Hallonusantara.com || Cianjur — Guru Besar Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran, Prof. Dr. Ir. H. Nana Sulaksana, MSP, meminta penyampaian informasi mengenai energi panas bumi dilakukan berdasarkan data ilmiah dan hasil penelitian yang dapat dipertanggungjawabkan.
Dalam wawancara di Cianjur, Selasa (26/5/2026), Nana mengatakan berbagai penelitian terkait panas bumi telah dipublikasikan dalam jurnal ilmiah dan melalui proses penelaahan oleh para ahli sebelum diterbitkan.
Menurut dia, hasil penelitian tersebut dapat diakses publik sebagai sumber informasi mengenai dampak, sistem kerja, hingga pengelolaan lingkungan pada proyek panas bumi.
“Literatur dan jurnal penelitian tentang panas bumi dapat dicari dan dipelajari masyarakat karena seluruhnya berbasis data serta fakta ilmiah,” kata Nana.
Ia menjelaskan pemanfaatan panas bumi di Indonesia menggunakan sistem panas bumi alami yang berasal dari aktivitas magma di dalam bumi. Sistem tersebut berbeda dengan metode eksperimen yang pernah dilakukan di Korea Selatan.
Nana mengatakan proyek panas bumi di Indonesia tidak menggunakan metode penyuntikan air bertekanan tinggi ke dalam bumi yang dapat memicu pergerakan sesar aktif.
Menurut dia, aktivitas operasional panas bumi memang dapat memunculkan getaran mikro yang hanya terbaca alat pemantau khusus. Namun getaran tersebut sangat kecil dan tidak menimbulkan kerusakan di lingkungan sekitar.
Ia juga menjelaskan pembangkit listrik tenaga panas bumi dinilai lebih ramah lingkungan karena tidak melalui proses pembakaran bahan bakar fosil dalam menghasilkan energi listrik.
Dalam prosesnya, uap panas bumi digunakan untuk menggerakkan turbin generator, sedangkan cairan serta gas buangan dikelola menggunakan teknologi pengendalian lingkungan sesuai standar operasional yang berlaku.
Selain aspek energi, Nana menyebut keberadaan proyek panas bumi dapat mendorong perputaran ekonomi masyarakat di sekitar wilayah pengembangan. Peluang usaha yang dapat tumbuh antara lain jasa konstruksi, penyediaan logistik, katering, perdagangan, hingga tenaga kerja pendukung proyek.
Ia mengatakan masyarakat perlu mempersiapkan kemampuan dan sumber daya sejak awal agar dapat terlibat dalam aktivitas ekonomi yang muncul bersamaan dengan pengembangan proyek.
Nana juga menilai peran akademisi penting dalam menjembatani hasil penelitian dengan pemahaman masyarakat. Menurut dia, informasi ilmiah perlu disampaikan dengan bahasa yang sederhana agar lebih mudah dipahami publik.
“Akademisi memiliki peran menerjemahkan hasil riset menjadi informasi yang mudah dipahami masyarakat,” ujarnya.
(Bet)













