Hallonusantara.com || CIANJUR — Ratusan hektare sawah milik petani di Kecamatan Ciranjang, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, mengalami gagal panen massal akibat serangan penyakit tanaman padi dan hama burung pipit. Kondisi tersebut menyebabkan kerugian besar bagi petani serta mengancam produktivitas pangan lokal.Selasa.(20/1)
Lahan pertanian yang terdampak tersebar di Kampung Pasirangin, Babakan Pasirmalaka, Pasirkunci, dan Pasirsasaungan, Desa Nanggalamekar. Para petani terdampak tergabung dalam Kelompok Tani Anugrah Babakansari Malakasari serta kelompok tani lainnya di wilayah tersebut.
Berdasarkan keterangan petani, gangguan tanaman mulai muncul sejak padi berusia sekitar 45 hari setelah tanam. Serangan penyakit menyebabkan tanaman tumbuh kerdil dan tidak berkembang optimal. Kondisi tersebut berlanjut hingga masa pembentukan bulir.
Memasuki usia sekitar 75 hari setelah tanam, ribuan burung pipit menyerang hamparan sawah secara bersamaan. Serangan hama burung tersebut menghabiskan bulir padi yang mulai berisi, sehingga sebagian besar lahan tidak dapat dipanen.
Teten (50), petani Kampung Pasirangin, menyebut sawah garapannya seluas sekitar satu hektare mengalami gagal panen total. Padahal, pada musim tanam normal, lahan tersebut mampu menghasilkan hingga 7–8 ton gabah.
“Biasanya panen bisa sampai delapan ton. Sekarang, setelah terserang penyakit dan burung pipit, tidak ada hasil sama sekali,” ujarnya.
Ia menjelaskan, petani telah berupaya melakukan berbagai langkah pengendalian, seperti penyemprotan pestisida dan pemasangan alat pengusir hama. Namun, serangan burung pipit dalam jumlah besar membuat upaya tersebut tidak efektif.
“Kami sudah berusaha, tapi burung datang berkelompok. Ada yang pakai jaring, masih bisa panen sedikit, tapi tidak sebanding dengan biaya,” kata Teten.
Kepala Desa Nanggalamekar, Hilman, membenarkan terjadinya gagal panen yang meluas di wilayahnya. Menurutnya, ratusan hektare sawah warga terdampak oleh kombinasi penyakit tanaman dan serangan hama burung.
“Ini bukan hanya satu atau dua petani, tetapi hampir di semua kampung di desa kami,” ujarnya.
Hilman menilai salah satu faktor yang memperparah serangan hama adalah pola tanam padi yang tidak dilakukan secara serempak, sehingga siklus hama tidak terputus.
“Kalau tanam tidak serentak, hama akan terus berpindah. Idealnya memang tanam serempak agar pengendalian lebih efektif,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, Perkebunan, dan Ketahanan Pangan (DTPHPKP) Kabupaten Cianjur, Ahmad Danial, mengatakan pihaknya telah menerima laporan gagal panen di Ciranjang dan mulai melakukan penanganan awal.
“Penyuluh pertanian dan Petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) sudah kami turunkan ke lapangan untuk mengecek langsung kondisi sawah petani,” ujarnya saat dikonfirmasi.
Selain menelusuri penyebab kerusakan tanaman, DTPHPKP juga melakukan pendataan terkait kepesertaan petani dalam program asuransi usaha tani padi.
“Kami akan pastikan penyebabnya, termasuk apakah petani mengikuti asuransi pertanian. Dari hasil itu, baru ditentukan langkah penanganan yang bisa dilakukan,” kata Ahmad Danial.
Ia menambahkan, evaluasi pendampingan penyuluh dan POPT akan dilakukan secara menyeluruh di seluruh wilayah Kabupaten Cianjur, tidak hanya di Kecamatan Ciranjang.
“Evaluasi ini penting agar kejadian gagal panen akibat hama dan penyakit tanaman tidak terus berulang,” pungkasnya.
(Bet)













