HALLO NUSANTARA || CIANJUR — Kenaikan harga tepung tapioka dari Rp1,2 juta menjadi Rp1,7 juta per kuintal mulai memukul keberlangsungan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) Kerupuk Galunggung di Desa Bojong, Kecamatan Karangtengah, Kabupaten Cianjur. Lonjakan harga bahan baku itu membuat usaha keluarga yang telah berjalan sejak 1979 tersebut menghentikan produksi kerupuk mentah.
Pengurus Kerupuk Galunggung, Nasrul Jamil (31), mengatakan kenaikan harga tepung tapioka sebesar Rp500 ribu per kuintal dalam kurun sekitar dua bulan terakhir berdampak langsung terhadap biaya produksi.
“Pengaruhnya sangat besar. Dulu, sekitar dua bulan ke belakang, harga tepung tapioka masih Rp1,2 juta per kuintal. Sekarang sudah mencapai Rp1,7 juta,” kata Nasrul, Senin (2/11/2026).
Menurut Nasrul, kenaikan harga bahan baku membuat pengelola kesulitan mempertahankan ukuran produk sekaligus menyesuaikan harga jual. Mereka sempat memperkecil ukuran kerupuk untuk menekan biaya produksi.
Namun, langkah tersebut menghadapi kendala karena pedagang menginginkan ukuran kerupuk tetap sesuai standar. Sementara itu, menaikkan harga jual juga bukan perkara mudah di tengah pertimbangan daya beli pasar.
Tekanan biaya akhirnya membuat pengelola menghentikan produksi kerupuk mentah secara mandiri. Untuk mempertahankan kegiatan usaha, mereka kini mengandalkan pasokan kerupuk mentah dari pabrik keluarga di Bandung.
Setiap hari, Kerupuk Galunggung mengolah sekitar 10 karung kerupuk mentah dengan berat masing-masing 25 kilogram. Kerupuk tersebut kemudian digoreng, dikemas, dan didistribusikan ke sejumlah warung.
Meski menghentikan produksi kerupuk mentah, usaha tersebut masih mempekerjakan sekitar 20 orang. Para pekerja menangani proses penggorengan, pengemasan hingga pemasaran.
Sebagian pekerja bertugas mendistribusikan produk menggunakan sepeda motor dengan berkeliling ke warung-warung pada pagi hari. Setelah itu, mereka melanjutkan pekerjaan menggoreng dan mengemas kerupuk pada siang hari.
Beban usaha tidak hanya berasal dari kenaikan harga tepung tapioka. Harga minyak goreng dan plastik yang turut meningkat ikut menambah biaya operasional.
Di sisi lain, penjualan juga tidak selalu berjalan lancar. Nasrul menyebut stok kerupuk yang masih menumpuk di sejumlah warung terkadang menghambat distribusi produk berikutnya.
Persoalan tersebut memperlihatkan tekanan berlapis yang dihadapi usaha kecil: harga bahan baku meningkat, biaya pengolahan bertambah, sementara penyerapan produk di tingkat pedagang tidak selalu sebanding dengan kapasitas produksi.
Nasrul mengatakan selama menjalankan usaha, pengelola masih menggunakan modal pribadi dan belum pernah menerima bantuan permodalan dari pemerintah.
Ia berharap pemerintah memberi perhatian terhadap stabilitas harga bahan baku yang digunakan pelaku UMKM, terutama tepung tapioka, minyak goreng, dan plastik.
“Kalau bisa, harga bahan-bahan pokok seperti tepung tapioka, minyak, dan plastik distabilkan. Jangan sampai terus melonjak karena dampaknya terasa bagi semua usaha yang menggunakan bahan tersebut,” ujarnya.
Kenaikan harga tepung tapioka kini bukan sekadar persoalan biaya produksi bagi Kerupuk Galunggung. Dampaknya telah mengubah pola usaha yang bertahan hampir lima dekade, dari memproduksi kerupuk mentah sendiri menjadi bergantung pada pasokan pabrik keluarga.
(Bet)















