Nasional

BMKG Menigkatkan Pemahaman Petani Terhadap Informasi Dan Iklim Untuk Mendukung Ketahanan Pangan

77
×

BMKG Menigkatkan Pemahaman Petani Terhadap Informasi Dan Iklim Untuk Mendukung Ketahanan Pangan

Sebarkan artikel ini

Hallonusantara.com || CIANJUR – Kepala BMKG Prof. Ir. Dwikorita Karnawati, M.Sc. Ph.D.Melalui Kedeputian Bidang Klimatologi melaksanakan kegiatan Literasi Iklim yang mana diharapkan dapat menjadi wadah penyampaian informasi iklim serta adanya Gerakan aksi iklim dan peduli lingkungan di kalangan masyarakat yang berlokasi di Kampung Cihiyeum Desa Sukanagali Kec.Pacet, (14-07-2023).

Melalui kegiatan ini mengangkat tema ” Meningkatkan Pemahaman Petani Terhadap Informasi dan Iklim Untuk Mendukung Ketahanan Pangan ” membangun kesadaran dan menggerakkan masyarakat untuk semakin peduli dengan iklim dan kelestarian lingkungan.

Prof.ir. Dwi korita karnawati, M.SC.PH.D menyampaikan kegiatan ini disponsori oleh kementerian sekretaris negara, menyelenggarakan suatu program, yang melibatkan tidak hanya Indonesia. Tetapi juga negara negara anggota kelompok clin, terdiri dari penyuluh petani, ada yang petani, namun ada juga yang mengelola sektor pertanian, tujuanya adalah menyiapkan program, bagai mana kita bisa melatih petani untuk beradaptasi terhadap perubahan iklim, karena perubahan iklim ini berdampak pada tidak menentu nya cuaca dan iklim sulit untuk di prediksi, para petani itu paling terdampak, juga dapat berdampak pada kelangkaan air ( Kris air) sehingga program pertanian ini akan terganggu. Selain itu akhirnya dapat kalau dibiarkan saja, petani tidak dapat beradaptasi akhirnya berdampak pada kelangkaan pangan karena gagal panen, dengan perubahan cuaca dan iklim yang tidak menentu.

Jadi program ini adalah, bagai mana BMKG membumikan, memberikan pemahaman kepada para petani dan para penyuluh petani tentang cuaca iklim dan bagaimana mitigasinya. Cianjur ini tadi sudah di sampaikan oleh kepala bagian organisasi dari kabupaten cianjur. Wilayah ini merupakan salah satu kontribusi untuk produk pangan, ini kan salah satu lumbung pangan yang ada indonesia di wilayah Jawa barat minimal di Jawa barat. Produktivitas padinya sangat tinggi dibandikan dengan wilayah lain di Indonesia.

Dan cianjur ini adalah wilayah yang terdampak perubahan iklim apa lagi baru saja mengalami gempa bumi, jadi bagaimana kondisi para petani itu bangkit, dari bencana. Yang sekaligus juga kondisi iklim yang semakin ekstrim. Tahun ini adalah tahun kering meskipun tiba tiba terjadi cuaca ekstrim, hujan ekstrim itu sebetulnya bukan tiba tiba itu bisa di prediksi, dan sudah di prediksi, sesuai hasil prediksi yang di sampaikan tgl 4 beberapa hari kemudian terjadi cuaca ekstrim, jadi cianjur ini suatu lokasi yang sangat ideal yang juga ekstrim untuk tempat pembelajaran

Kalau di Indonesia sangat luas, sangat banyak lokasinya, satu tahun sudah 76 lokasi sudah di mulai dari tahun 2011 melibatkan ribuan petani di Indonesia 18000, jadi ini bukan program dadakan, karena ada kulumbuk clain ini sudah berlangsung puluhan tahun dan justru kita tularkan untuk kenegara negara yang ada kulumbuk clin,

Salah satu anggota dari Filipina mister mikle menyampaikan bahwa penting menyampaikan dari badan meteorologi kepada petani untuk meningkatkan hasil panennya, dan Filipina juga akan memperifikasi program ini di negaranya, untuk meningkatkan ketahanan untuk meningkatkan iklim, tidak ada suatu negarpun yang mampu menghadapi perubahan iklim secara sendirian dan kerja sama ini sangat penting khususnya antara negara-negara.

” Untuk yang satu ini biasanya ada satu musim tanam, untuk pendahuluan di berikan materi petaninya mengenai karakter musim, bagai mana membaca musim, bagai mana cara membaca alam. Kemudian seperti kegiatan hari ini adalah kegiatan angkara, dimana petani mengamati teknologi sudah berapa tinggi padinya, jadi pengamatan ini dilakukan secara berkala sampai akhirnya nanti dilakukan panen bersama, jadi ini bukan kegiatan yang indensidentil. Setelah musim tanam di pandu petaninya dari awal Samapi panen, dari persiapan Samapi panen. Infeknya ada gak pengaruh dari awal sampai panen, kalau diliat dari masa lalu kenaikannya persentasenya hingga 30% kenaikan produksi panen di bandingkan sebelum sekolah lapang raya rata 30% ,” pungkasnya. (Bet)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses