Daerah

Dibalik Gemerlap Cipanas: Kesaksian “Bunga”, “Mona ”, dan “Lily” Tentang Kehidupan Perempuan Malam dari Villa ke Villa

98
×

Dibalik Gemerlap Cipanas: Kesaksian “Bunga”, “Mona ”, dan “Lily” Tentang Kehidupan Perempuan Malam dari Villa ke Villa

Sebarkan artikel ini

Hallonusantara.com || Cianjur — Di balik ramainya kawasan wisata Cipanas, Kabupaten Cianjur, tersimpan aktivitas kehidupan malam yang berjalan secara tertutup dan berada di luar sistem kerja formal. Sejumlah perempuan yang terlibat di dalamnya menjalani aktivitas berpindah-pindah dari satu villa ke villa lain dengan tekanan ekonomi dan risiko keamanan yang tinggi.

Salah satu pengakuan datang dari Bunga (nama samaran), perempuan berusia awal 30-an, yang selama beberapa tahun pernah menjalani kehidupan sebagai perempuan malam di kawasan Cipanas. Pengalaman tersebut ia sampaikan pada Rabu (17/12/2025).

Menurut Bunga, aktivitas tersebut tidak memiliki struktur kerja resmi. Tidak ada kontrak, jam kerja tetap, maupun jaminan pendapatan. Seluruh aktivitas bergantung pada jaringan dan kesepakatan lisan.

“Kalau ada panggilan, ya kerja. Kalau tidak, tidak ada pemasukan sama sekali,” ujar Bunga.

Ia menjelaskan bahwa faktor ekonomi menjadi alasan utama dirinya masuk ke dunia malam. Keterbatasan lapangan pekerjaan, kebutuhan hidup sehari-hari, serta tanggungan keluarga membuatnya bertahan dalam situasi yang tidak menentu.

Pengakuan serupa disampaikan oleh Mona (nama samaran), perempuan berusia akhir 20-an yang hingga kini masih aktif menjalani aktivitas tersebut. Ia mengatakan mobilitas tinggi merupakan bagian dari keseharian.

“Kami sering pindah lokasi. Kalau situasi dianggap tidak aman, harus cepat pergi ke tempat lain,” kata Mona.

Mona mengungkapkan bahwa aktivitas tersebut banyak berlangsung di villa dan penginapan yang tersebar di Cipanas, terutama saat akhir pekan dan musim liburan ketika jumlah wisatawan meningkat.

Selain ketidakpastian penghasilan, para perempuan malam juga dihadapkan pada aturan tidak tertulis. Salah satunya adalah kewajiban membayar uang keamanan kepada pihak tertentu agar aktivitas dapat berjalan tanpa gangguan.

“Setiap tempat beda nominalnya. Itu sudah jadi pengeluaran rutin,” jelas Mona.

Narasumber lain, Lily (nama samaran), perempuan berusia awal 30-an yang pernah aktif dan kini tidak lagi terlibat, menyebut bahwa sistem tersebut telah berlangsung lama dan diwariskan secara turun-temurun dalam jaringan informal.

“Dari dulu polanya hampir sama. Tidak ada perlindungan. Kalau ada masalah, harus urus sendiri,” ujar Lily.

Lily menambahkan bahwa risiko kesehatan juga menjadi persoalan serius. Selama menjalani aktivitas tersebut, ia tidak pernah mendapatkan akses layanan kesehatan atau perlindungan sosial secara resmi.

“Kami tidak terdaftar di mana-mana. Kalau sakit, ya tanggung sendiri,” katanya.

Sementara itu, Rara (nama samaran), perempuan berusia pertengahan 20-an yang masih aktif di lingkungan tersebut, mengungkapkan bahwa tekanan mental menjadi tantangan tersendiri. Ia mengaku harus selalu waspada terhadap perubahan situasi di lapangan.

“Kadang bukan soal tamu, tapi situasi sekitar. Kalau ada razia atau konflik, kami yang paling dulu kena dampaknya,” ungkap Rara.

Pendapatan yang diperoleh para perempuan malam ini bersifat fluktuatif. Pada periode tertentu dianggap cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar, namun pada waktu lain tidak sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan, termasuk transportasi, akomodasi sementara, serta pembayaran keamanan.

Setelah beberapa tahun menjalani kehidupan tersebut, Bunga akhirnya memutuskan untuk berhenti. Keputusan itu diambil setelah mempertimbangkan kondisi fisik dan mental serta keinginannya untuk menjalani kehidupan yang lebih stabil.

Sementara Mona dan Rara mengaku masih bertahan karena keterbatasan pilihan pekerjaan lain. Keduanya berharap suatu saat dapat keluar dari lingkungan tersebut jika memiliki alternatif pekerjaan yang lebih pasti.

Kisah yang disampaikan oleh Bunga, Mona, Lily, dan Rara menjadi gambaran realitas sosial di balik aktivitas kehidupan malam di kawasan wisata Cipanas. Cerita ini mencerminkan dinamika ekonomi informal, tingginya mobilitas, serta absennya perlindungan kerja bagi kelompok rentan yang beroperasi di luar sistem formal.

(Bet)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses