DaerahPembangunan

Eks Lahan HGU di Cianjur Disulap Jadi Kebun Kopi Arabika Produktif, Hasilnya Tembus Pasar Jakarta

14
×

Eks Lahan HGU di Cianjur Disulap Jadi Kebun Kopi Arabika Produktif, Hasilnya Tembus Pasar Jakarta

Sebarkan artikel ini

Hallonusantara.com | | Cianjur — Transformasi lahan eks Hak Guna Usaha (HGU) menjadi kawasan produktif terjadi di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Di Kampung Ciguntur, Desa Cipendawa, Kecamatan Pacet, seorang petani lokal mengubah lahan yang sebelumnya tidak produktif menjadi perkebunan kopi arabika dataran tinggi yang kini mulai menghasilkan dan menopang ekonomi warga sekitar.

Pengembangan perkebunan kopi arabika Pacet Cianjur tersebut dilakukan oleh H. Kus (65), petani yang mengelola sekitar dua hektare lahan eks HGU milik PT Tenggara. Kawasan yang berada di ketinggian lebih dari 1.400 meter di atas permukaan laut (mdpl) itu dinilai sangat ideal untuk budidaya kopi arabika berkualitas.

Di lahan tersebut, H. Kus menanam lebih dari 7.000 pohon kopi arabika yang kini mulai memasuki masa produksi. Tanaman kopi membutuhkan waktu sekitar tiga tahun sejak penanaman hingga dapat dipanen secara optimal.

“Dari mulai penanaman sampai panen membutuhkan waktu sekitar tiga tahun,” ujar H. Kus saat ditemui di lokasi perkebunan di Desa Cipendawa, Kecamatan Pacet, Cianjur.Kamis.14/5/2026.

Saat ini, produksi kopi arabika dari lahan mampu mencapai sekitar 40 hingga 50 kilogram per hari pada masa panen. Total produksi yang sudah dihasilkan bahkan mencapai lebih dari tiga kuintal, dan sebagian hasil panen telah dipasarkan hingga ke Jakarta.

Menurutnya, kualitas kopi sangat bergantung pada proses perawatan tanaman. Untuk menjaga kesuburan tanah dan kualitas buah, ia menggunakan pupuk kandang dari kotoran kambing serta melakukan pemangkasan tunas air secara rutin agar pohon tetap produktif.

“Perawatan menjadi kunci utama supaya hasil buah kopi bagus dan pohonnya tetap produktif,” katanya.

Namun demikian, tantangan utama petani kopi di kawasan pegunungan Cianjur masih berkaitan dengan faktor cuaca. Curah hujan yang tinggi kerap memengaruhi kualitas buah kopi, terutama pada saat proses pematangan dan pengeringan.

Untuk menjaga nilai jual, sebagian besar hasil panen dipasarkan dalam bentuk kopi kering. Saat ini harga kopi kering berada di kisaran Rp80 ribu per kilogram dan dapat mencapai Rp140 ribu per kilogram ketika pasokan terbatas. Sementara kopi basah dijual sekitar Rp17 ribu hingga Rp20 ribu per kilogram.

Selain memberikan manfaat ekonomi, keberadaan perkebunan kopi arabika di kawasan Pacet Cianjur juga dinilai berkontribusi terhadap pelestarian lingkungan. Tanaman kopi memiliki kemampuan menahan erosi tanah dan meningkatkan daya serap air di kawasan lereng pegunungan.

“Kopi ini bagus untuk menahan erosi dan menjadi penahan air,” ujar H. Kus.

Pengembangan kebun kopi tersebut juga membuka lapangan kerja bagi warga sekitar. Saat ini sedikitnya empat orang pekerja dilibatkan secara rutin dalam proses perawatan hingga panen.

Melihat potensi tersebut, H. Kus berharap semakin banyak masyarakat memanfaatkan lahan tidak produktif untuk pengembangan perkebunan kopi arabika di Cianjur. Selain memiliki nilai ekonomi yang menjanjikan, budidaya kopi juga dinilai mampu menjaga keseimbangan lingkungan di kawasan pegunungan.

“Kalau dikelola dengan baik, kopi bukan hanya menghasilkan ekonomi, tetapi juga menjaga alam,” katanya.

(Bet)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses