Hallonusantara.com || CIANJUR-Program peningkatan mutu pendidikan madrasah tahun 2023 dimulai. Hal itu ditandai dengan Kick Off Implementasi Realizing Educations’s Promises Madrasah Education Quality Reform atau REP-MEQR Project Project Tahun 2023 oleh Menag Yaqut Cholil Qoumas.
Berlangsung di hotel Novus Cipanas, Cianjur, Kick off implementasi program ini dihadiri ketua DPR RI HC Puan Maharani, wakil ketua Komisi VIII DPR RI Diah Pitaloka, Direktur GTK Madrasah Dr. Muhammad zain M.Ag Pendidikan Islam Muhammad Ali Ramdhani, dan jajaran pejabat eselon II Ditjen Pendis. Hadir juga, seluruh perwakilan Kepala Bidang Pendidikan Madrasah atau Pendidikan Islam dari 34 Kanwil Kemenag Provinsi di Indonesia.
REP-MEQR Project adalah proyek yang diinisiasi Kementerian Agama dengan dukungan dari Bappenas dan Bank Dunia dengan target utama peningkatan Mutu Pendidikan Madrasah. Bergulir sejak 2019, program ini sudah memasuki tahun ketiga. Program ini menyasar 34 Provinsi di Indonesia dengan jumlah penerima manfaat mencapai 50.000 Madrasah serta 300.000 Guru, Tenaga Pendidik dan manajemen di tingkat pusat dan daerah.
Kick off implementasi program ini diawali dengan paparan sejumlah capaian project dan inovasi di bidang teknologi yang telah dilakukan. Inovasi itu antara lain terkait tata kelola keuangan madrasah, pengukuran kemampuan siswa, pengembangan sistem data pendidikan Islam, serta pengembangan keprofesian berkelanjutan untuk guru, kepala Madrasah dan tenaga Kependidikan.
Kementerian Agama (Kemenag) mengapresiasi capaian dan program REP-MEQR yang telah berjalan. Namun dia mengingatkan, Madrasah Reform harus memberi penguatan pada digitalisasi Madrasah. Hal itu sejalan dengan program prioritas Kemenag, yakni Transformasi Digital.
“Program ini harus fokus mendorong akselerasi digitalisasi: membuat infrastruktur digital yang lebih kuat dan inklusif, meningkatkan literasi digital bagi kalangan madrasah, bahkan berkontribusi bagi lahirnya talenta-talenta digital madrasah yang mumpuni,” ungkap Dr Muhammad zain , Rabu ( 01.03.2023)
Selain itu, kata Muhammad zain, Moderasi Beragama juga diwajibkan ada dalam setiap kegiatan REP-MEQR Project. Madrasah, harus menjadi lembaga pendidikan yang moderat, termasuk bagi guru maupun siswa.
“Penguatan moderasi beragama harus dilakukan di setiap program Madrasah Reform ini. Pendidik dan peserta didik harus memiliki cara pandang beragama yang moderat, karena Indonesia ini secara kodradi adalah beragam,” tandasnya. (Anwar)













