Hallonusantara.com || Sumedang – Merujuk potensi cuaca yang diperkirakan BMKG bahwa sebagian besar wilayah Indonesia di tahun 2026 akan mengalami musim kemarau yang lebih kering dan panjang dibanding kondisi normal. Dan puncak musim kemarau diprediksi terjadi pada bulan Agustus yang tentunya berpotensi mempengaruhi produksi pangan nasional.
Menanggapi hal tersebut, Ketua DPC Formades Sumedang, Tresna Ratnasih Adipura menegaskan bahwa ketahanan pangan tidak boleh bergantung pada negara maupun pasar, tetapi harus mulai dibangun dari keluarga dan desa.
” Ketahanan pangan tidak cukup hanya mengandalkan pasar dan distribusi besar tetapi harus dimulai dari rumahtangga dan lingkungan kecil, ” kata Tresna, pasca Musyawara Daerah Formades DPD Jawa Barat l di Pondokan Hanjuang Hegar Cimalaka,tanggal 15-16/5/2026.
” Ancaman krisis pangan akibat perubahan iklim harus menjadi momentum kebangkitan pangan mandiri berbasis keluarga dan masyarakat desa, ” tegasnya.
Menurut Tresna, pekarangan rumah memiliki potensi besar sebagai sumber pangan keluarga apabila dikelola secara serius dan berkelanjutan.
” Kalau setiap rumah mulai menanam pangan sendiri, maka ketergantungan terhadap pasar akan berkurang. Dan ketika harga pangan naik atau distribusi terganggu masyarakat tetap memiliki cadangan pangan minimal untuk keluarganya, ” ujar Tresna.
DPC Formades Sumedang mendorong penerapan sistem ketahanan pangan terintegrasi berbasis keluarga dan komunitas. Menurutnya, dalam konsep tersebut sampah organik rumah tangga dapat diolah menjadi kompos, air limbah rumah tangga dimanfaatkan untuk tanaman.
” Konsep ini sebenarnya bukan hal yang baru, yang perlu kita lakukan sekarang adalah menghidupkan kembali semangat pangan mandiri sesuai kondisi zaman, ” tuturnya.
Lebih lanjut Tresna mengatakan bahwa mendorong program ketahanan pangan mandiri sangat sesuai dengan program yang dicanangkan pemerintah dan Formades Pusat.
” Ketahanan pangan tidak bisa di bangun sendiri-sendiri, harus ada gotong royong, kolaborasi, dan gerakan bersama dari bawah, ” ungkapnya.
” Untuk itu kehadiran Formades di tengah masyarakat harus menjadi bagian dari solusi. Kita harus membangun gerakan bersama agar masyarakat mampu menghadapi ancaman krisis pangan sehingga masyarakat memiliki fondasi ketahanan pangan yang jauh lebih kuat dalam menghadapi berbagai ancaman krisis di masa depan, ” pungkas Tresna.
(Agus HD)













