HukumPeristiwa

Insiden Kekerasan Warnai Mobilisasi Alat Berat PSPE Cipanas, Warga Kampung Ciguntur Lapor Polisi

102
×

Insiden Kekerasan Warnai Mobilisasi Alat Berat PSPE Cipanas, Warga Kampung Ciguntur Lapor Polisi

Sebarkan artikel ini

Hallonusantara.com || Cianjur – Mobilisasi alat berat proyek geothermal PSPE Cipanas yang melintasi Kampung Ciguntur, Desa Cipendawa, Kecamatan Pacet, Kabupaten Cianjur, diwarnai insiden kekerasan. Seorang warga setempat melaporkan dugaan penganiayaan yang dialaminya ke pihak kepolisian, Senin malam (26/1/2026).

Peristiwa terjadi sekitar pukul 20.48 WIB, saat dua unit alat berat jenis Backhoe Loader dan Compactor memasuki wilayah Kampung Ciguntur dengan pengawalan aparat gabungan. Mobilisasi tersebut merupakan bagian dari kegiatan pembukaan akses jalan proyek geothermal PSPE Cipanas.

Situasi mulai memanas sekitar pukul 21.00 WIB. Berdasarkan keterangan sejumlah saksi di lokasi, sekelompok orang yang sebagian berasal dari luar Kampung Ciguntur mendatangi area lintasan alat berat. Perbedaan pandangan terkait proyek geothermal diduga menjadi pemicu ketegangan yang kemudian berujung pada kericuhan.

Dalam insiden tersebut, Abdul Walid (65), warga Kampung Ciguntur, mengaku menjadi korban pemukulan. Ia menyebut mengalami intimidasi hingga kekerasan fisik setelah dituduh mendukung proyek dan terlibat dalam pemberian izin akses jalan.

“Saya diteriaki dan dituduh mendukung proyek. Saat hendak meninggalkan lokasi, saya dipukul dan ditendang sampai terjatuh,” ujar Walid kepada wartawan, Selasa (27/1/2026).

Akibat kejadian itu, Walid mengalami luka pada bagian wajah, mata kanan, dan kepala. Ia sempat menjalani pemeriksaan medis, termasuk CT Scan, sebelum melaporkan dugaan penganiayaan tersebut secara resmi ke Polres Cianjur.

Walid menegaskan dukungannya terhadap proyek geothermal PSPE Cipanas karena dinilai membawa manfaat bagi masyarakat sekaligus lingkungan. Menurutnya, proyek tersebut tidak hanya berdampak pada pembangunan infrastruktur dan ekonomi warga, tetapi juga pada upaya pemulihan kawasan hutan.

“Saya mendukung geothermal karena banyak manfaatnya. Proyek ini ramah lingkungan. Dengan adanya geothermal, hutan yang sebelumnya gundul bisa dihijaukan kembali melalui program penghijauan dan penataan lingkungan,” kata Walid.

Ia menambahkan, pembangunan akses jalan yang lebih baik juga akan berdampak langsung pada peningkatan perekonomian masyarakat sekitar.
“Kalau jalannya bagus, perekonomian warga ikut bergerak. Itu sebabnya saya mendukung proyek ini,” tegasnya.

Sementara itu, seorang saksi di lokasi menyebutkan bahwa kondisi malam hari dengan pencahayaan terbatas menyulitkan identifikasi pihak-pihak yang terlibat. Massa yang hadir disebut datang secara berkelompok dan sebagian bukan warga setempat.

Ketua RW 11 Kampung Ciguntur, Dede, membenarkan adanya insiden kekerasan tersebut. Menurutnya, warga setempat segera mengamankan korban untuk mencegah situasi berkembang menjadi konflik yang lebih luas.

“Korban langsung kami amankan dan dibawa untuk mendapatkan perawatan medis. Kami berupaya menenangkan situasi agar tidak terjadi bentrokan lanjutan,” ujar Dede.

Ia mengimbau seluruh pihak agar menahan diri dan menyerahkan penanganan peristiwa ini sepenuhnya kepada aparat penegak hukum.

“Perbedaan pendapat itu wajar, tapi tidak boleh diselesaikan dengan kekerasan. Aspirasi masyarakat seharusnya disampaikan melalui dialog dan musyawarah,” pungkasnya.

(Bet)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses