiatan tersebut melibatkan pelajar dan pengurus Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS). Para siswa diberikan pemahaman mengenai pentingnya memeriksa informasi yang diperoleh melalui media sosial dan platform digital sebelum mempercayai ataupun menyebarkannya.

Kepala SMAN 1 Sukaresmi, Dr. Agam Supriyanta, M.M.Pd., M.H., mengatakan perkembangan teknologi digital dan AI memberikan manfaat bagi dunia pendidikan. Namun, penggunaan teknologi tersebut perlu diikuti kemampuan untuk memahami risiko dan memverifikasi informasi.

“Melalui sosialisasi dari tim Polres Kabupaten Cianjur ini, mudah-mudahan informasi tersampaikan agar siswa bisa memilah berita positif dan negatif. Siswa tidak mudah terbawa hoaks atau tertipu oleh informasi, gambar, maupun video berbasis AI yang kebenarannya meragukan,” ujar Agam.Senin.(11/8) saat ditemui di ruang kerjanya.

Menurut Agam, penggunaan gawai dan internet secara berlebihan juga menjadi perhatian sekolah. Aktivitas seperti bermain gim daring dan menggunakan media sosial hingga larut malam dinilai dapat mengurangi waktu istirahat siswa dan berpotensi memengaruhi konsentrasi belajar.

Untuk memperluas penyampaian materi, sekolah melibatkan pengurus OSIS. Mereka diharapkan dapat menyampaikan kembali pengetahuan yang diperoleh kepada siswa lain di lingkungan sekolah.

Selain memberikan edukasi literasi digital, SMAN 1 Sukaresmi menerapkan kebijakan pembatasan penggunaan telepon seluler melalui program hari tanpa ponsel.

Agam mengatakan kebijakan tersebut diberlakukan setiap Selasa dan Kamis. Pada kedua hari itu, ponsel siswa disimpan di tempat penyimpanan khusus sejak pagi hingga kegiatan sekolah selesai.

“Kami sudah menerapkan kebijakan tanpa HP setiap hari Selasa dan Kamis. Ponsel disimpan di lemari penyimpanan khusus dari pagi sampai sore. Tujuannya untuk mengurangi ketergantungan gawai dan membangun kembali komunikasi konvensional serta interaksi sosial secara langsung di antara para siswa,” kata Agam.

Menurut Agam, kebijakan tersebut merupakan bagian dari upaya sekolah mengatur penggunaan perangkat digital di lingkungan pendidikan. Pembatasan penggunaan ponsel dilakukan bersamaan dengan pemberian pemahaman mengenai penggunaan teknologi secara bertanggung jawab.

Melalui edukasi kepolisian dan kebijakan sekolah, siswa diharapkan tidak hanya mampu menggunakan teknologi, tetapi juga memiliki kebiasaan memeriksa sumber dan kebenaran informasi sebelum mempercayai atau menyebarkannya.

Perkembangan teknologi AI membuat konten digital dapat dibuat atau dimodifikasi dengan berbagai cara. Kondisi tersebut membuat kemampuan melakukan verifikasi informasi menjadi bagian penting dalam penggunaan teknologi di kalangan pelajar.

(Bet)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses