Hallonusanta.com || Cianjur – Meningkatnya banjir bandang di Kecamatan Pacet, Cigombong, Ciherang hingga Kecamatan Cipanas Kabupaten Cianjur kembali memicu sorotan terhadap kondisi kawasan hulu di sekitar Gunung Gede Pangrango. Aktivis lingkungan menilai bencana hidrometeorologi yang berulang di wilayah selatan Kabupaten Cianjur diduga berkaitan dengan alih fungsi lahan dan kerusakan kawasan konservasi di kaki gunung.
Ketua komunitas lingkungan Montana, Kang Kawat, menyatakan banjir Pacet–Cipanas yang belakangan semakin sering terjadi patut dikaji dari sisi perubahan fungsi lahan di kawasan hulu. Menurutnya, perubahan tutupan hutan menjadi lahan pertanian berpotensi mengurangi daya serap tanah terhadap air hujan dan meningkatkan risiko banjir bandang di wilayah hilir Cianjur.
“Kalau saya tetap konsisten menyampaikan, banjir yang sering terjadi di wilayah Pacet, Cigombong, Ciherang sampai Cipanas itu diduga kuat akibat perubahan fungsi kawasan di wilayah atas Gunung Gede. Alih fungsi lahan terjadi cukup signifikan dan berdampak pada lingkungan,” kata Kang Kawat saat diwawancarai media, Jumat (1/5).
Ia menjelaskan, kawasan hulu Gunung Gede Pangrango yang sebelumnya berupa hutan atau perkebunan kini diduga mengalami perubahan menjadi lahan pertanian terbuka. Kondisi tersebut dinilai membuat air hujan tidak lagi terserap optimal oleh tanah, sehingga aliran permukaan meningkat dan langsung mengarah ke kawasan permukiman warga di wilayah bawah seperti Pacet dan Cipanas.
Selain itu, Kang Kawat mengungkapkan komunitas lingkungan selama ini aktif berdiskusi dan memberikan edukasi lingkungan kepada masyarakat di kawasan atas, termasuk wilayah Sukatani dan Gunung Putri. Edukasi tersebut menekankan bahwa kerusakan kawasan hulu akan berdampak langsung pada masyarakat di wilayah hilir.
“Kami sering mengingatkan masyarakat bahwa jika pembukaan lahan dilakukan berlebihan di kawasan atas, maka dampaknya akan dirasakan warga di bawah. Ketika kawasan hulu rusak, risiko banjir dan longsor di wilayah bawah otomatis meningkat,” ujarnya.
Ia juga menilai secara kasat mata aktivitas pertanian di kaki Gunung Gede Pangrango semakin mendekati bahkan masuk ke area yang semestinya menjadi kawasan konservasi pegunungan. Menurutnya, kondisi ini perlu menjadi perhatian serius untuk mencegah kerusakan ekosistem yang lebih luas.
“Kalau kita lihat langsung di lapangan, kawasan pertanian sudah mengarah ke wilayah hutan di kaki gunung bahkan masuk ke area gunung. Padahal kawasan itu seharusnya menjadi wilayah konservasi yang tidak diperuntukkan bagi aktivitas pertanian,” tegasnya.
Kang Kawat pun mendorong pengembalian fungsi kawasan konservasi melalui penghijauan dan perlindungan hutan dari aktivitas penebangan liar maupun pembukaan lahan tanpa pengawasan.
“Harapan saya fungsi kawasan itu dikembalikan sebagaimana mestinya. Kawasan konservasi harus kembali menjadi hutan, bukan lahan pertanian. Pohon jangan ditebang oleh oknum yang tidak bertanggung jawab,” katanya.
Selain persoalan alih fungsi lahan, ia juga menyoroti perkembangan pariwisata pendakian di Gunung Gede Pangrango yang menurutnya perlu dikelola secara lebih ketat agar tidak mempercepat kerusakan kawasan hutan.
“Kalau kita lihat jalur pendakian saja sekarang kerusakannya cukup parah, bahkan kedalamannya bisa lebih dari satu meter sehingga air hujan tidak terserap dengan baik. Jika pariwisata terus berkembang, seharusnya dikelola secara terkontrol agar tidak merusak kawasan,” ujarnya.
Meski demikian, terkait tanggung jawab pengelolaan kawasan konservasi, Kang Kawat memilih tidak memberikan komentar lebih jauh dan menyarankan agar hal tersebut dikonfirmasi langsung kepada pihak pengelola kawasan.
“Saya sebagai aktivis lingkungan tidak berkomentar terkait hal itu. Untuk persoalan tersebut sebaiknya ditanyakan langsung kepada pihak pengelola kawasan,” katanya.
Sementara itu, seorang petani berinisial AD (60) yang telah puluhan tahun berkebun di wilayah Ciguntur, eks HGU, mengaku merasakan perubahan pola aliran air dari kawasan atas Gunung Gede dalam beberapa tahun terakhir.
Menurutnya, saat hujan deras turun, air dari kawasan hulu kini mengalir lebih cepat dan deras, berbeda dengan kondisi beberapa tahun lalu ketika aliran air masih tertahan oleh vegetasi dan tutupan hutan.
“Kalau dibandingkan dulu dengan sekarang, air dari atas sekarang langsung turun ketika hujan deras. Dulu masih tertahan, sekarang tidak. Akibatnya kebun di bawah sering rusak karena air dari atas tidak terkendali,” kata AD.
Ia juga mengaku mendapat informasi dari sejumlah petani lain bahwa di kawasan atas diduga terjadi pembukaan lahan baru yang sebelumnya merupakan kawasan hutan dan kini dimanfaatkan sebagai ladang pertanian.
“Dari informasi teman-teman petani, di atas sana sudah ada pembukaan lahan yang sebelumnya hutan lalu dijadikan ladang. Kami yang di bawah akhirnya merasakan dampaknya,” ujarnya.
Para aktivis lingkungan berharap pemerintah daerah, aparat kehutanan, dan pengelola kawasan konservasi Gunung Gede Pangrango dapat melakukan evaluasi menyeluruh terhadap perubahan fungsi lahan di kawasan hulu. Langkah tersebut dinilai penting untuk mencegah kerusakan ekosistem pegunungan dan mengurangi risiko banjir bandang di wilayah Pacet–Cipanas Cianjur di masa mendatang.
(Bet)













