Mancanegara

Klaim Trump soal Penangkapan Presiden Venezuela Picu Ketegangan Global

74
×

Klaim Trump soal Penangkapan Presiden Venezuela Picu Ketegangan Global

Sebarkan artikel ini

Hallonusantara.com || Jakarta — Ketegangan politik di Amerika Latin meningkat tajam setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim bahwa militer AS telah melancarkan operasi besar di Venezuela dan menangkap Presiden Nicolás Maduro. Pernyataan tersebut disampaikan Trump melalui akun media sosial Truth Social pada Sabtu (3/1/2026) waktu setempat, dan dilansir CNBC Indonesia, Minggu (4/1/2026).

Dalam unggahannya, Trump menyebut operasi militer AS berhasil menahan Maduro bersama istrinya dan menerbangkan keduanya keluar dari wilayah Venezuela. Hingga laporan ini disusun, belum ada pernyataan resmi dari pemerintah Venezuela yang mengonfirmasi ataupun membantah klaim tersebut.

Namun demikian, kantor berita Reuters melaporkan adanya ledakan di Caracas, ibu kota Venezuela, serta di beberapa wilayah lain pada Sabtu pagi waktu setempat. Saksi mata juga menyebutkan helikopter militer terlihat melintas di atas kepulan asap akibat ledakan, sehingga memunculkan spekulasi mengenai berlangsungnya operasi militer skala besar.

Apabila klaim Trump terbukti benar, langkah tersebut berpotensi menjadi intervensi militer langsung Amerika Serikat paling signifikan di Amerika Latin sejak invasi Panama pada 1989 yang menggulingkan Presiden Manuel Noriega.

Hubungan Washington dan Caracas sendiri telah memburuk dalam beberapa bulan terakhir. Pemerintahan Trump berulang kali menuduh Presiden Maduro memimpin apa yang disebut sebagai “negara narkoba” serta melakukan manipulasi pemilu. Pemerintah Venezuela secara konsisten membantah tuduhan tersebut dan menilai AS memiliki kepentingan ekonomi terhadap cadangan minyak Venezuela yang merupakan salah satu terbesar di dunia.

Menariknya, sehari sebelum klaim penangkapan itu muncul, Nicolás Maduro menyatakan keterbukaannya untuk berdialog dengan Amerika Serikat. Dalam wawancara dengan televisi pemerintah Venezuela yang dikutip BBC News, Maduro menyampaikan kesiapan untuk membahas isu perdagangan narkoba dan minyak dengan AS, serta menyatakan dialog dapat dilakukan kapan pun dan di mana pun.

Dalam wawancara yang sama, Maduro juga menghindari pertanyaan terkait pernyataan Trump sebelumnya mengenai dugaan serangan AS terhadap fasilitas dermaga di Venezuela. Ia hanya menyebut isu tersebut dapat dibahas dalam beberapa hari ke depan.

BBC News melaporkan bahwa dalam tiga bulan terakhir, Amerika Serikat meningkatkan aktivitas militernya di kawasan Karibia dan Pasifik timur dengan dalih operasi pemberantasan narkoba. Militer AS dikabarkan telah melakukan lebih dari 30 serangan terhadap kapal yang diduga membawa narkotika, dengan total korban tewas dilaporkan melebihi 110 orang. Serangan terbaru terjadi pada Rabu lalu, ketika dua kapal diserang dan menewaskan lima orang.

Selain itu, Trump juga disebut telah meningkatkan nilai hadiah bagi informasi yang mengarah pada penangkapan Maduro, serta mempertimbangkan penetapan pemerintah Venezuela sebagai Foreign Terrorist Organization (FTO). Pemerintah Venezuela kembali membantah tuduhan tersebut dan menilai perang melawan narkoba dijadikan dalih untuk menjatuhkan pemerintahan yang sah.

Sejumlah pakar kontra-narkotika internasional menilai peran Venezuela dalam jaringan perdagangan narkoba global relatif terbatas dan lebih berfungsi sebagai negara transit. Meski demikian, kebijakan agresif AS terhadap Venezuela terus berlanjut, termasuk penyitaan kapal tanker minyak Venezuela yang dituding melanggar sanksi internasional. Pemerintah Venezuela menyebut tindakan tersebut sebagai bentuk “pembajakan internasional”.

(Bet)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses