Daerah

Pemulihan Ekosistem DAS Cipendawa: Solusi Mengatasi Risiko Banjir dan Longsor

122
×

Pemulihan Ekosistem DAS Cipendawa: Solusi Mengatasi Risiko Banjir dan Longsor

Sebarkan artikel ini

Hallonusantara.com || CIANJUR – Desa Cipendawa, Kecamatan Pacet, kembali dilanda banjir dan tanah longsor yang mengguncang Kampung Guntur. Berbagai faktor pemicu telah diidentifikasi, mulai dari berkurangnya tutupan pohon, cuaca ekstrem, hingga kondisi topografis Daerah Aliran Sungai (DAS) yang semakin terdegradasi. Permasalahan ini menjadi sorotan utama pemerintah daerah. Wakil Bupati Cianjur, Abi Ramzi, langsung turun ke lapangan untuk meninjau dampak bencana pada Kamis, 6 Maret 2025.

Tutupan hutan berperan vital dalam menjaga kestabilan hidrologis DAS. Akar-akar pohon tidak hanya mencegah erosi tetapi juga membantu tanah menyerap air dengan lebih baik. Namun, penebangan pohon yang tidak terkendali telah mengurangi kemampuan tanah untuk meresap air, menyebabkan air hujan menjadi aliran permukaan yang memicu banjir. Selain itu, hilangnya vegetasi membuat struktur tanah longgar sehingga meningkatkan risiko longsor.

Saat mengunjungi lokasi terdampak di Kampung Guntur, Abi Ramzi menegaskan pentingnya penanganan bencana secara terorganisir. Dalam wawancaranya dengan awak media, ia menyatakan bahwa sebagian besar bangunan yang berdiri di area rawan tidak sesuai dengan regulasi tata ruang. “Bangunan ini melanggar peraturan, tapi mereka sudah tinggal di sini lama. Pendekatan yang tepat dan solusi permanen sangat diperlukan. Relokasi adalah salah satu jalan, tapi harus dilakukan dengan adil dan melibatkan semua pihak, mulai dari RT, RW, hingga kecamatan,” jelas Abi.

Abi juga menyinggung persoalan aset-aset tak bertuan di kawasan ini yang selama beberapa dekade ditempati oleh warga setempat tanpa kejelasan status kepemilikan. “Banyak lahan yang ditinggalkan pemiliknya dan tidak dirawat. Jika aset itu masih dianggap milik, pemiliknya harus bertanggung jawab, termasuk merawatnya dan tetap membayar pajak. Jika tidak, tata ulang wilayah ini harus dilakukan untuk menciptakan ketertiban,” tambahnya.

Langkah prioritas yang segera diambil pemerintah daerah adalah melakukan normalisasi sungai yang berada di sekitar Kampung Guntur. Kondisi sungai yang berkelok-kelok dengan sedimentasi yang tinggi menghambat aliran air saat hujan deras. “Debit air yang besar tidak bisa mengalir dengan lancar. Oleh karena itu, aliran sungai harus dirapikan, dan bantaran yang terkikis perlu diperkuat,” jelas Abi. Langkah ini diharapkan mampu mengurangi dampak banjir serta memberikan perlindungan lebih bagi warga sekitar.

Abi juga menekankan bahwa relokasi bagi warga yang tinggal di pinggir sungai atau area dengan risiko tinggi adalah langkah strategis untuk jangka panjang. “Namun, relokasi ini bukan hanya soal memindahkan rumah. Kita harus memastikan bahwa warga mendapatkan tempat tinggal yang layak serta akses yang lebih baik terhadap infrastruktur,” katanya.

Selain langkah teknis, Abi menyoroti perlunya edukasi berkelanjutan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga lingkungan. Kerusakan lingkungan tidak hanya akan memperburuk bencana, tetapi juga menyulitkan kehidupan anak cucu di masa depan. “Kita tidak bisa menghindari cuaca atau hujan, tapi kita bisa memperbaiki cara mengelola air agar tidak jadi bencana. Kalau tidak mau ambil langkah nyata, maka masyarakat harus siap menghadapi konsekuensinya,” tegasnya.

Bencana ini kembali menegaskan pentingnya pengelolaan ekosistem DAS secara menyeluruh. Pemerintah daerah bersama masyarakat perlu berkolaborasi dalam memperbaiki tata ruang, memulihkan tutupan hutan, dan mengelola air secara berkelanjutan. Normalisasi sungai dan relokasi warga hanyalah awal dari perjalanan panjang untuk menciptakan lingkungan yang lebih aman.

Melindungi ekosistem DAS bukan hanya langkah untuk mencegah bencana di masa kini tetapi juga investasi strategis untuk memastikan masa depan yang lebih terjamin. Semua pihak, dari pemerintah hingga masyarakat, perlu berada dalam satu langkah untuk menjaga keseimbangan alam di Cipendawa.

(Bet)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses