Hallo Nusantara || NAGEKEO — Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memperkuat penanganan warga terdampak gempa bumi magnitudo 7,7 di Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur. Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto bersama jajarannya turun ke lokasi terdampak pada Selasa, 18 Agustus 2026, untuk memastikan kebutuhan dasar pengungsi terpenuhi.
BNPB juga melakukan pemantauan terhadap kerusakan serta pendataan warga terdampak di sejumlah kecamatan. Data tersebut meliputi korban jiwa, korban luka, kerusakan rumah, fasilitas umum, serta jumlah warga yang mengungsi.
Berdasarkan data BNPB, jumlah korban meninggal dunia mencapai delapan orang. Mereka berasal dari Kecamatan Aesesa dan Kecamatan Boawae.
Korban meninggal dari Kecamatan Aesesa terdiri atas Muhammad Sulaiman Goa (70), Yakobus Bajo (57), dan Hermina Ari (71). Sementara dari Kecamatan Boawae terdapat Matrina Wona (72), Maria Budhe (81), Rafael Nuga (81), Emiliana To Ea (23), dan Bernadeta Wea (57).
Selain korban meninggal, sebanyak 13 orang dilaporkan mengalami luka berat dan sembilan orang mengalami luka ringan akibat gempa.
Kerusakan juga terjadi pada ribuan rumah warga. BNPB mencatat 1.702 rumah mengalami rusak berat, 560 rusak sedang, dan 2.567 rusak ringan. Dengan demikian, total rumah yang terdampak mencapai 4.829 unit.
Kerusakan turut terjadi pada fasilitas umum dan infrastruktur. Sebanyak 85 fasilitas pendidikan, delapan fasilitas kesehatan, 17 tempat ibadah, serta lima akses jalan dilaporkan mengalami kerusakan.
Suharyanto mengatakan penanganan pascabencana difokuskan pada penyelamatan warga, evakuasi, serta pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat terdampak.
“Yang menjadi tugas kami adalah menyelamatkan masyarakat terdampak, melakukan evakuasi, dan memastikan kebutuhan dasar terpenuhi,” kata Suharyanto.
BNPB, kata dia, juga menyiapkan personel untuk membantu pemerintah daerah menangani berbagai persoalan di lapangan.
“Kami dari BNPB sudah siapkan tiga personel yang dipimpin oleh Mayor Marsekal Muda Oka Prawira untuk mendampingi Bupati dalam menangani permasalahan yang muncul,” ujarnya.
Menurut Suharyanto, dukungan logistik seperti tenda dan air bersih juga telah disiapkan. Personel BNPB di daerah akan menjadi penghubung untuk menyampaikan kebutuhan dan perkembangan penanganan kepada pemerintah pusat.
“Kebutuhan logistik seperti tenda, air, kami sudah sampaikan semua akan mendukung. Apa pun yang menjadi permasalahan nanti personel BNPB yang menjembatani dan melaporkan ke pusat,” kata dia.
Hingga Selasa, sebanyak 6.621 warga tercatat berada di 70 pos pengungsian. Pemerintah daerah dan pemerintah pusat diharapkan terus memastikan distribusi bantuan menjangkau seluruh warga terdampak, termasuk mereka yang berada di wilayah pedalaman.
Sejumlah warga juga berharap bantuan dari pemerintah pusat, termasuk kementerian dan pemerintah provinsi lain, dapat disalurkan secara tepat sasaran kepada masyarakat yang terdampak gempa.
(Bet)














