Ragam

Diduga Karena Kalah Saing Dengan Pasar Online, Para Pedagang di Pasar Konvesional Plaza Garut Mengeluh Resah

186
×

Diduga Karena Kalah Saing Dengan Pasar Online, Para Pedagang di Pasar Konvesional Plaza Garut Mengeluh Resah

Sebarkan artikel ini

Hallonusantara.com || GARUT- Diduga, akibat dari menurunnya daya beli masyarakat sekarang ini terhadap pasar, menjadikan keluhan para pedagang. Terlihat pada kondisi pusat perbelanjaan yang sepi pembeli, seperti disalah satu pusat perbelanjaan paling strategis di Kota Garut yaitu Garut Plaza.

Padahal seperti yang diungkapkan salah satu pedagang dilokasi tersebut yang bernama Khairul (50), diwaktu satu bulan menuju Ramadhan seperti sekarang ini adalah harapan para pedagang untuk meraup keuntungan lebih dari biasanya.

“Namun, hampir setiap hari kondisi di salah satu pusat perbelanjaan yang paling strategis karena berada di pusat kota Garut letaknya, yaitu Pusat Perbelanjaan Garut Plaza. Suasana pasar terlihat sepi dari pengunjung,” ujarnya, Selasa (21/02/2023).

“Lorong-lorong antara blok kios-kios yang ada di dalamnya terlihat lenggang, kosong, tidak ada aktivitas jual beli di toko-tokonya. Bahkan ada beberapa toko atau kios yang terlihat tutup. Sebagian pedagang atau yang punya kios memilih tutup sementara atau bahkan ada yang sudah ditempelin tulisan bahwa toko atau kios mau dijual,” tambah Khairul.

Khairul juga menjelaskan kondisi seperti ini berawal semenjak adanya pandemi Covid 19, awal tahun 2020 dua tahun yang lalu. Diperparah lagi dengan pemberlakuan aturan PPKM.

“Di mana Garut berada pada level zona merah pada saat itu. Sehingga Pusat Perbelanjaan khususnya Garut Plaza harus ditutup total selama kurang lebih satu bulan,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Khairul menduga bahwa kondisi pasar konvensional sekarang ini kalah saing dengan pasar online yang dari berbagai aplikasi market. Di mana para konsumen dimanjakan dengan berbagai barang dengan harga yang relatif murah.

“Kami sekarang hanya bisa berharap. Bagaimana tindakan atau kebijakan pemerintah untuk memulihkan kembali daya beli masyarakat yang semakin menurun ini. Sebab apa? Berbagai bantuan-bantuan tunai yang selama ini diberikan pemerintah ke masyarakat. Tidak ada pengaruhnya sama sekali terhadap daya beli masyarakat. Terus kami berharap, pemerintah sebisa mungkin mengeluarkan aturan khusus buat para pelaku aplikasi belanja online, agar tidak mematikan pasar konvensional seperti kami ini,” tutpnya.

Dalam kesempatan yang sama, tak berdeda denga Khairul, salah satu pedagang juga memberikan keterangan.

“Kami sekarang di sini kalau dibilang sudah kehilangan semangat buat buka kios. Berangkat dari rumah hanya sebatas menjalankan kewajiban ikhtiar saja. Hasilnya. Ya, hanya bisa bertawakal saja sama Tuhan yang Maha Esa. Tahun-tahun ini omset penjulan menurun hampir 50% dari sebelum adanya wabah covid-19.” Ungkap Jang Tana, pemilik kios pakaian dalam. (Yanto)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses