Hallonusantara.com || Cianjur — Tawuran remaja di Haurwangi Cianjur pecah saat warga bersiap santap sahur di hari ketiga Ramadan, Sabtu (21/2/2026) dini hari. Peristiwa itu terjadi di Jalan Raya Bandung–Cianjur, jalur nasional yang menghubungkan Bandung dan Cianjur, tepatnya di wilayah Kecamatan Haurwangi, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat.
Menurut keterangan saksi, aksi tawuran remaja saat Ramadan tersebut diawali dengan berkumpulnya sejumlah pemuda di beberapa titik tepi jalan. Situasi yang awalnya terlihat biasa berubah menjadi bentrokan terbuka, disertai teriakan saling tantang yang memecah suasana sahur.
Warga menduga dalam tawuran remaja di Jalan Raya Bandung–Cianjur itu para pelaku membawa senjata tajam dan menyalakan petasan. Selain memicu ketakutan masyarakat, aksi tersebut juga mengganggu kelancaran arus lalu lintas di jalur strategis penghubung Bandung–Cianjur.
Ujang, warga Desa Haurwangi, mengatakan kericuhan tawuran remaja di Haurwangi berlangsung cepat dan mengejutkan. “Awalnya mereka hanya berkumpul, tidak lama kemudian langsung saling serang. Warga jadi takut keluar rumah karena khawatir terkena sasaran,” ujarnya.
Dampak dari tawuran remaja Cianjur saat sahur itu terasa langsung di jalan raya. Sejumlah pengendara memilih memperlambat kendaraan, bahkan berhenti sejenak demi menghindari risiko. Arus lalu lintas di jalur nasional tersebut sempat tersendat akibat bentrokan yang terjadi di badan jalan.
Kapolres Cianjur Ahmad Alexander Yurikho Hadi menegaskan pihaknya telah mengamankan sejumlah remaja yang diduga terlibat dalam kasus tawuran remaja di Cianjur tersebut. “Beberapa pelaku sudah kami amankan dan masih ada yang dalam pengejaran. Kami akan bertindak tegas terhadap siapa pun yang mengganggu kondusivitas wilayah, khususnya selama Ramadan,” katanya.
Pihak kepolisian memastikan peningkatan patroli malam hingga dini hari guna mencegah tawuran remaja selama Ramadan di Cianjur terulang kembali. Langkah ini diambil untuk menjaga keamanan masyarakat yang menjalankan ibadah puasa dan memastikan jalur nasional tetap aman dilalui.
Fenomena tawuran remaja di bulan Ramadan dinilai bukan sekadar kenakalan biasa, melainkan persoalan sosial yang membutuhkan peran orang tua, sekolah, dan lingkungan. Ramadan seharusnya menjadi momentum pembinaan moral, bukan ajang adu keberanian yang berujung pada proses hukum.
Masyarakat berharap tawuran remaja Haurwangi Cianjur menjadi peristiwa terakhir yang mencoreng suasana sahur. Jalur nasional bukan arena pertarungan, dan bulan suci Ramadan bukan panggung pembuktian eksistensi yang membahayakan keselamatan publik.
(Bet)













