Daerah

Bupati Cianjur Tegas: Hentikan Mafia Pupuk, Tolak Betonisasi Sawah, dan Bangkitkan Petani Muda

136
×

Bupati Cianjur Tegas: Hentikan Mafia Pupuk, Tolak Betonisasi Sawah, dan Bangkitkan Petani Muda

Sebarkan artikel ini

Hallonusantara.com || CIANJUR – Peringatan Hari Tani Nasional ke-65 di Desa Ciherang, Kecamatan Pacet, Kabupaten Cianjur, Rabu (24/9/2025), menjadi panggung pernyataan tegas Bupati Cianjur, Dr. M. Wahyu Ferdian. Di hadapan ratusan petani, perangkat desa, dan media, Wahyu menyuarakan tiga sikap keras: menolak alih fungsi lahan pertanian, membongkar praktik mafia pupuk subsidi, serta mendorong lahirnya generasi muda petani modern.

Pupuk Subsidi Jadi Alarm Bahaya

Wahyu mengakui kelangkaan pupuk subsidi terus menjadi keluhan klasik, terutama di wilayah Cianjur Selatan. Penyerapan pupuk subsidi, kata dia, baru mencapai 65 persen, meninggalkan 44 persen yang tersendat di jalur distribusi.

“Ini bukan sekadar soal administrasi, tapi soal perut rakyat. Kalau pupuk macet, sawah gagal panen, harga pangan naik, dan rakyat kecil yang paling menderita,” tegas Wahyu dengan nada keras.

Ia memperingatkan aparat dan kios nakal yang mempermainkan pupuk. “Mafia pupuk tidak boleh lagi bercokol di Cianjur. Pemerintah akan audit distribusi, jemput bola, dan tindak tegas pelaku. Petani jangan dipaksa beli dari kios gelap, itu pengkhianatan,” ujarnya.

Sawah vs Betonisasi: Cianjur Pilih Jadi Lumbung Pangan

Di tengah maraknya alih fungsi lahan di berbagai daerah, Wahyu menegaskan Cianjur tidak akan tunduk pada kepentingan pengembang.

“Tidak ada alih fungsi lahan pertanian di Cianjur. Justru kita akan mencetak sawah baru, menghidupkan lahan terlantar, dan memperkuat Cianjur sebagai tanah subur, bukan arena spekulasi properti,” katanya.

Menurutnya, melindungi lahan pertanian adalah kunci menjaga kedaulatan pangan nasional. “Kalau sawah habis jadi beton, kita hanya bisa jadi penonton impor pangan. Itu bentuk pengkhianatan terhadap petani,” tandasnya.

Membangkitkan Petani Muda

Wahyu juga menyoroti krisis regenerasi petani. Dari 3.000 lebih petani aktif di Cianjur, mayoritas berusia tua. Anak muda justru enggan melanjutkan usaha tani orang tuanya.

“Ini ancaman serius. Karena itu, kami dorong anak muda kembali ke sawah. Pertanian sekarang modern, berbasis teknologi, dan bisa menguntungkan. Petani muda adalah harapan Cianjur ke depan,” ucapnya.

Ia menegaskan program daerah akan diarahkan pada modernisasi alat pertanian, akses pupuk dan benih berkualitas, serta digitalisasi pasar hasil tani. Lebih dari 300 kelompok tani siap diperkuat melalui program tersebut.

Cianjur sebagai Garda Ketahanan Pangan

Dengan luas 66 ribu hektare lahan pertanian, yang 70 persennya digunakan untuk padi dan tanaman pangan, Cianjur memiliki potensi besar menjadi lumbung pangan Jawa Barat bahkan nasional.

“Kalau dikelola serius, Cianjur bisa jadi episentrum ketahanan pangan Indonesia. Tapi kalau bocor oleh mafia pupuk dan pengembang nakal, kita habis. Karena itu saya tegaskan, saya akan berdiri di depan membela petani,” tutup Wahyu.

(Bet)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses