Hallonusantara.com || CIANJUR — Ancaman bencana tanah longsor dan pergerakan tanah terus menghantui wilayah Desa Rawabelut, Kecamatan Sukaresmi, Kabupaten Cianjur. Pemerintah desa mencatat sejumlah titik rawan longsor tersebar di beberapa dusun, bahkan sebagian sudah berdampak pada permukiman warga.
Kepala Desa Rawabelut, Syarif Hidayat, S.IP, mengungkapkan kondisi geografis desa yang didominasi lahan bergerak membuat wilayah tersebut hampir setiap tahun mengalami bencana serupa.
“Kalau berbicara titik rawan longsor di Desa Rawabelut ini cukup banyak. Hampir di semua dusun ada potensi pergerakan tanah. Namun yang paling parah berada di Dusun 3 dan Dusun 4,” ujar Syarif saat diwawancarai di kantor desa, Kamis (23/4/2026).
Longsor Besar dan Pohon Tumbang Tutup Jalur Utama Desa
Peristiwa longsor besar terjadi pada 15–16 April 2026. Longsor disertai pohon tumbang milik Perhutani menutup jalur utama Puncak Simun menuju Kantor Desa Rawabelut.
Menurut Syarif, longsor tersebut sempat menghambat aktivitas masyarakat sebelum akhirnya dibersihkan secara gotong royong bersama warga dan pihak Perhutani.
“Longsor besar disertai pohon tumbang terjadi di jalur utama desa. Alhamdulillah sebagian sudah ditangani bersama masyarakat dan Perhutani, meski sampai sekarang proses penanganan belum sepenuhnya selesai,” katanya.
Pergerakan Tanah Ancam Jalur Strategis
Selain longsor, pergerakan tanah sepanjang sekitar 40 meter juga terjadi di Dusun 4 yang merupakan jalur menuju kantor desa.
Kondisi ini dinilai sangat berbahaya karena jalur tersebut merupakan akses utama mobilitas warga.
“Tanah di pinggir jalan terus bergerak. Ini harus segera ditangani secara intensif karena merupakan jalur utama masyarakat,” jelasnya.
Empat Rumah Warga Mengalami Keretakan
Dampak bencana juga dirasakan warga. Setidaknya empat rumah dilaporkan mengalami kerusakan serius akibat pergerakan tanah.
Rinciannya:
Dusun 3 Kampung Cipeteuy: dua rumah mengalami retakan dan sebagian tanah di sekitarnya longsor.
Dusun 2: dua rumah rusak parah, masing-masing di Kampung Gunung Hawu dan Kampung Lembur Kandang.
“Sebagian warga sementara mengungsi ke rumah keluarga. Ada juga yang tetap tinggal karena keterbatasan tempat,” ujar Syarif.
Selain rumah yang sudah rusak, beberapa rumah di Dusun 4 juga dilaporkan berada dalam kondisi terancam longsor.
BPBD Sudah Turun, Bantuan Belum Terealisasi
Pemerintah desa mengaku telah melaporkan kondisi tersebut kepada pemerintah daerah dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).
BPBD bahkan telah melakukan peninjauan langsung ke lokasi pada akhir pekan lalu.
“Laporan sudah kami sampaikan dan BPBD sudah datang melihat kondisi di lapangan. Namun sampai sekarang bantuan untuk masyarakat terdampak belum ada,” katanya.
Desa Siapkan Kantor Desa Jadi Tempat Pengungsian
Sebagai langkah antisipasi, pemerintah desa menyiapkan beberapa lokasi pengungsian darurat, termasuk fasilitas kantor desa.
Namun hingga saat ini warga masih memilih tinggal di rumah keluarga masing-masing.
“Kami siapkan rumah kerabat warga dan fasilitas kantor desa sebagai tempat pengungsian jika kondisi memburuk,” kata Syarif.
Ia menegaskan bahwa Desa Rawabelut merupakan wilayah yang sejak lama dikenal sebagai zona rawan longsor dan pergerakan tanah, sehingga diperlukan perhatian serius dari pemerintah daerah.
“Bencana seperti ini hampir setiap tahun terjadi. Karena itu perlu penanganan serius agar tidak semakin membahayakan warga,” pungkasnya.
(Bet)













