Hallonusantara.com || Cianjur — Harga daging Cianjur jelang Idul Fitri melonjak tajam dan memicu keluhan luas di tengah masyarakat. Berdasarkan pantauan media di Pasar GSP, Desa Cibadak, Kecamatan Sukaresmi, Kabupaten Cianjur, harga daging sapi menembus Rp170.000 per kilogram, dua hari menjelang Hari Raya Idul Fitri.
Lonjakan harga daging di Pasar GSP Sukaresmi Cianjur dinilai tidak wajar oleh masyarakat karena kenaikannya jauh melampaui tren tahun sebelumnya. Kondisi ini berdampak langsung pada daya beli warga, terutama ibu rumah tangga yang harus memenuhi kebutuhan pokok menjelang Lebaran.
Keluhan warga terkait harga daging mahal di Cianjur mengemuka saat awak media melakukan wawancara di lokasi, Kamis (19/3/2025). Warga menyebut kenaikan harga tahun ini sebagai yang tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.
“Harga daging Rp170 ribu per kilo di Cianjur ini di luar dugaan. Tahun sebelumnya paling tinggi hanya Rp140 ribu sampai Rp145 ribu. Sekarang naik sangat drastis,” ujar Siti (43), warga Sukaresmi.
Beban ekonomi warga akibat harga daging tinggi di Cianjur semakin terasa seiring meningkatnya kebutuhan jelang Idul Fitri. Sejumlah keluarga mengaku harus menyesuaikan anggaran belanja bahkan mengurangi konsumsi daging.
“Biasanya kami sudah siapkan anggaran Lebaran, tapi dengan kondisi sekarang jadi harus dikurangi. Bahkan ada yang akhirnya tidak beli daging sama sekali,” kata Yani (35), ibu rumah tangga.
Minimnya pengawasan harga pasar oleh pemerintah di Cianjur menjadi sorotan tajam masyarakat. Warga menilai lemahnya kontrol dari instansi terkait membuat harga kebutuhan pokok, khususnya daging, melonjak tanpa kendali di momen krusial seperti menjelang Idul Fitri.
“Seharusnya ada pengawasan rutin dari pemerintah. Kalau tidak dikontrol, harga bisa naik seenaknya. Ini sangat memberatkan masyarakat kecil,” ungkap Dedi (38), salah satu pembeli.
Dampak kenaikan harga daging terhadap daya beli masyarakat Cianjur terlihat dari perubahan pola konsumsi warga. Sebagian masyarakat kini memilih mengurangi jumlah pembelian atau beralih ke bahan pangan alternatif yang lebih terjangkau.
“Kalau dulu bisa beli dua kilo, sekarang satu kilo saja sudah berat. Banyak juga yang akhirnya beralih ke ayam atau bahan lain,” ujar Lina (40), warga lainnya.
Harapan warga terhadap stabilisasi harga daging di Cianjur jelang Idul Fitri kini tertuju pada langkah konkret pemerintah daerah. Masyarakat mendesak adanya operasi pasar, inspeksi mendadak (sidak), serta pengawasan intensif agar harga tetap terkendali dan kebutuhan pokok dapat dijangkau seluruh lapisan masyarakat.
(Bet)













