BencanaDaerah

Banjir Lumpur Terjang Cipanas Dua Hari Berturut-turut, Warga Desak Penelusuran Kondisi Lahan di Hulu

31
×

Banjir Lumpur Terjang Cipanas Dua Hari Berturut-turut, Warga Desak Penelusuran Kondisi Lahan di Hulu

Sebarkan artikel ini

Hallonusantara.com || Cianjur – Banjir air bercampur lumpur menerjang permukiman warga di Kampung Ciseureh RT 01/RW 06, Desa Batulawang, Kecamatan Cipanas, Kabupaten Cianjur selama dua hari berturut-turut. Peristiwa tersebut terjadi setelah hujan deras mengguyur kawasan Cipanas sejak Kamis (30/4/2026) hingga Jumat (1/5/2026).

 

Aliran air yang datang dari kawasan hulu pegunungan membawa material lumpur ke permukiman warga yang berada di bawah lereng. Kondisi tersebut membuat warga khawatir karena banjir terjadi secara berulang dalam waktu yang berdekatan.

 

Tokoh agama setempat, Ustaz Muhammad Tajudin yang akrab disapa Abi, menjelaskan banjir lumpur pertama kali terjadi pada Kamis sekitar pukul 17.00 WIB ketika hujan turun dengan intensitas tinggi di wilayah Cipanas.

 

Menurutnya, hujan deras yang terjadi dalam waktu relatif singkat membuat debit air dari kawasan pegunungan di atas kampung meningkat cepat hingga akhirnya mengalir ke permukiman warga.

 

“Awalnya hujan sangat deras. Tidak lama kemudian warga mulai ramai karena air sudah masuk ke kampung. Beberapa rumah lebih dulu terkena lumpur,” kata Tajudin saat ditemui wartawan, Sabtu (2/5/2026).

 

Warga kemudian bergotong royong membersihkan lumpur yang masuk ke rumah dan jalan lingkungan pada malam hari. Namun, situasi serupa kembali terjadi pada Jumat sore ketika hujan kembali turun dengan intensitas tinggi.

 

“Setelah salat Jumat sekitar pukul tiga sore hujan turun lagi. Warga sudah bersiap karena khawatir kejadian yang sama terulang. Air yang datang lebih keruh dan membawa lumpur lebih banyak,” ujarnya.

 

Tajudin menjelaskan aliran air bercampur lumpur tersebut berasal dari kawasan Gunung Baut yang berada di bagian hulu tepat di atas permukiman warga.

 

Ia juga menyampaikan bahwa beberapa tahun lalu dirinya pernah mengingatkan warga agar berhati-hati terhadap aktivitas pembukaan lahan di dua bukit yang berada dekat dengan kampung karena memiliki kemiringan yang cukup curam.

 

“Saya pernah mengingatkan agar dua gunung yang dekat dengan kampung tidak diganggu karena kemiringannya cukup berbahaya. Jika hujan deras turun, air bisa langsung mengalir ke kampung,” katanya.

 

Untuk memastikan kondisi kawasan atas, Tajudin meninjau langsung wilayah hulu pada Sabtu pagi. Dari hasil peninjauan tersebut, ia melihat sejumlah area yang sebelumnya berupa vegetasi alami kini telah dibuka dan dimanfaatkan sebagai lahan perkebunan.

 

“Saya melihat beberapa area di atas sudah menjadi kebun. Jalur aliran air ke kampung juga tidak terlihat jelas lagi,” ujarnya.

 

Ia juga mengaku sempat merekam kondisi di lokasi tersebut dalam sebuah video yang kemudian dibagikan kepada warga sebagai informasi mengenai kondisi lahan di kawasan hulu.

 

“Di lokasi itu saya membuat video untuk menunjukkan kondisi di atas agar warga mengetahui situasi sebenarnya di lahan tersebut,” kata Tajudin.

 

Selain itu, ia menyebut sebagian saluran air di bagian bawah kampung juga tertutup material tanah dan akar yang terbawa arus dari kawasan atas sehingga memperparah aliran lumpur yang masuk ke permukiman.

 

Tajudin berharap pemerintah daerah dapat meninjau langsung kondisi kawasan hulu yang berada di atas permukiman warga guna memastikan faktor penyebab banjir lumpur tersebut.

 

“Perlu ada perhatian serius dari pemerintah karena kemiringan lahan di atas kampung cukup ekstrem. Jika tidak ditangani, potensi bencana bisa terjadi kembali,” ujarnya.

 

Kesaksian serupa disampaikan Wahyu Somantri, warga Kampung Ciseureh RT 01/RW 06 yang rumahnya turut terdampak banjir lumpur selama dua hari tersebut.

 

Wahyu mengatakan material lumpur yang masuk ke kampung menyebabkan kerusakan pada sejumlah rumah warga dan menimbulkan kerugian materi.

 

“Saya sendiri terkena dampaknya. Dua hari berturut-turut air dan lumpur masuk ke kampung,” kata Wahyu.

 

Ia berharap aktivitas pengelolaan lahan di kawasan atas gunung memperhatikan dampaknya terhadap warga yang tinggal di bagian bawah.

 

“Kami berharap yang berkebun di atas juga memikirkan dampaknya kepada warga di bawah. Setiap hujan turun sekarang warga merasa khawatir,” ujarnya.

 

Saat ini warga berharap pemerintah daerah dapat melakukan peninjauan lapangan serta kajian terhadap kondisi kawasan hulu guna mencegah potensi banjir dan longsor yang lebih besar di masa mendatang.

 

(Bet)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses