Hallonusantara.com || Cianjur – Pergerakan tanah yang terjadi di Kampung Cibuntu RT 01/RW 01, Desa Cibanteng, Kecamatan Sukaresmi, Kabupaten Cianjur, terus menunjukkan peningkatan signifikan dalam dua tahun terakhir. Hingga November 2025, fenomena tersebut dilaporkan semakin meluas dan menimbulkan kerusakan serius pada lahan pertanian serta mengancam keselamatan permukiman warga.
Kepala Desa Cibanteng, Muryani, Rabu (28/1/2026), mengatakan hasil pemantauan dan kajian dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menunjukkan bahwa kawasan pergerakan tanah berada di jalur aliran air yang berpotensi memperparah instabilitas tanah apabila tidak segera ditangani.
“PVMBG merekomendasikan agar aliran air di lokasi pergerakan tanah segera dialihkan supaya tidak terjadi genangan. Selain itu, area tersebut perlu ditanami tanaman keras untuk memperkuat struktur tanah,” ujar Muryani.
Berdasarkan hasil kajian tersebut, lahan seluas kurang lebih lima hektare yang sebelumnya digunakan sebagai sawah disarankan untuk dialihfungsikan. Tanaman keras yang direkomendasikan antara lain kopi, pala, petai, serta berbagai jenis tanaman produktif lainnya dengan sistem perakaran kuat. Pembukaan lahan baru di zona rawan pergerakan tanah juga direkomendasikan untuk dihentikan.
Muryani mengakui, alih fungsi lahan tersebut berpotensi berdampak pada penghasilan warga yang selama ini bergantung pada sektor pertanian sawah. Namun, pemerintah desa tengah mengupayakan solusi melalui koordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup.
“Kami mendorong program penghijauan. Nantinya warga yang menanam dan merawat tanaman keras tersebut akan mendapatkan uang pengganti. Program ini sedang kami tindak lanjuti sebagai langkah mitigasi sekaligus solusi ekonomi,” jelasnya.
Penanganan pergerakan tanah di Kampung Cibuntu juga melibatkan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) yang didampingi oleh tim teknis dari PVMBG. Upaya ini dilakukan untuk meminimalkan risiko lanjutan dan mencegah terjadinya longsor besar di wilayah Desa Cibanteng.
Dalam menghadapi cuaca ekstrem, pemerintah desa bersama aparat kewilayahan menetapkan status siaga. Warga diminta meningkatkan kewaspadaan, khususnya bagi permukiman yang berada di dekat tebing dan jalur longsoran.
“Kami mengimbau RT dan RW untuk membuat jadwal ronda dan siaga 24 jam. Jika hujan deras terjadi dan muncul tanda-tanda longsor, rumah yang berada di area rawan harus segera dikosongkan demi keselamatan penghuninya,” pungkas Muryani.
Pergerakan tanah di wilayah Sukaresmi ini menjadi perhatian serius mengingat potensi dampak yang lebih luas apabila tidak ditangani secara berkelanjutan dan terintegrasi.
(Bet)













