Kesehatan

Puskesmas Sukanagalih Perkuat Intervensi Gizi, Targetkan Prevalensi Stunting di Bawah 5 Persen pada 2026

27
×

Puskesmas Sukanagalih Perkuat Intervensi Gizi, Targetkan Prevalensi Stunting di Bawah 5 Persen pada 2026

Sebarkan artikel ini

Hallonusantara.com | CIANJUR – UPTD Puskesmas Sukanagalih, Kecamatan Pacet, Kabupaten Cianjur, terus memperkuat upaya percepatan penurunan stunting dengan menargetkan prevalensi kasus berada di bawah 5 persen pada tahun 2026. Target tersebut sejalan dengan program Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan Pemerintah Kabupaten Cianjur dalam mempercepat penanganan stunting.

 

Kepala UPTD Puskesmas Sukanagalih, Utari Doriomas, mengatakan tren prevalensi stunting di wilayah kerjanya menunjukkan penurunan dari tahun ke tahun. Berdasarkan data yang mengacu pada Survei Status Gizi Indonesia (SSGI), angka stunting di Kabupaten Cianjur terus mengalami perbaikan.

 

“Pada 2023 prevalensinya masih sekitar sembilan persen, kemudian turun menjadi 7,5 persen pada 2024. Tren penurunan itu berlanjut hingga 2025 dan kami menargetkan pada 2026 angkanya dapat berada di bawah lima persen,” ujar Utari. Jum’at. 26/6/2026

 

Untuk mencapai target tersebut, Puskesmas Sukanagalih mengoptimalkan berbagai program intervensi gizi yang menyasar kelompok rentan, mulai dari anak sekolah, balita, ibu hamil hingga calon pengantin.

 

Salah satu program yang dijalankan ialah pemberian makanan bergizi bagi anak sekolah serta Program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) Lokal yang didanai melalui Bantuan Operasional Kesehatan (BOK) Puskesmas. Dalam pelaksanaannya, penyediaan makanan melibatkan pihak ketiga agar distribusi kepada penerima manfaat berjalan lebih efektif.

 

PMT Lokal diprioritaskan bagi balita yang mengalami stunting, wasting atau kondisi gizi kurang, serta underweight atau berat badan di bawah standar sesuai usianya.

 

Selain intervensi gizi, Puskesmas juga melakukan pemantauan kondisi kesehatan masyarakat di tiga desa wilayah kerjanya, yakni Desa Sukanagalih, Desa Gadog, dan Desa Cibodas.

 

Berdasarkan data terbaru, ketiga desa tersebut telah mencatat prevalensi stunting di bawah lima persen. Desa Gadog menjadi wilayah dengan angka stunting terendah, disusul Desa Cibodas, sementara Desa Sukanagalih masih mencatat angka tertinggi dibanding dua desa lainnya meski tetap berada di bawah target lima persen.

 

Utari menegaskan, upaya pencegahan tidak hanya difokuskan pada balita, tetapi dimulai sejak sebelum kehamilan. Sasaran utamanya meliputi ibu hamil dengan risiko Kekurangan Energi Kronis (KEK), remaja putri, dan calon pengantin.

 

“Kami ingin pencegahan dilakukan dari hulu sehingga tidak muncul kasus stunting baru. Ibu hamil yang mengalami KEK mendapatkan PMT Lokal agar kondisi gizi ibu membaik dan bayi dapat lahir sehat,” katanya.

 

Sebagai bagian dari inovasi pelayanan, Puskesmas Sukanagalih juga menjalankan program Kampung Emas di seluruh desa. Melalui program tersebut, setiap calon pengantin mengikuti sekolah calon pengantin yang dilaksanakan di Tempat Mandiri Praktik Bidan (TPMB) maupun lokasi yang telah ditentukan di masing-masing desa.

 

Di sisi lain, Puskesmas secara rutin menggelar Kelas Ibu Hamil sebanyak empat kali pertemuan untuk setiap kelompok peserta. Materi yang diberikan meliputi pemenuhan gizi selama kehamilan, pola asuh anak, kesehatan reproduksi, hingga pengelolaan keuangan keluarga.

 

Menurut Utari, pembekalan tersebut diharapkan mampu meningkatkan kesiapan keluarga dalam menghadapi kehamilan dan pengasuhan anak, sekaligus mendukung upaya pencegahan stunting serta mewujudkan keluarga yang sehat, mandiri, dan sejahtera.

 

(Bet)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses