Hallonusantara.com || CIANJUR – Tim verifikasi Lomba Wana Lestari Tingkat Nasional menilai pengelolaan Hutan Desa Ciloto, Kecamatan Cipanas, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, Selasa, 7 Juli 2026. Penilaian dilakukan pada kategori Persetujuan Pengelolaan Hutan Desa (PPHD) sebagai bagian dari proses penentuan wakil terbaik tingkat nasional.
Verifikasi lapangan difokuskan pada efektivitas pengelolaan hutan desa dalam menjaga kelestarian kawasan, mencegah degradasi hutan, serta mendorong manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar.
Ketua LPHD Desa Ciloto, Anwar, mengatakan pengelolaan hutan desa tidak hanya berorientasi pada pemenuhan persyaratan administrasi, tetapi juga diwujudkan melalui program konservasi yang melibatkan masyarakat.
Menurut dia, masyarakat dilibatkan secara langsung dalam pengelolaan kawasan melalui kegiatan patroli rutin, rehabilitasi lahan, dan penanaman pohon. Patroli kawasan dilakukan setiap Kamis untuk mengantisipasi perambahan dan gangguan keamanan hutan, sedangkan gerakan penanaman dilaksanakan setiap Jumat sebagai bagian dari upaya pemulihan tutupan lahan.
“Kami sedang menyiapkan lubang tanam. Pada Oktober nanti kami menargetkan penanaman 11.260 pohon bekerja sama dengan Yayasan Konservasi Indonesia Endemik,” kata Anwar.
Ia menjelaskan, jenis pohon yang akan ditanam didominasi spesies endemik, seperti damar, rasamala, kondang, dan aren. Selain tanaman konservasi, program tersebut juga mencakup tanaman agroforestri, termasuk kopi, sebagai upaya meningkatkan nilai ekonomi masyarakat tanpa mengurangi fungsi ekologis kawasan.
Anwar menilai pelestarian hutan harus menjadi prioritas sebelum kawasan dikembangkan untuk kegiatan ekonomi lain.
“Kalau hutannya sudah lestari dan tertata, baru bisa dikembangkan menjadi kawasan wisata alam berbasis konservasi,” ujarnya.
Dalam kesempatan yang sama, Wakil Bupati Cianjur, Ramzi Geys Thebe, mengatakan pengelolaan Hutan Desa Ciloto dinilai layak mewakili Jawa Barat pada ajang nasional karena telah menunjukkan hasil yang nyata, bukan sekadar memenuhi indikator perlombaan.
Menurut Ramzi, sistem pengelolaan yang diterapkan telah berlangsung cukup lama sehingga membentuk ekosistem yang dinilai mampu menjaga fungsi hutan sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
“Yang dinilai bukan hanya administrasi. Faktanya, pengelolaan di sini sudah berjalan baik dan manfaat ekonominya mulai dirasakan masyarakat,” kata Ramzi.
Ia berharap capaian tersebut dapat dipertahankan melalui peningkatan kualitas pengelolaan serta penguatan kolaborasi antara masyarakat, pemerintah daerah, dan pemangku kepentingan lainnya.
Verifikasi lapangan menjadi salah satu tahapan penting dalam penilaian Lomba Wana Lestari Tingkat Nasional. Tim penilai tidak hanya memeriksa dokumen administrasi, tetapi juga mengevaluasi implementasi pengelolaan hutan di lapangan, termasuk upaya perlindungan kawasan, rehabilitasi lahan, pelibatan masyarakat, dan keberlanjutan program konservasi.
(Bet)














