Daerah

Akademisi UGM Jelaskan Fakta Ilmiah Geothermal, Bantah Isu Pemicu Gempa dan Letusan Gunung

18
×

Akademisi UGM Jelaskan Fakta Ilmiah Geothermal, Bantah Isu Pemicu Gempa dan Letusan Gunung

Sebarkan artikel ini

Hallonusantara.com || Cianjur — Kepala Pusat Penelitian Panas Bumi Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada, Ir. Pri Utami, menegaskan bahwa pengembangan energi panas bumi atau geothermal tidak dapat digeneralisasi sebagai penyebab gempa bumi maupun letusan gunung api tanpa kajian ilmiah yang valid dan terukur.

Penjelasan tersebut disampaikan Pri Utami dalam jawaban tertulis kepada media terkait berkembangnya isu geothermal di kawasan pegunungan, termasuk di wilayah Gunung Gede Pangrango, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat.Sabtu (23/5)

Pri Utami yang juga pernah menjabat Vice President International Geothermal Association periode 2020–2023 menjelaskan, informasi mengenai proyek geothermal yang disebut memicu gempa bumi sering dikaitkan dengan kasus gempa Pohang di Korea Selatan pada tahun 2017. Namun, menurutnya, kasus tersebut terjadi pada proyek Enhanced Geothermal System (EGS), yaitu teknologi panas bumi yang menggunakan injeksi air bertekanan tinggi ke dalam batuan bawah permukaan untuk menciptakan rekahan buatan.

Ia menjelaskan bahwa sistem EGS berbeda dengan sistem panas bumi yang dikembangkan di Indonesia. Menurutnya, sebagian besar reservoir panas bumi di Indonesia secara alami sudah memiliki rekahan dan permeabilitas yang memungkinkan fluida panas bumi mengalir tanpa harus dilakukan pemecahan batuan.

“Di Indonesia kita tidak sedang melakukan pengembangan sistem geotermal EGS, karena sistem-sistem di Indonesia secara alamiah sudah memiliki reservoir bawah permukaan yang permeabel,” kata Pri Utami.

Ia menambahkan, hasil penelitian terbaru terhadap kasus Pohang menunjukkan bahwa gempa yang terjadi tidak semata-mata dipicu oleh injeksi air, tetapi berkaitan dengan reaktivasi sesar atau pusat gempa yang sebelumnya sudah aktif.

Menurut Pri Utami, kondisi tersebut berbeda dengan sistem geothermal di Indonesia sehingga masyarakat tidak perlu menyamakan seluruh proyek panas bumi dengan kasus yang terjadi di negara lain.

Selain menjelaskan soal gempa bumi, Pri Utami juga menerangkan bahwa geothermal bukan penyebab letusan gunung api. Ia menyebut manifestasi panas bumi seperti mata air panas, fumarol, tanah beruap, dan kolam lumpur panas merupakan tanda adanya panas yang masih tersimpan di bawah permukaan bumi setelah aktivitas vulkanik berlangsung.

“Aktivitas itu tidak menyebabkan letusan eksplosif gunung api, tetapi menandakan bahwa panas di bawah permukaan masih ada,” ujarnya.

Ia menjelaskan, dalam sistem pengembangan geothermal, panas bumi dimanfaatkan melalui sumur produksi untuk mengambil fluida panas dari bawah permukaan. Setelah panasnya digunakan untuk menghasilkan energi, fluida tersebut dikembalikan lagi ke dalam reservoir melalui sumur injeksi guna menjaga keseimbangan tekanan dan keberlanjutan sistem bawah tanah.

Pri Utami mengatakan mekanisme tersebut menjadi bagian dari pengelolaan energi panas bumi yang dilakukan secara terukur dengan kajian geologi, geofisika, dan pemantauan lingkungan secara berkala.

Energi panas bumi sendiri merupakan salah satu sumber energi baru terbarukan yang dikembangkan di Indonesia untuk mendukung kebutuhan energi nasional sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil. Indonesia diketahui memiliki potensi panas bumi yang besar karena berada di jalur cincin api atau ring of fire.

(Bet)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses