Daerah

Titik Panas Kawah Wadon Diduga Berkaitan dengan Aktivitas Kawah, Ahli Geologi ITB Minta Pemeriksaan Gas

70
×

Titik Panas Kawah Wadon Diduga Berkaitan dengan Aktivitas Kawah, Ahli Geologi ITB Minta Pemeriksaan Gas

Sebarkan artikel ini

Hallonusantara.com || Cianjur — Titik panas yang terdeteksi melalui pemantauan drone thermal di kawasan Kawah Wadon, Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP), Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, diduga berkaitan dengan aktivitas kawah yang masih berlangsung.

Dosen Program Studi Teknik Geologi, Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB) Institut Teknologi Bandung (ITB), Ir. Niniek Rina Herdianita, M.Sc., Ph.D., mengatakan fenomena tersebut berpotensi merupakan keluaran panas atau gas dari bawah permukaan.

“Kemungkinan ini adalah aktivitas Kawah Wadon yang memang masih aktif,” kata Niniek saat dihubungi melalui WhatsApp oleh Hallo Nusantara, Sabtu (15/8/2026).

Menurut Niniek, titik panas yang teridentifikasi melalui kamera thermal perlu dikaji lebih lanjut untuk memastikan sumber panas tersebut.

“Jadi titik-titik panas yang teridentifikasi, kemungkinan adanya keluaran gas atau panas dari bawah permukaan,” ujarnya.

Ia menilai pemeriksaan terhadap karakteristik gas di sekitar lokasi menjadi penting. Pemeriksaan tersebut dapat membantu mengetahui apakah terdapat kandungan gas tertentu yang keluar dari bawah permukaan.

Niniek mempertanyakan apakah di sekitar titik panas terdapat bau hidrogen sulfida (H₂S), serta apakah keberadaan gas atau asap menimbulkan gejala seperti pusing pada orang yang berada di sekitar lokasi.

Selain kemungkinan keluarnya gas dan panas dari bawah permukaan, Niniek menyebut adanya kemungkinan material organik terbakar di bawah permukaan. Namun, kemungkinan tersebut dinilai relatif kecil jika melihat kondisi batuan di kawasan Kawah Wadon.

“Kalau untuk material organik di bawah permukaan, mungkin juga bisa, tapi kecil kemungkinan kalau melihat batuan di Kawah Wadon,” katanya.

Niniek menyarankan agar pemeriksaan terhadap gas di sekitar titik panas dilakukan oleh pengamat gunung api atau tim yang memiliki kompetensi dan peralatan yang sesuai.

“Coba minta bantuan Pengamat Gunung Api untuk memeriksa gasnya,” ujarnya.

Menurut dia, pemeriksaan lapangan harus dilakukan dengan memperhatikan aspek keselamatan. Tim dapat mengidentifikasi karakteristik gas atau asap, termasuk kemungkinan adanya bau, efek terhadap mata, maupun gejala pusing.

“Kalau memungkinkan, tapi harus hati-hati, dirasakan apakah gas atau asapnya berbau, membuat perih di mata, atau membuat pusing,” katanya.

Sementara itu, informasi mengenai kondisi Kawah Wadon telah disampaikan kepada Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).

Dalam komunikasi tersebut, Kepala Bagian Umum TNGGP menyampaikan adanya informasi mengenai bualan fumarola di kawasan Kawah Wadon. Lokasi tersebut juga disebut sebagai titik dengan suhu tertinggi berdasarkan analisis drone thermal yang dilakukan TNGGP.

PVMBG belum melakukan pemeriksaan langsung ke lokasi. Tim geokimia masih berada di Gunung Bromo dan survei ke Kawah Wadon direncanakan dilakukan setelah tim tersebut kembali.

Pemeriksaan lapangan diperlukan untuk memperoleh data langsung mengenai kondisi gas, suhu, serta karakteristik fenomena yang muncul di sekitar titik panas.

Berdasarkan informasi PVMBG, tidak terdapat peningkatan aktivitas kegempaan Gunung Gede selama periode 1–15 Agustus 2026.

Dalam periode tersebut tercatat dua kali gempa vulkanik dalam.

Pengamatan Gunung Gede saat ini dilakukan oleh empat personel. Namun, personel pengamat belum memiliki peralatan untuk melakukan pengukuran gas di lokasi.

Pemeriksaan gas di Kawah Wadon masih menunggu kedatangan tim dari Bandung.

Sementara itu, Ketua Pengamat Gunung Api Gede Ciloto, Hartanto Prawiro, mengatakan aktivitas kegempaan Gunung Gede masih berada dalam kondisi normal pada Level I.

“Kegempaan aktivitas Gunung Api Gede masih dalam kondisi aktif normal (Level I),” kata Hartanto saat dihubungi melalui WhatsApp, Minggu (16/8/2026).

Hartanto mengatakan pihaknya belum dapat memastikan apakah fenomena yang muncul di sekitar Kawah Wadon berkaitan dengan rekahan maupun keluarnya uap dari bawah permukaan.

“Terkait kebakaran kami belum mengetahui apakah ada rekahan atau uap yang keluar di sekitar Kawah Wadon,” ujarnya.

Menurut Hartanto, tim pengamat masih menunggu kedatangan tim ahli dari Badan Geologi untuk melakukan penelitian dan survei langsung di kawasan tersebut.

“Kami sedang menunggu tim ahli dari Badan Geologi untuk penelitian dan survei ke lokasi,” katanya.

Dengan demikian, keberadaan titik panas dan informasi mengenai bualan fumarola di Kawah Wadon masih memerlukan verifikasi melalui pemeriksaan lapangan. Data mengenai kondisi gas dan fenomena bawah permukaan akan menjadi bagian penting dalam menentukan sumber panas yang terdeteksi di kawasan tersebut.

(Bet)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses