Hallonusantara.com || CIPANAS – Relokasi Pedagang Kaki Lima (PKL) di Jalan Raya Cipanas yang dilakukan pemerintah telah menimbulkan keresahan mendalam bagi para pedagang. Yudi, Ketua Paguyuban PKL Jalan Raya Cipanas, pada Minggu(20/04/2025) menyatakan bahwa kebijakan tersebut tidak hanya membuat omzet pedagang anjlok hingga lebih dari 80%, tetapi juga menghadapkan mereka pada kondisi lokasi yang jauh dari layak.
“Sejak relokasi dari trotoar ke tempat baru, pendapatan kami anjlok. Yang memacetkan itu angkot, tetapi kami yang terkena imbasnya. Tempat ini tidak layak atau strategis, bahkan seperti bekas tempat pembuangan sampah. Tentunya ini mengurangi kenyamanan bagi pembeli maupun pedagang,” ujar Yudi.
Selain relokasi, kebijakan satu jalur di Jalan Raya Cipanas yang diterapkan pemerintah juga mendapat kritik keras dari para pedagang. Menurut Yudi, kebijakan ini tidak berhasil mengurangi kemacetan, tetapi malah membuat keadaan semakin kacau karena lokasi bekas berjualan PKL kini digunakan untuk ngetem angkot dan parkir sepeda motor.
“Kemacetan malah bertambah sejak kebijakan satu jalur diterapkan. Dulu, ada dua jalur yang lebih mempermudah arus lalu lintas, sekarang semakin sulit,” tambah Yudi.
Yudi juga menyatakan bahwa relokasi dilakukan tanpa komunikasi yang memadai antara Satpol PP Cianjur dan para pedagang, sehingga tidak ada ruang untuk diskusi mencari solusi bersama. Bahkan, meskipun Pemdes Cipanas berusaha membantu, solusi yang diberikan justru tidak efektif dan tetap memperburuk pendapatan para pedagang.
“Yang kami inginkan adalah musyawarah untuk mencari solusi yang adil. Kami tidak berniat demo, cukup duduk bersama agar ada jalan keluar terbaik. Kalau kondisi seperti ini terus, kami akan kehabisan modal dan semakin sulit bertahan. Sekarang sudah banyak pedagang yang gulung tikar karena modal mereka habis,” ucap Yudi
Para PKL Cipanas berharap pemerintah, baik Satpol PP, Pemda Cianjur, maupun Pemdes Cipanas, segera memberikan solusi nyata. Mereka menginginkan musyawarah terbuka untuk membahas relokasi yang layak dan memastikan lokasi baru mendukung penghidupan mereka. Kondisi ekonomi yang semakin sulit membuat para pedagang kecil sangat membutuhkan perhatian lebih dari pihak terkait.
“Relokasi manusiawi yang adil adalah harapan utama kami. Kami tidak ingin dihancurkan oleh kebijakan yang tidak efektif. Pedagang kecil seperti kami hanya ingin mencari penghidupan, bukan dimatikan perlahan,” kata Yudi.
Keluhan serupa datang dari Hapsa, seorang pedagang crepes, yang kini berjualan di samping Toko Fajar. Ia menyebut kondisi tempat relokasi tidak mendukung untuk menarik pembeli, terlebih masalah lingkungan yang becek dan kumuh semakin memperburuk usaha kecilnya.
“Hampir 80% barang dagangan tidak habis. Banyak yang harus dibuang, rugi besar. Lokasi ini becek, tergenang air saat hujan. Siapa yang mau belanja kalau kondisi seperti ini? Yang kami harapkan dari Pemdes Cipanas dan Pemkab Cianjur adalah perhatian lebih untuk kami, PKL kecil. Kami ingin ditempatkan di tempat yang layak, yang nyaman bagi pembeli dan pedagang. Kalau seperti ini, kehidupan kami semakin berat. Biaya rumah tangga sekarang naik tiga kali lipat, belum lagi kebutuhan lainnya,” ujar Hapsa penuh harap.
Senada dengan Hapsa, Bu Nunui, seorang pedagang singkong keju, merasakan kerugian besar akibat penggusuran mendadak yang dilakukan pada masa menjelang Lebaran. Nunui mengungkapkan bahwa penggusuran dilakukan tanpa pemberitahuan waktu yang jelas, sehingga modal dagangannya habis tanpa hasil.
“Waktu itu saya sangat semangat jualan karena menjelang Lebaran. Tapi tiba-tiba roda dagangan digusur. Kami tidak diberitahu tanggal atau jamnya. Saya sudah siapkan dagangan dari pagi untuk dijual, tapi semuanya berantakan. Modal Rp500 ribu saya habis begitu saja. Barang yang dibuat untuk keuntungan keluarga di Lebaran malah rusak dan terbuang. Saya sedih sekali karena semua rencana untuk Lebaran hancur,” keluh Bu Nunui.
Ia juga menyebut bahwa tempat relokasi kini membuat pembeli enggan datang karena kondisi yang kumuh dan tidak nyaman.
“Karena tempat ini jauh dari layak, pembeli jadi malas datang. Kalau hujan, lokasi ini becek, air menggenang. Pembeli lebih memilih tempat lain. Kami merasa dirugikan, bukan diuntungkan. Dari penggusuran sampai sekarang, kami merasa hanya dihancurkan. Kami ingin keadilan dan keberpihakan, agar usaha kecil kami bisa bertahan,” ungkap Bu Nunui.
(Bet)













