Hallonusantara.com || Cianjur — Pergerakan tanah di Kampung Cibuntu RT 01/01, Desa Cibanteng, Kecamatan Sukaresmi, kembali menunjukkan peningkatan dan kini memasuki tahap darurat. Retakan yang mulai muncul dua tahun terakhir kembali meluas sejak awal November 2025.
Data pemantauan lapangan mencatat satu rumah warga ambruk dengan kedalaman sekitar empat meter. Selain itu, badan jalan desa mengalami longsor sepanjang enam meter akibat intensitas hujan yang meningkat dan melemahkan struktur tanah di wilayah terdampak.
Dampak Meluas hingga Kampung Cihonje
Pergerakan tanah dari wilayah Cibuntu turut dirasakan di Desa Kubang, tepatnya Kampung Cihonje di Kedusunan 03. Pergeseran material tanah berdampak pada perubahan kualitas air untuk kebutuhan rumah tangga.
Yan, warga setempat, menyampaikan setelah peninjauan lokasi pada Senin (24/11/2025), getaran masih terjadi hampir setiap hari.
“Pergerakan tanah menimbulkan dentuman atau getaran siang dan malam. Air untuk kebutuhan rumah tangga sekarang keruh seperti lumpur, sehingga warga mengandalkan air hujan yang ditampung,” ujarnya.

Warga melakukan ronda malam sebagai langkah kewaspadaan dan mengajukan permintaan penyaluran air bersih karena jaringan pipa terdampak longsoran.
Keterangan Pemerintah Desa Kubang
Kepala Desa Kubang, Agus Sufyan Hidayat, membenarkan bahwa pergerakan tanah dari Kampung Cibuntu RT 01/01 Desa Cibanteng telah memengaruhi wilayahnya.
“Ada dua dampak utama, yaitu gangguan air bersih dan lahan pertanian warga. Sekitar 20 petani terdampak karena sawah mereka terkena pergeseran tanah,” katanya saat dikonfirmasi di kantor desa.
Agus menjelaskan kebutuhan air bersih menjadi mendesak bagi warga di RT 01 hingga RT 05 Dusun 03 dan mulai meluas ke RT 07 serta RT 08.
“Saluran air utama tertutup material longsoran. Kami mengharapkan BPBD Kabupaten Cianjur segera melakukan peninjauan dan penanganan,” ujarnya.
Kondisi Terkini di Lokasi
Hasil pengamatan sementara menunjukkan:
lebar longsoran sekitar 150 meter
ketinggian tebing mencapai 50 meter
jangkauan material kurang lebih dua kilometer
kerusakan lahan diperkirakan 50 hektare
berada di perbatasan Kampung Cibuntu–Cihonje
Warga yang tidak memiliki akses air alternatif kini menampung air hujan untuk kebutuhan mandi dan wudu.
Langkah Penanganan yang Diajukan
Pemerintah desa melakukan pemantauan berkala dan ronda malam karena pergerakan tanah masih dilaporkan berlangsung seiring cuaca ekstrem.
Kebutuhan mendesak yang diajukan warga mencakup:
- Pemasangan jaringan pipa air bersih
- Normalisasi saluran yang tertutup material longsoran
- Peninjauan teknis dari BPBD dan instansi terkait
(Bet)













