Hallonusantara.com || Cianjur — Pemerintah Kabupaten Cianjur memperkuat langkah mitigasi bencana menghadapi cuaca ekstrem dan meningkatnya potensi bencana alam. Instruksi tersebut disampaikan Bupati Cianjur, dr. Mohammad Wahyu Ferdian, saat melakukan kunjungan kerja di Desa Ciputri, Kecamatan Pacet, Jumat (12/12).
Bupati menyampaikan bahwa Cianjur masih termasuk dalam 10 besar daerah rawan bencana di Indonesia berdasarkan data BNPB. Faktor kontur tanah yang labil, wilayah pegunungan, serta tingginya aktivitas penebangan pohon di sejumlah titik dinilai meningkatkan risiko longsor dan banjir.
Dalam kesempatan itu, Bupati Wahyu mengimbau masyarakat agar perayaan pergantian tahun dilakukan secara sederhana, mengingat banyak wilayah di Indonesia masih terdampak bencana.
“Tahun baru sebaiknya dimaknai sebagai introspeksi diri. Kita doakan saudara-saudara yang tertimpa bencana dan memperkuat kepedulian terhadap lingkungan,” ujarnya.
Bupati menjelaskan, beberapa pekan terakhir Asia Tenggara mengalami anomali cuaca yang ditandai dengan peningkatan suhu dan ketidakstabilan curah hujan. Kondisi tersebut meningkatkan potensi bencana hidrometeorologi.
Pemerintah Kabupaten Cianjur telah menginstruksikan camat, kepala desa, serta BPBD untuk memastikan seluruh saluran air, gorong-gorong, dan aliran sungai berada dalam kondisi bersih serta berfungsi dengan baik. Selain itu, alat berat juga disiagakan di sejumlah titik rawan longsor dan banjir.
Bupati Wahyu menyoroti maraknya penebangan pohon di sejumlah wilayah Cianjur, termasuk pembukaan lahan pertanian pada area hutan dan lereng bukit. Ia menegaskan bahwa perubahan jalur air atau penyempitan aliran sungai akibat aktivitas tersebut berpotensi memicu banjir bandang dan longsor.
“Penebangan pohon tanpa izin harus dihentikan. Pemerintah akan meningkatkan patroli dan koordinasi dengan aparat penegak hukum untuk menindak pelanggaran di kawasan hutan,” jelasnya.
Sebagai upaya pemulihan lingkungan, Bupati menginstruksikan seluruh kecamatan dan desa untuk melaksanakan penghijauan secara masif. Program ini mencakup penanaman pohon dan tanaman keras di wilayah yang terdampak penebangan maupun area rawan bencana.
“Setiap desa wajib melakukan penanaman pohon dan memastikan jalur air tetap terjaga,” kata Bupati.
Bupati Wahyu juga mengajak masyarakat untuk turut menjaga kelestarian lingkungan melalui perilaku sehari-hari, termasuk tidak membuang sampah sembarangan dan tidak merusak aliran sungai.
“Mitigasi bencana akan berjalan efektif apabila dilakukan bersama-sama,” ujarnya.
(Bet)













