DaerahPangan

Sinergi Geotermal dan Inovasi Pertanian Diyakini Jadi Jalan Menuju Kemandirian Pangan Indonesia

62
×

Sinergi Geotermal dan Inovasi Pertanian Diyakini Jadi Jalan Menuju Kemandirian Pangan Indonesia

Sebarkan artikel ini

Hallo Nusantara || Cianjur – Pemanfaatan energi panas bumi (geotermal) yang dipadukan dengan inovasi teknologi pertanian dinilai berpotensi mengubah wajah pertanian Indonesia dalam satu hingga dua dekade mendatang. Sinergi antara sektor energi dan pertanian tersebut diyakini mampu memperkuat ketahanan pangan nasional sekaligus mendukung percepatan transisi menuju energi bersih.Senin. 30/6/2026.

Hal itu disampaikan Dr. Ngadisih, Ahli Konservasi Tanah dan Air, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Gadjah Mada (UGM), dalam wawancara khusus dengan Redaksi Hallonusantara.com mengenai prospek pengembangan geotermal bagi masa depan pertanian Indonesia.

Menurut Dr. Ngadisih, apabila pemanfaatan energi panas bumi dikembangkan secara luas dan dipadukan dengan inovasi seperti Katrili dan Sulasih-Sulanjana, sektor pertanian nasional memiliki peluang besar menjadi lebih produktif, tangguh, dan berkelanjutan dalam kurun waktu 10 hingga 20 tahun ke depan.

Ia menjelaskan bahwa sistem pangan Indonesia sangat bergantung pada keberlanjutan sumber daya lahan, terutama tanah dan air. Oleh karena itu, upaya menjaga kesuburan tanah menjadi faktor penting dalam meningkatkan produktivitas pertanian sekaligus menjamin ketahanan pangan nasional.

Dalam pandangannya, inovasi booster nanosilika geotermal Katrili dan Sulasih-Sulanjana menjadi salah satu solusi yang dapat mendukung upaya tersebut. Produk hasil riset tersebut memanfaatkan mineral hasil samping panas bumi sebagai bahan yang mampu membantu menjaga kualitas tanah melalui pendekatan yang lebih ramah lingkungan dan mendukung konsep ekonomi sirkular.

“Booster nanosilika geotermal Katrili dan Sulasih-Sulanjana mendukung kemandirian dalam menjaga kesuburan tanah melalui pendekatan hijau, ramah lingkungan, dan sirkular ekonomi sektor energi,” ujar Dr. Ngadisih.

Menurutnya, Indonesia memiliki modal besar berupa cadangan panas bumi yang melimpah. Apabila potensi tersebut tidak hanya dimanfaatkan sebagai sumber pembangkit listrik, tetapi juga diarahkan untuk mendukung sektor pertanian, maka manfaatnya akan jauh lebih luas bagi masyarakat, terutama dalam memperkuat ketahanan pangan sekaligus mengurangi dampak perubahan iklim.

Dr. Ngadisih menegaskan bahwa keberhasilan mewujudkan visi tersebut memerlukan sinergi antara pemerintah, perguruan tinggi, industri panas bumi, pelaku usaha pertanian, dan masyarakat. Kolaborasi lintas sektor menjadi kunci agar hasil riset dapat diterapkan secara nyata dan memberikan manfaat langsung bagi petani.

Ia optimistis, dengan dukungan kebijakan yang tepat dan hilirisasi inovasi yang berkelanjutan, Indonesia berpeluang membangun sistem pertanian modern yang tidak hanya meningkatkan produktivitas, tetapi juga menjaga kelestarian lingkungan serta mendukung target transisi energi nasional.

“Sinergi lintas sektor menjadi kunci menuju kemandirian pangan dan transisi energi nasional,” tegas Dr. Ngadisih.

Melalui pemanfaatan energi panas bumi yang lebih luas dan inovasi berbasis sumber daya lokal, Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk membangun sistem pertanian yang lebih tangguh, berdaya saing, dan berkelanjutan, sekaligus memperkuat posisi sebagai salah satu negara dengan potensi energi terbarukan terbesar di dunia.

(Bet)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses