Hallonusantara.com || Cianjur – Pemanfaatan energi panas bumi (geotermal) di Indonesia dinilai memiliki potensi besar untuk mendorong transformasi sektor pertanian nasional. Selama ini geotermal lebih dikenal sebagai sumber pembangkit listrik, padahal di berbagai negara energi tersebut telah dimanfaatkan untuk mendukung budidaya pertanian, pengolahan hasil panen hingga memperkuat rantai distribusi pangan.
Hal tersebut disampaikan Dr. Pri Utami, peneliti dari Pusat Penelitian Panas Bumi, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada (UGM), dalam wawancara khusus bersama Redaksi Hallonusantara.com.Minggu. 28/6/2026
Menurut Pri Utami, Indonesia memiliki peluang besar mengembangkan pemanfaatan langsung energi panas bumi di sektor pertanian mengingat cadangan geotermal nasional termasuk yang terbesar di dunia. Namun, pemanfaatannya masih didominasi untuk pembangkit listrik sehingga potensi di sektor pangan belum tergarap optimal.
Ia menjelaskan, sejumlah negara seperti Islandia, Jepang, Turki, hingga Selandia Baru telah memanfaatkan panas bumi untuk menghangatkan rumah kaca (greenhouse), budidaya perikanan, hingga industri pengolahan susu dan pangan. Pemanfaatan tersebut mampu meningkatkan produktivitas sekaligus memperkuat ketahanan pangan.
“Indonesia sebenarnya memiliki peluang yang sama. Energi panas bumi dapat dimanfaatkan untuk pengeringan hasil pertanian, budidaya perikanan, pengolahan pangan hingga menjaga kualitas hasil panen sehingga memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi,” ujar Pri Utami.
Ia menambahkan, sejumlah daerah di Indonesia telah mulai menerapkan pemanfaatan panas bumi secara langsung. Di Lahendong, Sulawesi Utara, energi panas bumi digunakan dalam proses pengolahan gula aren sehingga menghasilkan produk berkualitas ekspor sekaligus mengurangi penggunaan kayu bakar. Sementara di Kamojang, Jawa Barat, panas bumi dimanfaatkan untuk pengeringan kopi, sedangkan di Patuha dimanfaatkan dalam pengeringan daun teh serta budidaya ikan.
Selain meningkatkan kualitas produk, energi panas bumi juga dinilai mampu menekan biaya produksi karena menyediakan sumber panas yang stabil sepanjang tahun. Kondisi tersebut membuat proses pengeringan tidak lagi bergantung pada cuaca, memperpanjang masa simpan produk, menekan biaya logistik, serta mengurangi emisi karbon dalam rantai pasok pertanian.
Pri Utami menilai, apabila potensi tersebut dikembangkan secara terintegrasi melalui kolaborasi antara pemerintah, akademisi, pelaku usaha, dan masyarakat, maka geotermal dapat menjadi salah satu fondasi penting dalam memperkuat ketahanan pangan sekaligus mendorong pembangunan ekonomi hijau di Indonesia.
(Bet)














