DaerahHallo Tani

Inovasi Katrili dan Sulasih-Sulanjana Jadi Terobosan UGM untuk Mewujudkan Pertanian Berkelanjutan Berbasis Geotermal

42
×

Inovasi Katrili dan Sulasih-Sulanjana Jadi Terobosan UGM untuk Mewujudkan Pertanian Berkelanjutan Berbasis Geotermal

Sebarkan artikel ini

Hallo Nusantara | Cianjur – Inovasi Katrili dan Sulasih-Sulanjana yang dikembangkan peneliti Pusat Penelitian Panas Bumi, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada (UGM) dinilai menjadi salah satu terobosan dalam menghubungkan potensi energi panas bumi (geotermal) dengan kebutuhan sektor pertanian nasional. Inovasi tersebut diharapkan mampu meningkatkan produktivitas pertanian sekaligus mendukung ketahanan pangan di tengah tantangan perubahan iklim.Senin. 30/6/2026.

Hal itu disampaikan Dr. Pri Utami dalam wawancara khusus bersama Redaksi Hallonusantara.com saat menjelaskan konsep dan manfaat jangka panjang dari inovasi berbasis nanosilika geotermal yang tengah dikembangkan tim peneliti UGM.

Menurut Pri Utami, Katrili dan Sulasih-Sulanjana merupakan booster tanaman berbasis nanosilika yang memanfaatkan endapan mineral hasil samping proses pembangkitan listrik panas bumi. Endapan tersebut mengandung silika serta lebih dari 60 unsur mineral yang memiliki karakteristik menyerupai abu vulkanik, sehingga berpotensi meningkatkan kesuburan tanah dan memperkuat pertumbuhan tanaman.

Ia menjelaskan, endapan mineral geotermal tersebut dipadukan dengan kitosan, bahan alami yang berasal dari limbah industri makanan laut. Kombinasi keduanya menghasilkan booster yang mampu memperkuat dinding sel tanaman, meningkatkan kemampuan tanah menyimpan air, serta membantu tanaman lebih tahan terhadap serangan hama dan tekanan lingkungan.

“Tujuan utama inovasi ini adalah menjawab berbagai persoalan yang dihadapi petani, mulai dari rendahnya produktivitas lahan, ketergantungan terhadap pupuk kimia, hingga meningkatnya risiko akibat perubahan iklim,” ujar Pri Utami.

Pri Utami menuturkan, seluruh bahan baku yang digunakan dalam pengembangan Katrili dan Sulasih-Sulanjana berasal dari sumber daya Indonesia. Hal tersebut menjadi keunggulan tersendiri karena dapat mengurangi ketergantungan terhadap bahan baku impor sekaligus meningkatkan nilai tambah limbah hasil samping industri panas bumi.

Untuk meningkatkan efektivitasnya, material geotermal diproses menjadi partikel berukuran nano agar lebih mudah diserap oleh tanaman. Teknologi tersebut diharapkan mampu mempercepat penyerapan unsur hara sekaligus memperbaiki kualitas tanah yang selama bertahun-tahun mengalami penurunan akibat penggunaan pupuk kimia, pestisida, dan herbisida secara berlebihan.

Selain meningkatkan produktivitas hasil panen, inovasi ini juga diproyeksikan mampu memperkuat ketahanan pangan nasional melalui penerapan sistem pertanian yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan. Pri Utami menilai pemanfaatan produk samping panas bumi merupakan bentuk nyata penerapan ekonomi sirkular, di mana limbah industri dapat diolah kembali menjadi produk yang memberikan manfaat bagi sektor lain.

Ia berharap hasil riset tersebut tidak berhenti pada skala laboratorium, tetapi dapat diimplementasikan secara luas melalui dukungan pemerintah, industri panas bumi, dunia usaha, dan petani di berbagai daerah.

“Jika inovasi ini dapat diterapkan secara luas, manfaatnya tidak hanya dirasakan petani melalui peningkatan produktivitas dan efisiensi biaya produksi, tetapi juga akan memperkuat ketahanan pangan nasional serta mendukung pembangunan pertanian yang berkelanjutan,” kata Pri Utami.

Menurutnya, sinergi antara riset, inovasi teknologi, dan pemanfaatan energi terbarukan menjadi fondasi penting dalam mewujudkan pertanian modern yang tangguh menghadapi perubahan iklim sekaligus mendukung agenda transisi energi nasional.

(Bet)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses