Hallonusantara.com || CIANJUR – Upaya penanganan stunting di wilayah kerja Puskesmas Sukanagalih, Kecamatan Pacet, Kabupaten Cianjur, menunjukkan hasil positif. Berdasarkan data Puskesmas, prevalensi stunting sepanjang 2025 hingga periode Januari–Mei 2026 berhasil ditekan dan dipertahankan di bawah angka 5 persen.
Nutrisionis Puskesmas Sukanagalih, Syafa Ainur, mengatakan capaian tersebut merupakan hasil kolaborasi tenaga kesehatan bersama berbagai program lintas sektor dalam memberikan intervensi gizi secara berkelanjutan kepada kelompok sasaran.
“Dari tahun 2025 hingga 2026 terjadi penurunan angka stunting. Kami bersama berbagai program kesehatan terus melakukan intervensi, baik yang bersifat spesifik maupun sensitif, sehingga hasilnya dapat terlihat di masyarakat,” ujar Syafa. Jum’at. 26/6/2026.
Ia menjelaskan, berdasarkan data yang dihimpun Puskesmas, prevalensi stunting pada 2025 tercatat sebesar 2,8 persen. Sementara hingga Mei 2026, angka tersebut masih berada di bawah 5 persen.
Untuk memastikan penanganan berjalan tepat sasaran, Puskesmas Sukanagalih menerapkan strategi jemput bola melalui pendataan langsung dari kampung ke kampung. Kegiatan tersebut telah dilaksanakan di sejumlah wilayah, di antaranya Kampung Sukanagalih RT 02 RW 04 dan Kampung Jembar.
Selain pendataan, Puskesmas juga melakukan berbagai bentuk intervensi, mulai dari pemberian makanan tambahan (PMT) bagi balita yang mengalami masalah gizi, edukasi mengenai gizi seimbang dan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), hingga penyuluhan kepada ibu hamil tentang pentingnya 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) sebagai periode emas pencegahan stunting.
Syafa menambahkan, edukasi mengenai pemenuhan kebutuhan gizi juga terus diberikan kepada masyarakat. Balita dianjurkan memperoleh asupan energi sesuai Angka Kecukupan Gizi (AKG) berdasarkan usia, sedangkan ibu hamil dan ibu menyusui memerlukan tambahan energi sesuai usia kehamilan dan kondisi fisiologisnya untuk mendukung pertumbuhan janin serta produksi air susu ibu (ASI).
Menurutnya, keberhasilan menekan angka stunting tidak hanya bergantung pada pelayanan kesehatan, tetapi juga memerlukan dukungan keluarga, pemerintah desa, kader kesehatan, serta masyarakat dalam menerapkan pola makan bergizi dan menjaga kesehatan ibu maupun anak.
Puskesmas Sukanagalih berharap sinergi tersebut dapat terus dipertahankan sehingga prevalensi stunting di wilayah kerjanya tetap rendah dan kualitas kesehatan generasi mendatang semakin baik.
(Bet)












