Hallonusantara.com || Cianjur — Insiden dugaan intimidasi terjadi di kawasan Villa Ceri 1 Cipanas, Desa Palasari, Kecamatan Cipanas, Kabupaten Cianjur, Kamis malam (16/4). Banner penolakan terhadap keberadaan dapur SPPG di Villa Ceri 1 Cipanas dilaporkan diturunkan secara paksa oleh sekelompok orang tidak dikenal, sehingga memicu reaksi keras dari paguyuban warga setempat.
Banner penolakan yang sebelumnya dipasang oleh paguyuban warga tersebut berisi pemberitahuan kepada masyarakat bahwa Villa Ceri 1 Cipanas sedang berada dalam proses gugatan perdata antara paguyuban warga dengan salah satu komunitas yang beraktivitas di kawasan villa. Pencopotan banner penolakan dapur SPPG di Villa Ceri 1 Cipanas itu diduga disertai ucapan bernada ancaman terhadap petugas keamanan yang berjaga di lokasi.
Petugas keamanan Villa Ceri 1 Cipanas, Dadang Arismunandar (29), mengatakan bahwa peristiwa penurunan banner penolakan dapur SPPG di Villa Ceri 1 Cipanas bermula ketika sejumlah orang datang ke kawasan tersebut pada Kamis sore.
Menurut Dadang, rombongan tersebut langsung menuju lokasi banner penolakan dapur SPPG di Villa Ceri 1 Cipanas yang terpasang di area kawasan villa.
“Waktu itu mereka datang, lalu saya sebagai keamanan mencoba mencegah karena ada instruksi dari ketua paguyuban untuk melarang siapa pun menurunkan spanduk tersebut tanpa izin. Tapi mereka melarang kami ikut campur. Mereka bilang kalau sampai kami ikut campur takut ada kejadian berdarah-darah di tempat itu,” ujar Dadang kepada wartawan.Sabtu. 17/4/2026.
Dadang menjelaskan, dirinya sempat meminta agar pihak yang hendak menurunkan banner penolakan dapur SPPG di Villa Ceri 1 Cipanas terlebih dahulu berkoordinasi dengan pengurus paguyuban.
“Saya bilang kalau masalah penurunan ini saya tidak punya hak untuk memberikan izin. Saya minta mereka untuk meminta izin dulu kepada ketua paguyuban atau ketua kawasan. Tapi mereka bilang itu urusan mereka,” katanya.
Ia memperkirakan jumlah orang yang datang ke kawasan Villa Ceri 1 Cipanas sekitar delapan orang dengan menggunakan kendaraan mobil. Peristiwa penurunan banner penolakan dapur SPPG di Villa Ceri 1 Cpppipanas itu terjadi sekitar pukul 18.38 WpIB.
Petugas keamanan lainnya, Agis Purnama Alam (23), menyebut bahwa orang yang menurunkan banner penolakan dapur SPPG di Villa Ceri 1 Cipanas tidak dikenal oleh pihak keamanan setempat.
Agis mengatakan salah satu orang yang diduga terlibat sudah berada di area Villa Ceri 1 Cipanas sejak sore hari sebelum kejadian pencopotan banner.
“Sekitar jam 16.00 WIB dia sudah masuk ke area Villa Ceri menuju ke Blok A3 yang digunakan untuk dapur MBG. Kemudian sekitar jam 18.38 WIB dia naik ke atas untuk mencabut banner,” ujar Agis.
Menurut Agis, petugas keamanan telah berupaya melarang pencopotan banner penolakan dapur SPPG di Villa Ceri 1 Cipanas karena pemasangan banner tersebut merupakan keputusan paguyuban warga.
“Kami melarang karena itu perintah dari ketua paguyuban. Tapi dia tetap ngotot ingin menurunkan banner itu,” katanya.
Ia juga mengungkapkan adanya ucapan bernada ancaman yang membuat petugas keamanan memilih tidak melakukan tindakan konfrontatif.
“Dia bilang kalau kami ikut campur nanti bisa terjadi pertumpahan darah di area itu. Karena itu kami tidak melakukan tindakan fisik,” ungkapnya.
Kepala keamanan, Thomas, yang mewakili Ketua Paguyuban Villa Ceri 1 membenarkan adanya laporan masuknya sejumlah kendaraan ke dalam kompleks villa pada sore hari sebelum insiden penurunan banner penolakan dapur SPPG di Villa Ceri 1 Cipanas.
“Yang saya tahu kemarin sore ada beberapa kendaraan yang masuk ke dalam kompleks Villa Ceri. Menurut laporan ada empat mobil dan satu motor dengan sekitar delapan sampai sepuluh orang yang masuk ke kawasan,” ujar Thomas.
Menurut Thomas, rombongan tersebut menuju Blok A3 Villa Ceri 1 Cipanas, yang saat ini disebut sebagai lokasi operasional dapur SPPG di kawasan tersebut.
“Mereka masuk sekitar jam empat sore . Kemudian sekitar setengah tujuh malam saya mendapat laporan dari anggota security bahwa ada orang-orang yang akan menurunkan spanduk penolakan dapur SPPG di Villa Ceri,” katanya.
Thomas menegaskan dirinya telah memberikan instruksi kepada petugas keamanan agar tidak mengizinkan pencopotan banner penolakan dapur SPPG di Villa Ceri 1 Cipanas tanpa koordinasi dengan pengurus kawasan.
“Saya memberikan arahan supaya tidak diizinkan sebelum mereka bertemu dengan ketua paguyuban atau dengan saya sebagai kepala keamanan karena ini wilayah kami,” ujarnya.
Namun tak lama kemudian ia menerima laporan bahwa banner tersebut sudah diturunkan secara paksa.
“Menurut laporan anggota security, banner itu diturunkan dengan cara memaksa dan ada ucapan ancaman supaya jangan sampai terjadi pertumpahan darah,” jelas Thomas.
Thomas menjelaskan bahwa polemik keberadaan dapur SPPG di Villa Ceri 1 Cipanas berkaitan dengan sengketa hukum yang saat ini masih berlangsung di pengadilan antara paguyuban warga dengan sebuah komunitas yang beraktivitas di kawasan villa.
Menurutnya, paguyuban warga sebelumnya telah menyampaikan keberatan secara resmi terhadap operasional dapur SPPG di Villa Ceri 1 Cipanas karena dinilai tidak melalui koordinasi dengan pengurus kawasan.
“Kami sudah bersurat menyatakan penolakan terhadap keberadaan dapur itu karena tidak ada koordinasi dengan paguyuban. Bahkan ada area yang seharusnya fasilitas umum diubah menjadi tempat parkir,” ujarnya.
Karena tidak mendapatkan tanggapan terhadap surat keberatan tersebut, paguyuban warga kemudian menempuh jalur hukum dengan mengajukan gugatan perdata terkait polemik dapur SPPG di Villa Ceri 1 Cipanas.
Kuasa hukum paguyuban warga Villa Ceri 1 Cipanas, Ronald Tampenawas, SH, menilai tindakan penurunan banner penolakan dapur SPPG di Villa Ceri 1 Cipanas berpotensi mengandung unsur pidana.
“Pada prinsipnya kami menilai ini adalah perbuatan pidana karena ada unsur kekerasan dan ancaman, baik terhadap orang maupun terhadap barang,” ujar Ronald.
Ia menjelaskan bahwa banner yang diturunkan tersebut hanya berisi pemberitahuan kepada masyarakat terkait adanya perkara perdata yang sedang berlangsung di kawasan villa.
“Spanduk itu hanya berisi pemberitahuan bahwa di Villa Ceri sedang berlangsung perkara perdata antara paguyuban dengan komunitas. Tidak ada unsur provokatif,” jelasnya.
Ronald juga mengungkapkan bahwa pada hari yang sama para pihak baru saja menjalani persidangan dan dijadwalkan melaksanakan mediasi.
“Kami sudah menjalani sidang dan dijadwalkan lagi untuk mediasi pada tanggal 21 April. Semua pihak datang dengan niat baik untuk bermediasi,” katanya.
Namun ia menyayangkan insiden penurunan banner penolakan dapur SPPG di Villa Ceri 1 Cipanas yang terjadi setelah proses persidangan tersebut.
“Identitas pelaku belum diketahui. Itu menjadi kewenangan kepolisian untuk menyelidikinya,” ujarnya.
Paguyuban warga Villa Ceri 1 Cipanas akhirnya melaporkan dugaan intimidasi dan penurunan banner penolakan dapur SPPG di Villa Ceri 1 Cipanas ke pihak kepolisian.
Laporan tersebut telah diterima oleh Polres Cianjur, dan aparat kepolisian langsung melakukan pemeriksaan awal di lokasi kejadian dengan menurunkan tim Inafis untuk melakukan olah tempat kejadian perkara.
Thomas mengatakan pihak kepolisian telah datang ke lokasi untuk melakukan investigasi awal terkait dugaan intimidasi dan penurunan banner di kawasan Villa Ceri 1 Cipanas.
“Pagi ini pihak kepolisian sudah datang ke lokasi untuk melihat dan mendata kejadian sesuai dengan peristiwa yang terjadi semalam,” pungkasnya.
Paguyuban warga berharap aparat penegak hukum dapat mengusut tuntas kasus penurunan banner penolakan dapur SPPG di Villa Ceri 1 Cipanas, termasuk mengungkap identitas serta pihak yang diduga berada di balik aksi tersebut.
(Bet)













