Organisasi

Yudi T Sunardja Bersama Sayyid M. Iqbal Rahman, Berjuang Melawan Keserakahan Dan Pembunuhan Karakter Yang Diciptakan Didalam Lembaga

130
×

Yudi T Sunardja Bersama Sayyid M. Iqbal Rahman, Berjuang Melawan Keserakahan Dan Pembunuhan Karakter Yang Diciptakan Didalam Lembaga

Sebarkan artikel ini

Hallonusantara.com || SUMEDANG – Dalam kehidupan sosial, karakter merupakan gambaran/cerminan keberadaan seseorang dan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari identitas dan citra diri yang diperlihatkan kepada dunia.

Pembunuhan karakter atau perusakan reputasi adalah upaya terencana untuk merusak citra dan integritas seseorang di mata publik. Praktik ini seringkali melibatkan pernyataan berlebihan, penyebaran informasi yang tidak akurat, atau memanipulasi fakta untuk menciptakan kesan negatif tentang targetnya.

Bentuk pembunuhan karakter dengan mencemarkan nama baik yang berfokus pada serangan terhadap individu, yang dapat terjadi melalui pengadilan massa atau media, dimana massa atau media massa menyebarkan tuduhan tanpa verifikasi dan seringkali dengan tujuan menjatuhkan reputasi seseorang untuk memenangkan persaingan atau mencapai kepentingan pribadi dan kelompok tertentu.

Hal diatas, saat ini sedang dialami oleh Yudi T Sunardja dan Sayyid M.Iqbal Rahman. Yudi T Sunardja adalah kader di salah satu lembaga yang berposisi sebagai panglima yang sudah mengabdi sekitar 17 tahun dan diberhentikan di kelembagaan dengan tuduhan korupsi dan diisukan telah menyimpang dari konsep Pancasila. Sedangkan Sayyid M. Iqbal Rahman adalah anak sulung ketua umum lembaga dari istri pertama nya ( bukan hasil pertikahan bersama Azizah ) yang saat ini berprofesi sebagai lowyer, di tuduh sebagai penghianat karena membela Yudi.

Diceritakan Yudi, pada saat menjadi panglima di lembaga sebelum pemberhentian terhadap dirinya, Ketua Umum lembaga Muhammad Fauzan Rahman yang saat ini menikahi Azizah Talita Dewi kondisinya sedang sakit dan menugaskan dia untuk menjalankan program kelembagaan agar berjalan sebagaimana mestinya.

” Saat itu ketua umum kondisinya sedang sakit, dan saya sebagai panglima diberikan mandat untuk menjalankan program kelembagaan,” ucap Yudi, saat dikonfirmasi media.

Dalam menjalankan program di lembaga, Yudi berhasil menciptakan berbagai progres yang mampu menyerap potensi finansial dalam bentuk pendampingan terhadap masyarakat maupun bentuk yang lainnya, seperti halnya yang terjadi di Jatigede, Sumedang.

” Selama menjalankan program kelembagaan, kita ciptakan dan kembangkan berbagai aktivitas positif, baik dalam hal kontrol sosial maupun pendampingan terhadap masyarakat yang memerlukan pembelaan dalam mempertahankan dan mendapatkan hak-haknya,” ucap Yudi.

Dalam menjalankan program kelembagaan, Yudi menciptakan berbagai progres dan berhasil membuat mou – mou yang mampu menyerap potensi finansial yang signifikan, dan tak pernah berprasangka buruk terhadap orang lain.

” Dalam menciptakan semua itu, saya tidak pernah berprasangka buruk terhadap orang lain, karena dalam kelembagaan sebuah keberhasilan nantinya akan dirasakan oleh bersama,” katanya.

” Dan yang terbersit dalam pikiran saya adalah bagaimana kita mendapatkan kesejahteraan bersama dan bagaimana caranya agar ketua umum sembuh. Karena saya sudah menganggap ketua umum itu sebagai guru dan orang tua yang telah memberikan pelajaran-pelajaran yang sangat berharga dan menjalankan prinsip hidup,” tutur Yudi.

Selama sekian tahun Yudi mengabdi dan berjuang bersama di lembaga memupuk dalam menciptakan hal-hal yang positif, dan saat ini tat kala akan memetik buahnya terpaan datang melanda, Yudi didepak di lembaga dan dituduh sebagai orang yang korup.

” Saya di depak, dan di tuduh korup dan diisukan telah menyimpang dari konsep Pancasila, yang lebih sakit lagi anak ketua umum dituduh penghianat, karena membela saya,” jelas Yudi.

Ini bukan akhir dari segalanya, lanjut Yudi dengan kejadian ini tentu pihaknya akan melawan demi terciptanya kebenaran yang sebenarnya dan demi terwujudnya keadilan.

Yudi meyakini, kejadian ini pasti ada aktor intelektual yang mendalangi, memanfaatkan situasi dan keadaan dengan cerita-cerita yang berbanding terbalik, karena ketua umum sedang sakit. Dan Yudi pun menyadari, bahwa tidak semua orang senang dan sejalan dengan apa yang telah kita perbuat.

” Mungkin ini sudah skenario dari Alloh SWT, dan musti kita jalankan,” ujar Yudi.

” Namun, bukan artian kita pasrah, saya berpendapat bahwa perilaku yang dilontarkan kepada saya ini merupakan sebuah bentuk kejahatan dan ada maksud tertentu dibalik semua ini. Saya harus tetap berjuang untuk mempertahankan apa yang telah kita perjuangkan apalagi dalam membela hak-hak masyarakat,” tandasnya.

” Untuk proses hukum yang dituduhkan, kita hadapi sesuai dengan langkah-langkah hukum yang berlaku. Kita harus melawan kemungkaran dan keserakahan, pertahankan hak yang telah kita kerjakan, pertahankan hak-hak masyarakat yang seharusnya mereka terima. Jangan sampai Sumedang dirusak dan diobok-obok oleh oknum yang tidak bertanggungjawab. Mereka tidak tau perjalanan yang telah dilakukan selama bertahun-tahun. Sekarang tinggal menuai hasil, mereka dengan seenaknya dan begitu mudahnya mau merampas hak kita dan masyarakat,” tegasnya.

” Semoga peradilan mampu menjaga marwahnya, sehingga keadilan dan kebenaran bisa ditegakkan,” ungkapnya.

Dengan peristiwa ini Yudi berharap, menghimbau bahkan mengajak, agar masyarakat khususnya di Sumedang untuk membuka mata, telinga dan hati dalam menyikapi permasalahan. Jangan sampai terintimidasi dan provokasi, dengan isme-isme yang dihembuskan dan diciptakan pihak luar yang tidak tahu hal yang sebenarnya terjadi. Jangan karena diiming-imingi hal kecil lantas kehilangan hal yang besar, yang mengakibatkan kita diadu dombakan. Kita orang Sumedang harus menjaga dan mempertahankan aset yang ada di Sumedang yang musti dikelola dan dinikmati oleh masyarakat Sumedang.

” Jangan dilihat dari bajunya, tapi lihat orangnya yang telah berjuang untuk membela hak-hak masyarakat dalam memperjuangkan kepentingan bersama dijalan yang benar. Jangan sampai kita diperalat dengan hal kecil lantas kehilangan hal yang besar, mari berjuang bersama demi keutuhan Sumedang jangan sampai hak masyarakat Sumedang dirampas oleh oknum yang tidak bertanggungjawab,” harap Yudi.

Sementara, Sayyid M. Iqbal Rahman menyatakan, bahwa dia akan berjuang bersama panglima sapaan akrab Yudi T Sunardja, dalam menegakkan kebenaran dan keadilan.

“Bahwa bapak saya dalam keadaan sakit jadi tidak bisa berpikir dengan jernih mana yg fakta sebenarnya dan mana yg di rekayasa,” ungkap Iqbal.

” Menyikapi permasalahan ini, sebagai anak ketua umum tentunya saya akan membela yang benar, dan kita akan ungkap kebenarannya melalui jalur hukum yang berlaku supaya keadilan di Indonesia dapat tegak lurus,” tegas Iqbal.

(A HD)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses