Daerah

UGM: Pengembangan Geotermal Harus Seimbangkan Energi Bersih, Ketahanan Pangan, dan Kelestarian Lingkungan

44
×

UGM: Pengembangan Geotermal Harus Seimbangkan Energi Bersih, Ketahanan Pangan, dan Kelestarian Lingkungan

Sebarkan artikel ini

Hallo Nusantara | Cianjur – Pengembangan energi panas bumi (geotermal) di Indonesia dinilai harus dilakukan secara terpadu dengan mengedepankan keseimbangan antara kebutuhan energi bersih, penguatan sektor pertanian, serta pelestarian lingkungan. Pendekatan tersebut dinilai menjadi kunci agar pemanfaatan panas bumi tidak hanya menghasilkan listrik, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat tanpa mengorbankan keberlanjutan sumber daya alam.Senin. 30/6/2026.

Pandangan tersebut disampaikan Dr. Pri Utami, peneliti dari Pusat Penelitian Panas Bumi, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada (UGM), dalam wawancara khusus bersama Redaksi Hallonusantara.com.

Menurut Pri Utami, Indonesia saat ini menghadapi tantangan besar untuk memenuhi kebutuhan energi sekaligus menjaga ketahanan pangan dan kualitas lingkungan. Oleh karena itu, pengembangan geotermal harus dirancang dengan konsep pembangunan berkelanjutan yang mengintegrasikan kepentingan ekonomi, sosial, dan lingkungan secara seimbang.

Ia menjelaskan, proyek panas bumi ideal tidak berhenti pada produksi listrik, tetapi juga harus mampu memberikan manfaat langsung kepada masyarakat sekitar, khususnya petani. Energi panas bumi dapat dimanfaatkan untuk mendukung pengeringan hasil panen, pengolahan pangan, penyimpanan hasil pertanian, hingga berbagai kegiatan produktif yang meningkatkan nilai tambah komoditas lokal.

“Konsep pengembangan geothermal yang ideal di Indonesia harus mampu menyeimbangkan tiga kebutuhan besar, yaitu energi bersih, ketahanan pangan, dan pelestarian lingkungan. Artinya, proyek panas bumi tidak hanya fokus pada listrik, tetapi juga memberi manfaat langsung bagi masyarakat sekitar, khususnya petani, sambil menjaga ekosistem dan sumber daya air,” ujar Pri Utami.

Ia menegaskan bahwa aspek lingkungan harus menjadi perhatian utama dalam setiap tahapan pengembangan panas bumi. Pengelolaan kawasan geotermal perlu dilakukan secara hati-hati agar tidak mengganggu keseimbangan ekosistem, menjaga kelestarian hutan, serta melindungi sumber-sumber air yang menjadi penopang kehidupan masyarakat dan aktivitas pertanian.

Selain itu, Pri Utami menilai keterlibatan masyarakat lokal sejak tahap perencanaan hingga operasional menjadi faktor penting dalam menciptakan pembangunan yang berkelanjutan. Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah, pengembang, akademisi, dan masyarakat akan memperkuat kepercayaan publik sekaligus memastikan manfaat ekonomi dapat dirasakan secara merata.

Dalam konteks pembangunan nasional, ia menilai geotermal memiliki posisi strategis karena mampu mendukung target transisi energi menuju sumber energi rendah emisi sekaligus memperkuat ketahanan pangan melalui pemanfaatan langsung di sektor pertanian.

Pri Utami berharap kebijakan pemerintah ke depan tidak hanya berorientasi pada peningkatan kapasitas pembangkit listrik panas bumi, tetapi juga mendorong lahirnya berbagai inovasi yang menghubungkan sektor energi dengan pertanian, industri pangan, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.

“Keberhasilan pengembangan panas bumi tidak hanya diukur dari megawatt listrik yang dihasilkan, tetapi juga dari sejauh mana energi tersebut mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat, memperkuat ketahanan pangan, serta menjaga kelestarian lingkungan bagi generasi mendatang,” tuturnya.

(Bet)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses