Hallo Nusantara || Cianjur – Pemanfaatan energi panas bumi (geotermal) dinilai dapat menjadi pengungkit hilirisasi sektor pertanian nasional. Selain menyediakan energi bersih, panas bumi juga berpotensi meningkatkan nilai tambah komoditas pertanian melalui proses pengeringan, penyimpanan, hingga pengolahan hasil panen yang lebih efisien dan berkelanjutan, Senin (29/6/2026).
Hal tersebut diungkapkan Dr. Pri Utami, peneliti dari Pusat Penelitian Panas Bumi, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada (UGM), dalam wawancara khusus bersama Redaksi Hallo Nusantara.
Menurut Pri Utami, salah satu persoalan utama yang masih dihadapi petani Indonesia adalah rendahnya nilai jual hasil panen karena sebagian besar komoditas dipasarkan dalam bentuk bahan mentah. Akibatnya, petani rentan mengalami kerugian, terutama saat terjadi kelebihan produksi atau gangguan distribusi.
Ia menjelaskan, energi panas bumi dapat dimanfaatkan sebagai sumber panas yang stabil untuk mengeringkan berbagai komoditas pertanian, seperti kopi, teh, cabai, buah-buahan, dan biji-bijian. Berbeda dengan pengeringan yang mengandalkan sinar matahari, teknologi berbasis geotermal mampu menjaga kualitas produk secara konsisten sehingga lebih siap memenuhi standar pasar, termasuk pasar ekspor.
Selain itu, penerapan teknologi heat pump berbasis panas bumi juga memungkinkan pembangunan sistem penyimpanan dingin (cold storage) yang mampu mempertahankan kesegaran produk hortikultura. Teknologi tersebut dinilai efektif mengurangi kehilangan hasil panen yang selama ini menjadi salah satu penyebab rendahnya pendapatan petani.
Pri Utami menambahkan, uap panas bumi juga dapat dimanfaatkan dalam proses pasteurisasi, sterilisasi, hingga pengolahan pangan berbasis desa. Dengan demikian, masyarakat tidak hanya menjual bahan baku, tetapi mampu menghasilkan produk olahan yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.
“Desa yang berada di sekitar kawasan panas bumi memiliki peluang menjadi pusat agroindustri lokal. Produk pertanian dapat diolah langsung di daerah asal menggunakan energi panas bumi yang bersifat lokal, terbarukan, dan berbiaya lebih rendah,” ujar Pri Utami.
Ia mencontohkan konsep “zero kilometer agriculture” yang diterapkan di Italia, di mana hasil pertanian, perkebunan, dan peternakan di sekitar kawasan panas bumi diproses langsung di lokasi produksi menggunakan energi geotermal. Model tersebut dinilai mampu menekan biaya logistik, meningkatkan daya saing produk lokal, sekaligus membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat pedesaan.
Menurut Pri Utami, Indonesia memiliki peluang besar mengembangkan konsep serupa mengingat potensi panas bumi nasional yang melimpah. Dengan dukungan kebijakan pemerintah, investasi teknologi, serta kolaborasi antara akademisi, pelaku usaha, dan masyarakat, hilirisasi pertanian berbasis energi panas bumi diyakini mampu memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.
Ia menegaskan, transformasi sektor pertanian tidak cukup hanya berfokus pada peningkatan produksi. Nilai tambah melalui hilirisasi harus menjadi perhatian agar petani memperoleh manfaat ekonomi yang lebih besar dari setiap hasil panen yang dihasilkan.
(Bet)














