Daerah

Di Tengah Ancaman Eksekusi, Gubernur Dedi Mulyadi Turun Tangan Selamatkan GKAI Palasari, Bupati Dinilai Pasif

269
×

Di Tengah Ancaman Eksekusi, Gubernur Dedi Mulyadi Turun Tangan Selamatkan GKAI Palasari, Bupati Dinilai Pasif

Sebarkan artikel ini

Hallonusantara.com || CIANJUR – Gereja Kristen Alkitab Indonesia (GKAI) Palasari, yang berdiri kokoh di Kampung Tegalega, RT 03 RW 13, Desa Palasari, Kecamatan Cipanas, selama hampir empat dekade, kini berada di ujung tanduk. Tanah gereja yang juga menjadi makam pendiri gereja tersebut menjadi objek gugatan di Pengadilan Negeri Cianjur dan dijadwalkan dieksekusi pada 20 Agustus 2025.

Ancaman ini memantik perhatian publik setelah Pendeta Parhimpunan Simatupang, mewakili jemaat GKAI, bertemu langsung dengan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, pada Sabtu (9/8/2025). Dalam pertemuan itu, Dedi menunjukkan sikap tegas yang memberi secercah harapan bagi jemaat.

“Beliau meminta kami tetap beribadah dan melayani umat. Kang Dedi berjanji mengawal penyelesaian masalah ini secara damai, bahkan siap berbicara dengan pihak Pengadilan Negeri Cianjur untuk menunda eksekusi,” ungkap Pendeta Simatupang.

Tidak hanya itu, Dedi Mulyadi juga menawarkan solusi nyata dengan mengupayakan pendanaan sebesar Rp6 miliar melalui jejaringnya untuk melunasi utang tanah gereja. Sikap ini menjadi kontras dengan respons Pemerintah Kabupaten Cianjur yang dinilai Pendeta terlalu pasif.

“Saya sudah dua kali menghadap Bupati Cianjur, baik yang lama maupun yang sekarang. Bupati lama sempat menjanjikan solusi, tapi tidak terealisasi. Sementara bupati yang sekarang hanya menyuruh kami tetap tenang dan teduh, tanpa langkah nyata. Seorang pemimpin seharusnya berani melindungi warganya,” tegasnya.

Gereja GKAI Palasari berdiri sejak 1986, dengan sebagian besar jemaat berasal dari Yon Armed 5 Cipanas. Di dalam area gereja terdapat makam pendirinya, menjadikan lokasi ini memiliki nilai sejarah dan emosional yang tinggi. Sengketa tanah bermula dari masalah kredit antara pihak BPR Car dengan saudara Doni, yang kemudian berlanjut ke proses hukum hingga kini mengancam keberadaan gereja.

Pendeta Simatupang juga mengungkap insiden sebelum rencana eksekusi diumumkan, di mana sekelompok debt collector mencoba memasuki area gereja. Upaya itu berhasil digagalkan oleh jemaat, yang sebagian besar merupakan prajurit Yon Armed 5.

“Kalau dipaksakan eksekusi, pasti akan chaos. Saya tidak akan meninggalkan jemaat. Kalau perlu, saya siap mati demi melindungi umat,” ucapnya penuh emosi.

Bagi jemaat GKAI, pertemuan dengan Dedi Mulyadi dianggap sebagai jawaban doa setelah lebih dari dua tahun hidup dalam ketidakpastian.

“Kang Dedi memberi kami kemerdekaan yang hakiki di bulan kemerdekaan ini. Beliau teladan bagi saya sebagai pemimpin yang punya kasih sayang dan keberanian,” tutup Pendeta Simatupang.

(Bet)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses