Hallonusantara.com || CIANJUR — Bencana longsor dan pergerakan tanah yang terjadi sejak pertengahan April 2026 tidak hanya mengancam permukiman warga, tetapi juga merusak infrastruktur jalan di Desa Rawabelut, Kecamatan Sukaresmi, Kabupaten Cianjur.
Pemerintah desa memperkirakan sekitar tiga kilometer ruas jalan desa mengalami kerusakan akibat longsor dan luapan air setelah hujan deras.
Kepala Desa Rawabelut Syarif Hidayat, S.IP mengatakan kerusakan terjadi di beberapa titik dan tersebar di hampir seluruh dusun.
“Kalau dihitung keseluruhan, jalan yang rusak akibat longsor dan pergerakan tanah itu sekitar tiga kilometer,” ujarnya, Kamis (23/4/2026).
Jalur Puncak Simun–Kantor Desa Paling Parah
Kerusakan paling parah terjadi di jalur Puncak Simun menuju Kantor Desa Rawabelut yang merupakan akses utama aktivitas warga.
Di jalur tersebut terdapat kerusakan sepanjang sekitar 1,5 kilometer akibat longsor dan pergerakan tanah.
Selain itu:
Dusun 4 mengalami kerusakan jalan hampir 1 kilometer.
Dusun 3 dan Dusun 2 masing-masing sekitar 500 meter.
“Jalur itu sangat penting bagi warga karena menjadi akses utama kegiatan sehari-hari,” kata Syarif.
Jalan Putus Sempat Lumpuhkan Akses Dusun
Salah satu kejadian paling serius terjadi di Dusun 3 Kampung Cipeteuy ketika jalan desa sempat putus total sehingga kendaraan roda dua maupun roda empat tidak dapat melintas.
Melalui kerja bakti warga, jalur tersebut akhirnya dapat dibuka kembali secara darurat.
“Sekarang sudah bisa dilalui, tetapi kondisinya masih sementara. Jalan itu harus segera dicor kembali,” jelasnya.
Drainase Tersumbat Picu Kerusakan Jalan
Kerusakan jalan juga diperparah oleh drainase tersumbat sehingga air meluap ke badan jalan.
Salah satu contohnya terjadi di Dusun Cipari, di mana jalan hotmix yang dibangun pada 2023 rusak setelah gorong-gorong tidak berfungsi.
“Air meluap ke jalan karena gorong-gorong tersumbat. Akhirnya jalan yang sebelumnya bagus ikut rusak,” kata Syarif.
Aktivitas Ekonomi Warga Terancam
Kerusakan jalan berdampak langsung pada aktivitas ekonomi masyarakat yang mayoritas bekerja sebagai petani sayuran.
Setiap hari warga harus mengangkut hasil panen melewati jalur tersebut menuju pasar.
“Petani setiap hari bolak-balik membawa hasil panen. Kalau jalan rusak, aktivitas ekonomi masyarakat pasti terganggu,” ujarnya.
Selain itu, jalur tersebut juga menjadi akses ambulans desa yang kerap mengantar warga ke rumah sakit.
“Ambulans bisa sampai empat sampai lima kali sehari keluar desa. Kalau jalan terputus, pelayanan kesehatan juga terganggu,” tambahnya.
Perbaikan Terkendala Keterbatasan Anggaran
Meski pemerintah desa bersama masyarakat telah melakukan penanganan darurat seperti menutup jalan dengan karung tanah dan kerja bakti, perbaikan permanen masih terkendala anggaran.
Menurut Syarif, dana desa yang tersedia belum cukup untuk memperbaiki seluruh kerusakan infrastruktur akibat bencana.
“Kami baru bisa melakukan penanganan darurat. Untuk perbaikan permanen membutuhkan anggaran besar,” katanya.
Pemerintah desa berharap pemerintah daerah segera turun tangan membantu penanganan infrastruktur agar akses transportasi masyarakat tidak semakin terisolasi.
“Kalau tidak segera diperbaiki, dampaknya bisa lebih luas bagi aktivitas masyarakat,” pungkasnya.
(Bet)













