Daerah

Bukit Cadas Gantung Digunduli, Kampung Cibuntu Terancam: Warga Tuding Aktivitas di Puncak Simun Picu Pergerakan Tanah

28
×

Bukit Cadas Gantung Digunduli, Kampung Cibuntu Terancam: Warga Tuding Aktivitas di Puncak Simun Picu Pergerakan Tanah

Sebarkan artikel ini

Hallonusantara.com || Cianjur — Ancaman bencana tanah bergerak di Kampung Cibuntu RT 01/RW 01, Desa Cibanteng, Kecamatan Sukaresmi, Kabupaten Cianjur kian mengkhawatirkan. Warga menilai pergerakan tanah yang terus meluas diduga berkaitan dengan aktivitas pembukaan lahan, perkebunan, hingga pembangunan saung wisata di kawasan Cadas Gantung–Guling Munding, Puncak Simun, yang berada tepat di atas permukiman mereka.

Pergerakan tanah di wilayah tersebut sudah berlangsung selama dua tahun terakhir dan terus menunjukkan peningkatan signifikan sejak November 2025 hingga April 2026. Kondisi retakan tanah semakin melebar dan dalam, sementara ancaman longsor besar terus membayangi warga.

Kepala Desa Cibanteng, Muryani, Kamis (23/4/2026), mengakui hingga saat ini belum ada penanganan permanen dari pemerintah terkait bencana pergerakan tanah di Kampung Cibuntu.

“Upaya yang sudah dilakukan baru sebatas penanaman dan pemasangan bronjong sekitar 40 unit. Setelah itu sampai sekarang belum ada tindak lanjut lagi,” ujar Muryani saat diwawancarai di kantor desa.

Ia menjelaskan pemerintah desa telah berupaya menyampaikan persoalan tersebut kepada pemerintah kecamatan dan anggota dewan saat masa reses. Namun rencana pembangunan penahan longsor belum dapat direalisasikan karena terbentur persoalan anggaran.

“Dari informasi pihak kecamatan, pembangunan penahan longsor membutuhkan anggaran lebih dari Rp1 miliar. Sementara dana desa tidak mampu menutup kebutuhan sebesar itu,” katanya.

Kerusakan di lokasi longsor pun semakin mengkhawatirkan. Bentangan longsoran di badan jalan diperkirakan mencapai sekitar 45 meter dengan kedalaman hingga 15 meter, yang berpotensi memutus akses jalan sekaligus mengancam permukiman warga di bawahnya.

Mandor wilayah Kampung Cibuntu, Jaelani, mengatakan pergerakan tanah terjadi hampir setiap hari dan kini mulai merembet ke beberapa titik lain di sekitar kampung.

“Pergerakan tanah terus berjalan. Bukan hanya di satu titik, tapi sudah merembet ke arah perbatasan Kubang. Apalagi sekarang curah hujan sedang ekstrem, retakan di jalan juga sudah mulai terlihat,” ujarnya.

Menurutnya, kedalaman retakan tanah kini sudah mencapai sekitar satu meter di beberapa titik, yang menunjukkan kondisi tanah semakin tidak stabil.

“Kalau dibiarkan, ini bisa semakin besar. Di satu RT saja ada sekitar 97 kepala keluarga yang terancam,” katanya.

Ketua RT setempat, Endah Yusuf Supriadi, menegaskan warga semakin khawatir karena kampung tersebut sebelumnya sudah beberapa kali mengalami longsor.

“Warga di sini sudah tiga kali mengalami longsor dan harus mengungsi. Jangan sampai kejadian seperti itu terulang lagi,” ujarnya.

Ia juga menyoroti kondisi kawasan perbukitan di atas kampung, yakni di area Bukit Cadas Gantung–Guling Munding, Puncak Simun, yang disebut mulai mengalami pembukaan lahan dan aktivitas perkebunan.

“Bukit di atas kampung itu sudah mulai digunduli untuk kebun dan ada bangunan saung. Kalau kondisi itu terus dibiarkan, kami khawatir dampaknya langsung ke Kampung Cibuntu,” katanya.

Keluhan keras juga disampaikan Jajang (63), warga Kampung Cibuntu yang menilai aktivitas di kawasan puncak justru memperbesar ancaman bencana bagi warga yang tinggal di bawahnya.

“Saya sudah melihat sendiri ke atas. Di sana sudah ada kebun dan saung yang dibangun. Padahal kemiringannya mengarah langsung ke kampung kami,” ujar Jajang.

Ia meminta pemerintah segera menghentikan aktivitas pembangunan maupun perkebunan di kawasan tersebut dan mengembalikan fungsi kawasan seperti semula.

“Kalau mau menyelamatkan kampung ini, kawasan di atas harus ditutup. Kembalikan lagi menjadi hutan pinus seperti dulu. Jangan sampai orang menikmati wisata di atas, sementara warga di bawah hidup dalam ancaman longsor,” tegasnya.

Saat ini sedikitnya 97 kepala keluarga di Kampung Cibuntu hidup dalam bayang-bayang bencana. Warga berharap pemerintah daerah segera mengambil langkah tegas terhadap aktivitas di kawasan puncak serta mempercepat penanganan longsor sebelum bencana besar benar-benar terjadi.

(Bet)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses