Pendidikan

Anggaran Rp2,5 Miliar Ada, Gedung Tak Pernah Dibangun: 25 Tahun MDTU Al-Mubarokah Cianjur Ajarkan 140 Siswa Duduk di Lantai

78
×

Anggaran Rp2,5 Miliar Ada, Gedung Tak Pernah Dibangun: 25 Tahun MDTU Al-Mubarokah Cianjur Ajarkan 140 Siswa Duduk di Lantai

Sebarkan artikel ini

Hallonusantara.com || Cianjur — Selama 25 tahun beroperasi, Madrasah Diniyah Takmiliyah Ula (MDTU) Al-Mubarokah di Kampung Cigalumpit RT 03/03, Desa Situhiang, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Cianjur, menjalankan proses pendidikan tanpa gedung sekolah dan tanpa mebeler dasar. Hingga akhir 2025, sebanyak 140 siswa masih mengikuti pembelajaran dengan posisi duduk langsung di lantai.

Kondisi tersebut disampaikan Kepala MDTU Al-Mubarokah, Ustadz Zaki, saat dikonfirmasi pada Sabtu (27/12/2025).

“Sampai hari ini kami tidak memiliki bangunan sekolah, meja, maupun kursi. Anak-anak belajar duduk di lantai,” ujarnya.

Kegiatan belajar mengajar dilakukan dengan menumpang di bangunan madrasah. Ketika bangunan tersebut digunakan untuk kegiatan pengajian, proses pembelajaran terhenti dan siswa tidak dapat mengikuti pelajaran.

“Kami tidak punya gedung sendiri. Jika madrasah dipakai pengajian, kegiatan belajar tidak bisa berjalan,” kata Ustadz Zaki.

Fakta di lapangan ini terjadi di tengah kebijakan Pemerintah Kabupaten Cianjur yang sebelumnya menetapkan alokasi anggaran pendidikan keagamaan sebesar 1 persen dari APBD, dengan nilai mencapai sekitar Rp2,5 miliar per tahun. Namun hingga kini, MDTU Al-Mubarokah belum menerima pembangunan fasilitas dasar pendidikan.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, pimpinan MDTU Al-Mubarokah juga menjabat sebagai Wakil Sekretaris P3DTPQ Kecamatan Pagelaran, lembaga yang secara struktural memiliki fungsi pembinaan dan pengembangan pendidikan diniyah dan TPA di tingkat kecamatan.

Selain itu, wilayah Kampung Cigalumpit diketahui pernah dikunjungi oleh Bupati Cianjur. Namun hingga akhir 2025, tidak terdapat pembangunan gedung sekolah, pengadaan meja, maupun kursi belajar di MDTU Al-Mubarokah.

Dampak dari kondisi tersebut dirasakan langsung oleh siswa. Beberapa di antaranya mengeluhkan sakit pinggang, cepat lelah, serta kesulitan berkonsentrasi selama mengikuti pembelajaran.

Ustadz Zaki menegaskan bahwa kendala utama bukan terletak pada ketersediaan lahan.

“Lahan sudah ada. Bahkan ada yang siap dihibahkan. Yang tidak ada adalah anggaran pembangunan,” tegasnya.

Ia juga menyoroti pola pelaksanaan anggaran pendidikan.

“Pembangunan ruang kelas seharusnya disertai pengadaan meja dan kursi. Tanpa itu, kegiatan belajar tetap berlangsung di lantai,” ujarnya.

Hingga berita ini diterbitkan, MDTU Al-Mubarokah yang telah berdiri seperempat abad masih menjalankan pendidikan tanpa gedung sekolah dan tanpa fasilitas belajar yang layak, meskipun alokasi anggaran pendidikan keagamaan tercatat tersedia dan struktur pembinaan kelembagaan telah dibentuk.

(Bet)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses