Hallonusantara.com || Garut – Sebuah babak baru kepemimpinan ulama di Kabupaten Garut resmi dimulai. Senin (13/4/2026), Gedung Pendopo menjadi saksi sejarah dilantiknya 13 Komisi Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Garut masa bakti 2025-2030. Acara yang dirangkaikan dengan Mukerda dan Halal Bihalal Idul Fitri 1447 H ini menegaskan posisi MUI sebagai lokomotif moral dalam mewujudkan visi “Garut Hebat”.
Integrasi Intelektual dan Dakwah Digital
Satu hal yang mencolok dalam struktur kepengurusan kali ini adalah hadirnya figur-figur progresif di pos strategis. Masuknya M. Rahmat, S.Pdi., S.Si., seorang akademisi, aktivis, sekaligus pendamping sosial PKH ke dalam Komisi Informatika dan Komunikasi, menandai keseriusan MUI Garut dalam menjawab tantangan dakwah di era disrupsi informasi.
Langkah ini mendapat apresiasi tinggi dari Ikatan Wartawan Online (IWO) Indonesia DPD Kabupaten Garut. Kehadiran M. Rahmat dinilai sebagai jembatan profesional antara otoritas keagamaan dan dunia literasi digital.
Pesan Kebangsaan dari IWO Indonesia
Sekretaris DPD IWO Indonesia Kabupaten Garut, Ridwan Firdaus, memberikan catatan mendalam bagi pengurus yang baru dilantik. Menurutnya, sinergi antara MUI dan insan pers adalah kunci untuk menjaga kejernihan informasi di tengah masyarakat.
“Informasi laksana cahaya di kegelapan, komunikasi adalah kunci kesepahaman,” tulis Ridwan dalam pesan ucapan selamatnya yang elegan. Ia menekankan bahwa tugas di bidang komunikasi bukan sekadar menyampaikan pesan, melainkan menjaga marwah dan kebenaran.
“Kalam ditulis sejuk terasa, menjadi suluh di tengah gulita. Selamat berkhidmat wahai duta bangsa, wartakan kebaikan, kabarkan cinta,” pungkas Ridwan, menggambarkan harapan besar agar MUI Garut menjadi produsen informasi yang menyejukkan.
Sinergi Ulama dan Umaro
Bupati Garut, Ir. H. Abdusy Syakur Amin, dalam arahannya menegaskan bahwa keberhasilan program “Garut Hebat” sangat bergantung pada dukungan moral para ulama. Ia menitipkan penguatan sektor pendidikan (khususnya pemerataan SLTP) dan ketahanan pangan sebagai agenda bersama yang harus dikawal oleh MUI.
Senada dengan hal tersebut, Ketua Umum MUI Garut, KH. Amien Muchyidin Maolani, menginstruksikan seluruh jajaran komisi untuk bekerja secara kolektif kolegial. “MUI harus menjadi Khadimul Ummah (pelayan umat) yang menjaga toleransi dan mengedukasi dengan akhlakul karimah, tanpa merasa paling benar sendiri,” tegasnya.
Dengan dukungan penuh dari Pemerintah Daerah, MUI Jawa Barat, serta mitra strategis seperti IWO Indonesia, Mukerda ini menjadi momentum bagi MUI Garut untuk bertransformasi menjadi organisasi yang tidak hanya berwibawa secara spiritual, tetapi juga profesional dan adaptif terhadap kemajuan zaman.
(Dedi R)













