Hallonusantara.com || Cianjur — Fenomena banjir yang mulai muncul di kawasan dataran tinggi Kabupaten Cianjur memicu alarm serius. Pemerintah daerah menilai perubahan besar pada tata guna lahan di wilayah hulu lereng Gunung Gede Pangrango menjadi salah satu faktor yang mempercepat meningkatnya risiko bencana hidrologi di wilayah hilir.
Bupati Cianjur Wahyu Ferdian menegaskan bahwa banjir yang kini mulai terjadi di kawasan dataran tinggi merupakan sinyal bahaya terhadap kondisi lingkungan di kawasan pegunungan.
“Di wilayah dataran tinggi Cianjur mulai terjadi banjir. Ini tentu sangat mengkhawatirkan dan menjadi perhatian serius pemerintah daerah,” kata Wahyu saat diwawancarai di kawasan Puncak Ciloto, Desa Ciloto, Kecamatan Cipanas, Jumat (8/5/2026).
Kajian Lingkungan Ungkap Dampak Serius Perubahan Fungsi Lahan
Berdasarkan kajian yang dilakukan pemerintah daerah, salah satu penyebab utama meningkatnya potensi banjir adalah perubahan fungsi lahan di kawasan hulu. Lahan yang sebelumnya ditanami tanaman keras seperti kopi dan teh kini banyak berubah menjadi lahan perkebunan sayuran.
Perubahan tersebut dinilai mengurangi kemampuan tanah menyerap air hujan. Tanaman keras yang memiliki sistem akar kuat sebelumnya berfungsi menahan air dan menjaga kestabilan tanah, sementara tanaman semusim seperti sayuran tidak mampu menjalankan fungsi ekologis yang sama.
“Alih fungsi lahan dari tanaman keras menjadi perkebunan sayuran menjadi faktor yang paling menonjol dalam kajian kami,” ujar Wahyu.
Pemerintah daerah juga menyebut Pemerintah Provinsi Jawa Barat tengah melakukan langkah penanganan melalui pengkajian ulang tata ruang serta penguatan pengelolaan kawasan hulu.
Langkah tersebut diharapkan dapat memperbaiki tata kelola lingkungan sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem di kawasan dataran tinggi Cianjur.
Warga Soroti Perubahan Drastis Kondisi Lingkungan
Koordinator Bidang Pertanian Gerakan Surya Kencana 4312 Raksa Jagad, Aryo Prima mengungkapkan perubahan kondisi lingkungan di lereng gunung sangat terasa dibandingkan beberapa dekade lalu.
Ia yang telah tinggal di Kampung Pasir Cina selama hampir tiga dekade mengaku menyaksikan langsung perubahan pola aliran air di wilayah tersebut.
“Sekitar 27 tahun lalu ketika saya pindah dari Jakarta ke Pasir Cina, saluran air tidak pernah meluap. Sekarang got bisa meluap dan arusnya bahkan mampu menghanyutkan orang,” kata Aryo.
Menurutnya, kondisi tersebut tidak terlepas dari pembukaan lahan yang semakin masif di kawasan hulu. Penebangan pohon besar yang kemudian diganti dengan tanaman sayuran dinilai mempercepat aliran air hujan menuju permukiman.
“Pohon besar memiliki akar kuat untuk menyerap air. Ketika diganti tanaman semusim seperti pakcoy, air hujan tidak tertahan dan langsung mengalir deras ke bawah,” ujarnya.
Pengawasan Kawasan Konservasi Dinilai Lemah
Aryo juga meminta pengawasan di kawasan konservasi diperketat, terutama oleh pengelola Taman Nasional Gunung Gede Pangrango.
Ia menilai sejumlah aturan perlindungan lingkungan sebenarnya sudah ada, namun implementasinya di lapangan masih lemah sehingga pembukaan lahan terus terjadi.
“Peraturan sudah ada, tetapi harus diawasi secara serius. Jika pembukaan lahan liar dibiarkan, yang terancam bukan hanya warga di hilir tetapi juga masyarakat di kawasan atas,” katanya.
Selain berdampak pada potensi banjir, perubahan fungsi lahan juga dinilai memicu kerusakan infrastruktur seperti jalan yang semakin sering rusak akibat aliran air hujan yang semakin deras.
Aktivis Lingkungan Soroti Ekspansi Lahan Pertanian
Aktivis lingkungan Cianjur, Kang Kawat menilai secara kasat mata ekspansi lahan pertanian di kawasan kaki gunung semakin mendekati bahkan memasuki wilayah yang semestinya menjadi kawasan konservasi.
“Banjir yang sering terjadi di wilayah Pacet, Cigombong, Ciherang sampai Cipanas diduga kuat berkaitan dengan perubahan fungsi kawasan di wilayah atas Gunung Gede,” ujarnya.
Ia menilai kawasan yang sebelumnya berupa hutan dan perkebunan kini banyak berubah menjadi lahan pertanian sehingga mengurangi kemampuan tanah menahan air hujan.
“Kawasan yang seharusnya menjadi wilayah konservasi kini berubah menjadi ladang. Jika kondisi ini terus dibiarkan, risiko banjir bandang di wilayah hilir akan semakin besar,” tegasnya.
Selain alih fungsi lahan, ia juga menyoroti perkembangan aktivitas pariwisata yang dinilai semakin masif tanpa pengendalian lingkungan yang memadai.
Petani Rasakan Dampak Perubahan Aliran Air
Seorang petani berinisial AD (60) yang telah lama berkebun di wilayah Ciguntur mengaku merasakan langsung perubahan kondisi lingkungan dalam beberapa tahun terakhir.
Menurutnya, ketika hujan deras turun, air dari kawasan atas kini mengalir jauh lebih cepat dibandingkan sebelumnya.
“Kalau dulu air dari atas masih tertahan. Sekarang langsung turun deras ketika hujan besar dan sering merusak kebun di bawah,” kata AD.
Ia juga mengaku mendengar informasi dari sesama petani mengenai adanya pembukaan lahan baru di kawasan atas yang sebelumnya merupakan hutan.
“Informasinya di atas sudah ada pembukaan lahan baru yang dulu hutan lalu dijadikan ladang. Kami yang di bawah akhirnya merasakan dampaknya,” ujarnya.
Seruan Kembalikan Fungsi Kawasan Hulu
Sejumlah aktivis lingkungan menilai persoalan alih fungsi lahan di kawasan lereng gunung harus segera ditangani secara serius. Mereka mendesak agar fungsi kawasan konservasi dikembalikan melalui penghijauan dan perlindungan hutan dari aktivitas pembukaan lahan yang tidak terkendali.
“Pembangunan tidak salah, tetapi harus berwawasan lingkungan. Jika kawasan hulu rusak, maka bencana di wilayah hilir hanya tinggal menunggu waktu,” kata Aryo.
Fenomena banjir di lereng Gunung Gede kini menjadi peringatan bagi pemerintah dan masyarakat bahwa kerusakan kawasan hulu dapat berdampak langsung pada keselamatan warga di wilayah bawah. Para pemerhati lingkungan berharap pengawasan tata ruang dan perlindungan hutan diperkuat agar kerusakan ekosistem tidak semakin meluas.
(Bet)













