Peristiwa

Bocah 11 Tahun Ditemukan Tewas Mengambang di Irigasi Bojongpicung, Polisi Selidiki Penyebab Kematian

5
×

Bocah 11 Tahun Ditemukan Tewas Mengambang di Irigasi Bojongpicung, Polisi Selidiki Penyebab Kematian

Sebarkan artikel ini

Hallo Nusantara|| Cianjur – Warga Desa Sukajaya, Kecamatan Bojongpicung, Kabupaten Cianjur, digegerkan oleh penemuan jasad seorang bocah berusia 11 tahun yang mengambang di saluran irigasi induk, Sabtu, 6 Juni 2026. Korban ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa sekitar pukul 10.30 WIB.

Korban diketahui berinisial F, 11 tahun, warga Kampung Ciseupan, RT 006/RW 001, Desa Sukajaya. Penemuan jasad bocah tersebut pertama kali dilaporkan warga yang kemudian meneruskan informasi kepada aparat desa dan kepolisian.

Penjabat Sementara Kepala Desa Sukajaya, Deki Afrianto, mengatakan pihak desa segera bergerak ke lokasi setelah menerima laporan dari perangkat desa dan pengurus lingkungan setempat.

“Kami menerima informasi dari RT dan RW mengenai adanya anak yang ditemukan mengambang di saluran irigasi. Setelah dicek ke lokasi, informasi tersebut benar,” kata Deki saat dikonfirmasi.

Kejadian itu sontak menarik perhatian warga yang berkerumun di sekitar lokasi. Tidak lama berselang, petugas Polsek Bojongpicung bersama Tim Identifikasi Forensik (Inafis) Polres Cianjur mendatangi tempat kejadian perkara untuk melakukan pemeriksaan awal.

Setelah proses identifikasi selesai, jasad korban dievakuasi dan dibawa ke RSUD Cianjur guna menjalani pemeriksaan medis.

Menurut Deki, hasil pemeriksaan awal yang diterimanya dari pihak berwenang menyebutkan tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban.

“Berdasarkan informasi yang kami terima, tidak ada indikasi kekerasan. Dugaan sementara korban meninggal akibat tenggelam setelah tercebur ke saluran irigasi,” ujarnya.

Kapolsek Bojongpicung, IPTU Muchtaromi, membenarkan peristiwa tersebut. Polisi masih mengumpulkan keterangan sejumlah saksi untuk memastikan kronologi kejadian sebelum korban ditemukan meninggal dunia.

“Kami masih melakukan penyelidikan dan meminta keterangan dari saksi-saksi. Dugaan sementara korban tenggelam di saluran irigasi,” kata Muchtaromi.

Polisi juga sempat menawarkan autopsi guna memastikan penyebab kematian secara ilmiah. Namun, keluarga korban menolak tindakan tersebut dan telah menandatangani surat pernyataan resmi penolakan autopsi.

Dengan tidak dilakukannya autopsi, penyelidikan kepolisian akan bertumpu pada hasil pemeriksaan luar jenazah, olah tempat kejadian perkara, serta keterangan para saksi yang berada di sekitar lokasi sebelum dan saat korban ditemukan.

Peristiwa ini kembali menjadi pengingat tentang potensi bahaya saluran irigasi yang melintasi permukiman warga. Minimnya pengamanan di sejumlah titik irigasi masih menjadi ancaman bagi keselamatan anak-anak yang beraktivitas di sekitar area tersebut.

(Bet)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses