Hallonusantara.com || Cianjur – Perubahan iklim yang ditandai dengan musim tanam tidak menentu, kekeringan berkepanjangan, hingga menurunnya produktivitas lahan menjadi tantangan serius bagi sektor pertanian Indonesia. Di tengah kondisi tersebut, inovasi berbasis energi panas bumi (geothermal) dinilai dapat menjadi salah satu solusi untuk meningkatkan ketahanan pangan nasional sekaligus memperkuat daya saing petani.
Pandangan tersebut disampaikan Dr. Pri Utami, peneliti dari Pusat Penelitian Panas Bumi, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada (UGM), dalam wawancara khusus bersama Redaksi Hallo Nusantara, Minggu (28/6/2026).
Menurut Pri Utami, tim peneliti multidisiplin Pusat Penelitian Panas Bumi UGM telah mengembangkan inovasi berupa Katrili dan Sulasih-Sulanjana, yakni booster cair nanosilika berbasis endapan mineral panas bumi yang dipadukan dengan kitosan dari limbah industri makanan laut. Inovasi tersebut dirancang untuk membantu tanaman lebih tahan menghadapi dampak perubahan iklim.
“Kandungan silika pada endapan panas bumi berfungsi memperkuat dinding sel tanaman, sedangkan kitosan membantu meningkatkan retensi air sekaligus melindungi tanaman dari serangan hama. Kombinasi keduanya juga didukung unsur mineral lain yang komposisinya menyerupai abu vulkanik sebagai penyubur alami tanaman,” jelas Pri Utami.
Ia menjelaskan, selain menghasilkan energi terbarukan untuk proses budidaya dan pengolahan hasil pertanian, pemanfaatan panas bumi juga dapat meningkatkan efisiensi penggunaan air, memperbaiki kualitas tanah, meningkatkan produktivitas tanaman, serta memperpanjang masa simpan hasil panen.
Menurutnya, inovasi tersebut menjadi salah satu bentuk hilirisasi teknologi panas bumi yang tidak hanya berorientasi pada sektor energi, tetapi juga memberikan manfaat langsung bagi dunia pertanian.
Pri Utami menilai, perubahan iklim tidak cukup dihadapi hanya dengan mengubah pola tanam. Dibutuhkan penerapan inovasi teknologi yang mampu memperkuat ketahanan tanaman terhadap kekeringan, cuaca ekstrem, dan penurunan kualitas lahan secara berkelanjutan.
Ia menambahkan, Indonesia memiliki potensi besar untuk mengembangkan teknologi berbasis sumber daya lokal tersebut karena seluruh bahan bakunya tersedia di dalam negeri. Dengan demikian, inovasi tersebut juga dapat mengurangi ketergantungan terhadap produk pertanian maupun bahan penunjang yang masih bergantung pada impor.
Lebih jauh, Pri Utami berharap hasil riset tersebut dapat didorong menuju tahap implementasi yang lebih luas melalui dukungan pemerintah, industri panas bumi, perguruan tinggi, dan masyarakat sehingga manfaatnya benar-benar dirasakan petani di berbagai daerah.
“Pemanfaatan panas bumi tidak hanya menghasilkan listrik, tetapi juga dapat menjadi bagian dari solusi menghadapi perubahan iklim, meningkatkan produktivitas pertanian, dan memperkuat ketahanan pangan nasional,” ujarnya.
(Bet)














